Harga Bitcoin Terkoreksi, Volatilitas Pasar Global Jadi Biang Kerok
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini.(UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN)
21:44
2 Februari 2026

Harga Bitcoin Terkoreksi, Volatilitas Pasar Global Jadi Biang Kerok

- Pasar aset kripto global kembali bergejolak pada awal Februari 2026. Harga bitcoin (BTC) sempat terkoreksi tajam ke kisaran 74.000 dollar AS sebelum akhirnya melakukan rebound ke level 77.000 dollar AS.

Tekanan ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.

Kombinasi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dollar AS pasca-nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve disebut menjadi pemicu utama koreksi harga tersebut.

Baca juga: Harga Bitcoin Anjlok, Investor Pemula Perlu Lakukan Ini

Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.Unsplash/michael fortsch Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.

Data pasar mencatat, penurunan harga Bitcoin kali ini telah menghapus sekitar 800 miliar dollar AS nilai kapitalisasi pasar sejak titik tertingginya pada Oktober tahun lalu.

Koreksi ini tidak hanya berdampak pada Bitcoin, tetapi juga pada aset kripto lain yang ikut mengalami tekanan jual.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bitcoin kerap menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global.

“Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global karena sifat pasarnya yang beroperasi 24/7,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Baca juga: Harga Bitcoin (BTC) Kembali Anjlok, Pasar Kripto Tertekan

Menurut dia, fenomena tersebut tercermin dari risk-off sentiment yang terjadi secara serentak di berbagai instrumen. Pada fase ini, pelaku pasar cenderung melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Instrumen hard money tradisional seperti emas dan perak juga disebut mengalami tekanan jual yang signifikan bersamaan dengan aset digital. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pasar kali ini terjadi secara luas dan tidak terbatas pada kripto semata.

Ilustrasi bitcoin.UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.

Di tengah tekanan tersebut, data on-chain dari Glassnode menunjukkan adanya perbedaan perilaku yang kontras antara kelompok investor kripto.

Ketika investor ritel cenderung melakukan aksi jual akibat kepanikan, kelompok yang disebut sebagai Mega-Whales justru terpantau melakukan akumulasi.

Baca juga: Harga Bitcoin Turun Terus, Kapan Akan Pulih?

Kelompok Mega-Whales ini merujuk pada pemegang lebih dari 1.000 Bitcoin. Berdasarkan data tersebut, mereka secara bertahap menyerap pasokan Bitcoin yang dilepas ke pasar saat harga mengalami koreksi tajam.

Perilaku ini mencerminkan strategi berbeda antara investor jangka pendek dan pemegang aset dalam skala besar. Di tengah sentimen ketakutan ekstrem, akumulasi oleh pemilik modal besar dinilai menjadi indikator tersendiri dalam dinamika pasar kripto.

Antony menambahkan bahwa meskipun pasar sedang berada dalam fase ketakutan yang ekstrem, fundamental industri kripto saat ini dinilai lebih kokoh dibandingkan siklus serupa pada 2022.

“Fundamental industri dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa di tahun 2022,” kata Antony.

Baca juga: Harga Bitcoin Anjlok di Bawah 80.000 Dollar AS, Ini Pemicunya

Ia menyoroti keterlibatan institusi besar dalam ekosistem kripto sebagai salah satu faktor penopang. Kehadiran institusi global seperti BlackRock dan JPMorgan yang telah terintegrasi melalui produk ETF dan infrastruktur perbankan disebut memberikan bantalan terhadap risiko sistemik jangka panjang.

Menurut Antony, integrasi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem kripto saat ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan telah terhubung dengan sistem keuangan arus utama.

Di sisi lain, volatilitas yang tinggi tetap menjadi karakteristik pasar kripto. Pergerakan harga yang cepat dalam hitungan jam memperlihatkan sensitivitas aset digital terhadap perkembangan global, baik dari sisi geopolitik maupun kebijakan moneter.

Sebagai langkah antisipasi, INDODAX mengimbau investor kripto di Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara impulsif berdasarkan emosi sesaat.

Ilustrasi BitcoinDok. Shutterstock/Mega Bintang Ilustrasi Bitcoin

Baca juga: Bitcoin Ambles 6,10 Persen ke 82.586,97 Dollar AS, Altcoin Ikut Terimbas

Investor, menurut Antony, perlu mengevaluasi kembali manajemen risiko masing-masing, terutama di tengah kondisi pasar yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian.

“Penting bagi investor untuk mengevaluasi kembali manajemen risiko mereka,” ujarnya.

INDODAX juga menyarankan agar investor tetap disiplin pada strategi investasi jangka panjang dan mencermati dinamika pasar secara proporsional. Selain itu, investor diminta untuk terus membekali diri dengan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, INDODAX menyediakan kanal edukasi melalui INDODAX Academy serta pembaruan informasi pasar melalui INDODAX News.

Baca juga: Pasar Kripto Melemah, Bitcoin Kembali di Bawah Tekanan Jual

Perusahaan menyatakan komitmennya untuk terus menyediakan platform yang transparan dan tepercaya guna mendukung pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi digital global.

Gejolak harga Bitcoin pada awal Februari ini kembali menegaskan tingginya sensitivitas pasar kripto terhadap sentimen global.

Di satu sisi, tekanan jual yang terjadi mencerminkan respons cepat pelaku pasar terhadap risiko eksternal. Di sisi lain, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi oleh pemegang besar yang memilih memanfaatkan koreksi harga.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga selanjutnya.

Tag:  #harga #bitcoin #terkoreksi #volatilitas #pasar #global #jadi #biang #kerok

KOMENTAR