IHSG Anjlok, Bos OJK: Tolong Jangan Panik! Tetap Tenang...
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta investor agar tidak bereaksi berlebihan dan tetap bersikap tenang di tengah volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pejabat Sementara Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan regulator bersama seluruh Self Regulatory Organization (SRO) terus menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan perdagangan di pasar modal berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Ia meminta investor tidak panik dalam merespons fluktuasi pasar modal jangka pendek.
“Jadi tolong jangan panik ya, tetap tenang, dan kita semua disini OJK, SRO, we are doing our jobs ya, kita memastikan semuanya dapat dilaksanakan dengan baik,” ujar Friderica saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Selasa (2/2/2026).
Baca juga: IHSG Anjlok, CIO Danantara Sebut Ada Rotasi ke Saham Fundamental
Ia menilai pergerakan pasar hari ini justru memperlihatkan sisi positif, karena investor masih memberikan respons terhadap kualitas fundamental emiten.
Saham-saham dengan kinerja dan prospek usaha yang baik tetap mampu mencatatkan penguatan, sementara tekanan lebih banyak terjadi pada saham-saham yang sebelumnya telah mengalami kenaikan harga terlalu tinggi.
Kondisi tersebut lantaran adanya penyesuaian harga dan rebalancing portofolio, bukan pelemahan yang bersumber dari memburuknya fundamental pasar.
“Jadi ini satu hal yang positif bahwa investor melihat untuk saham-saham yang fundamentalnya bagus mengalami kenaikan hari ini. Tetapi saham-saham yang turun hari ini kebanyakan adalah dari saham-saham memang secara harganya sudah naiknya terlalu tinggi,” paparnya.
Mencermati dinamika pasar yang bergerak cepat, OJK bersama seluruh Self Regulatory Organization (SRI) memastikan seluruh aktivitas perdagangan berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Imbauan OJK kepada Investor
“Dan kami mengimbau kepada seluruh investor di tanah air, seluruh investor pasar modal untuk tetap tenang, tidak panik, dan kalau kita melihat kalau investasi di saham, di pasar modal itu kan melihat jangka panjang ya, melihat fundamental ekonomi kita sangat baik, dan juga kalau kita melihat prospek ke depan juga sangat baik,” beber Kiki.
Lebih jauh, OJK mencatat tekanan pasar modal tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun koreksi juga terjadi hampir merata di kawasan Asia.
Friderica menyebut mayoritas indeks saham di Asia bergerak di zona negatif.
Bahkan, tekanan di sejumlah bursa regional tercatat lebih dalam dibandingkan Indonesia.
I
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).a mencontohkan indeks saham Korea Selatan, Korea Composite Stock Price Index, terkoreksi lebih dari 5 persen.
Kondisi senada juga terjadi di bursa di Hong Kong, India, Singapura, dan Tiongkok.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin dengan pelemahan tajam.
Indeks anjlok 4,88 persen atau turun 406,87 poin ke level 7.922,73, di tengah tekanan jual yang masih mendominasi pasar saham domestik.
“Kemudian kalau kita lihat teman-teman ya, secara regional, indeks-indeks di regional juga minus ya. Kalau kita lihat di Korea Composite Stock Price Index, itu minusnya bahkan jauh lebih dalam, 5 persen lebih ya, 5,4 persen,” ujar Friderica saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
“Kemudian di Hongkong, kemudian India, Singapura, dan Tiongkok juga secara regional melemah,” tambah dia.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga merembet ke aset global lain seperti emas.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini bersifat global dan tidak spesifik terhadap pasar domestik saja.
“Juga emas juga melemah pada hari ini. Jadi kita melihatnya ini juga untuk perspektif yang lebih luas dan lebih global begitu ya,” ucapnya.
Baca juga: IHSG Anjlok, OJK: Indeks di Regional Juga Minus