Penarikan AS dari WHO Mengguncang Tata Kelola Kesehatan Global dan Menguatkan Peran Tiongkok
- Keputusan Amerika Serikat (AS) menarik diri secara resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada akhir Januari 2026 bukan sekadar langkah administratif, melainkan titik balik geopolitik yang mengguncang tata kelola kesehatan global.
Setelah lebih dari tujuh dekade menjadi anggota pendiri dan penyokong utama badan PBB tersebut, Washington kini memilih menjauh dari mekanisme multilateralisme kesehatan yang selama ini membentuk respons dunia terhadap pandemi dan wabah lintas batas.
Langkah ini berawal dari penandatanganan perintah eksekutif oleh Presiden Donald Trump pada 20 Januari 2025, tepat di hari pelantikannya untuk masa jabatan kedua. Meski prosesnya memakan waktu setahun, status keluar AS akhirnya menjadi resmi pada akhir Januari 2026. Hal ini menandai perubahan orientasi kebijakan global Negeri Paman Sam dari kolaborasi multilateral menuju pendekatan yang lebih unilateral.
Seperti dilansir dari The Conversation, Senin (2/2/2026), penarikan AS berpotensi melemahkan kapasitas global dalam mencegah dan menanggulangi penyakit menular, mengatasi resistensi antimikroba, serta merespons krisis kesehatan akibat bencana. Kehilangan donor terbesar WHO ini bukan hanya persoalan anggaran, tetapi juga menyusutnya kepemimpinan ilmiah dan koordinasi lintas negara.
Gedung Putih beralasan bahwa kontribusi finansial AS kepada WHO tidak proporsional dibanding negara lain. Pemerintah Trump mencontohkan bahwa Tiongkok, dengan populasi tiga kali lipat AS menyumbang sekitar 90 persen lebih kecil dari dana yang diberikan Washington. Selain itu, mereka menilai respons WHO terhadap pandemi COVID-19 kurang transparan dan minim akuntabilitas.
Dalam pidatonya di World Health Assembly di Jenewa, Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. menegaskan kritik tajam terhadap lembaga tersebut: “Seperti banyak institusi lama, WHO telah terjebak dalam pembengkakan birokrasi, paradigma yang mengakar, konflik kepentingan, dan politik kekuasaan internasional,” katanya, menilai organisasi itu tak lagi selaras dengan kepentingan kesehatan publik global.
WHO menolak tuduhan tersebut. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan konsekuensi keputusan Washington dengan nada tegas, "Langkah ini akan membuat Amerika Serikat dan dunia menjadi kurang aman," ujarnya menekankan bahwa patogen tidak mengenal batas negara dan membutuhkan koordinasi global.
Dampak langsung sudah terasa. Karena kehilangan ratusan juta dolar AS per tahun dari Washington, WHO mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 2.300 pegawai, seperempat total tenaga kerjanya, serta penyederhanaan 10 divisi menjadi hanya empat pada musim panas 2026. Ini berisiko melemahkan program pencegahan wabah di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
Di sisi lain, para ahli memperingatkan bahwa AS juga akan dirugikan. Seperti dikutip Time, Dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat Brown University, Ashish Jha, menyatakan, "Kita kemungkinan akan melihat lebih banyak wabah penyakit berubah menjadi krisis regional dan global, dan lebih banyak penyakit dari negara lain masuk ke Amerika Serikat."
Konsekuensi strategis lain adalah terganggunya keikutsertaan AS dalam Sistem Surveilans dan Respons Influenza Global WHO, yang telah berjalan sejak 1952. Tanpa akses penuh terhadap data internasional dan forum analisis bersama, kemampuan Washington menyiapkan vaksin flu tahunan berisiko melemah dan berpotensi meningkatkan angka rawat inap serta kematian akibat influenza.
Menurut laporan ArcaMax, Masyarakat Penyakit Menular Amerika (Infectious Diseases Society of America) mengecam langkah ini sebagai kebijakan yang keliru. Mereka menyebutnya, "Pengabaian komitmen kesehatan global yang berjangka pendek dan salah arah," seraya menegaskan bahwa kerja sama internasional justru melindungi warga AS sendiri.
Dalam perspektif geopolitik, kekosongan kepemimpinan ini membuka ruang lebih luas bagi Tiongkok untuk memperkuat pengaruhnya dalam tata kelola kesehatan dunia. Beijing telah menjanjikan tambahan dukungan sebesar USD 500 juta atau sekitar Rp 8,38 triliun dengan kurs Rp 16.770 per dolar AS kepada WHO dalam lima tahun ke depan sebagai sinyal jelas bahwa mereka siap mengisi peran yang ditinggalkan AS.
Meski WHO menyatakan masih berharap AS suatu hari kembali bergabung, dinamika saat ini menunjukkan pergeseran kekuatan yang nyata. Beberapa negara bagian AS, termasuk California, bahkan bergerak mandiri dengan bergabung ke jaringan respons wabah global WHO, tanda bahwa kebijakan federal tidak lagi sepenuhnya menentukan arah keterlibatan Amerika dalam kesehatan global.
Pada akhirnya, penarikan AS dari WHO bukan sekadar soal dana, tetapi soal siapa yang memimpin, siapa yang menentukan standar, dan siapa yang mengendalikan arsitektur kesehatan global di era pascapandemi. Dunia kini memasuki fase baru dengan peran Tiongkok yang semakin menguat dan kepemimpinan Barat yang semakin terfragmentasi.
Tag: #penarikan #dari #mengguncang #tata #kelola #kesehatan #global #menguatkan #peran #tiongkok