Bukan Soal Gaji, Ini 7 Pengeluaran yang Menghambat Pertumbuhan Kekayaan
– Banyak keluarga kelas menengah merasa telah mengambil keputusan finansial yang bijak. Mereka berburu diskon, memanfaatkan promosi, dan berupaya menekan pengeluaran. Namun, upaya itu belum tentu berujung pada pertumbuhan kekayaan yang signifikan.
Penelitian Thomas Stanley selama beberapa dekade terhadap para jutawan menunjukkan perbedaannya bukan sekadar pada seberapa hemat seseorang membelanjakan uang, melainkan pada bagaimana uang itu dialokasikan.
Orang kaya tidak hanya membelanjakan lebih sedikit, tetapi membelanjakan secara berbeda. Perbedaan arah aliran uang inilah yang, dalam jangka panjang, menciptakan kesenjangan kekayaan.
Baca juga: Orang Sukses Membangun Kekayaan Tidak Pernah Buang Waktu untuk 10 Hal Ini
Dikutip dari New Trader U, Senin (2/2/2026), berikut tujuh jenis pengeluaran yang dinilai menghambat akumulasi kekayaan.
1. Terlalu Sering Membeli Mobil Baru
Data Experian menunjukkan rata-rata warga Amerika mengeluarkan 563 dollar AS per bulan untuk cicilan mobil baru. Dalam setahun, jumlahnya mencapai 6.756 dollar AS.
Masalahnya, mobil merupakan aset yang langsung terdepresiasi sekitar 20 persen saat keluar dari dealer.
Stanley menemukan 80 persen orang kaya justru membeli mobil bekas dan menggunakannya setidaknya selama 10 tahun.
Sebagai ilustrasi, mobil baru seharga 35.000 dollar AS bisa turun nilainya menjadi 14.000 dollar AS dalam lima tahun. Artinya, terjadi penyusutan 21.000 dollar AS.
Jika kebiasaan mengganti mobil setiap lima tahun terus dilakukan, kerugian depresiasi mencapai sekitar 4.200 dollar AS per tahun.
Apabila dana tersebut, sekitar 350 dollar AS per bulan, diinvestasikan dengan imbal hasil 8 persen per tahun selama 30 tahun, nilainya dapat tumbuh menjadi sekitar 522.000 dollar AS.
Baca juga: Bukan Warisan, Ini Cara Jutawan Kelas Menengah Membangun Kekayaan
2. Membeli Rumah di Luar Batas Ideal
Secara umum, penasihat keuangan menyarankan biaya hunian tidak melebihi 28 persen dari pendapatan kotor. Namun, banyak keluarga kelas menengah mengalokasikan lebih dari 40 persen dengan alasan investasi properti.
Padahal, data Federal Reserve menunjukkan bahwa dalam periode 1963–2013, harga rumah hanya naik sekitar 0,3 persen per tahun setelah inflasi.
Lonjakan pada 2005–2007 dan 2020–2021 tergolong pengecualian. Sebagai perbandingan, S&P 500 mencatat imbal hasil sekitar 7 persen per tahun setelah inflasi dalam periode panjang yang sama.
Orang kaya umumnya hanya mengalokasikan 15–20 persen pendapatan untuk hunian. Jika rumah tangga berpenghasilan 100.000 dollar AS membelanjakan 40 persen atau 40.000 dollar AS untuk rumah, dibanding 20 persen atau 20.000 dollar AS, ada selisih 20.000 dollar AS per tahun.
Jika selisih sekitar 1.666 dollar AS per bulan itu diinvestasikan dengan imbal hasil 8 persen selama 25 tahun, nilainya dapat mencapai sekitar 1,59 juta dollar AS.
Baca juga: 10 Hal yang Dihindari Orang Kaya dalam Membangun Kekayaan
3. Memenuhi Seluruh Keinginan Anak
Menurut Brookings Institution, rata-rata orangtua kelas menengah menghabiskan 310.605 dollar AS untuk membesarkan anak hingga usia 17 tahun.
Stanley menyebut praktik “economic outpatient care”, mendanai gaya hidup anak hingga dewasa, sebagai hambatan terbesar dalam membangun kekayaan lintas generasi.
Orangtua yang membiayai setiap aktivitas, gawai terbaru, dan seluruh biaya pendidikan tinggi kerap mengorbankan stabilitas finansialnya sendiri.
Sebaliknya, keluarga kaya cenderung mengajarkan anak untuk bekerja, menyusun anggaran, dan berinvestasi sejak dini. Pendekatan ini dinilai membangun kemandirian finansial jangka panjang.
Baca juga: 5 Cara Membangun Kekayaan yang Jarang Diajarkan di Sekolah
4. Terlalu Sering Makan di Luar
Data Bureau of Labor Statistics mencatat rata-rata rumah tangga Amerika menghabiskan 3.459 dollar AS per tahun untuk makan di luar. Pada sebagian keluarga kelas menengah, angkanya bahkan melampaui 8.000 dollar AS.
Sebagai gambaran, empat kali makan restoran per minggu dengan biaya 50 dollar AS per kunjungan setara 10.400 dollar AS per tahun. Padahal, kebutuhan yang sama bisa dipenuhi dengan memasak di rumah sekitar 3.000 dollar AS per tahun.
Selisih 7.400 dollar AS, sekitar 617 dollar AS per bulan, jika diinvestasikan dengan imbal hasil 8 persen selama 30 tahun, dapat berkembang menjadi sekitar 919.000 dollar AS.
Kelompok kaya umumnya memanfaatkan makan di luar untuk membangun relasi atau jaringan bisnis. Sementara itu, kebiasaan makan di luar pada kelas menengah sering kali dipicu kelelahan atau kurangnya perencanaan.
Baca juga: 5 Skill yang Wajib Dimiliki untuk Membangun Kekayaan
5. Layanan Berlangganan yang Menumpuk
Rata-rata rumah tangga menghabiskan 273 dollar AS per bulan untuk berbagai layanan berlangganan, atau 3.276 dollar AS per tahun.
Riset Nielsen menunjukkan kelompok berpenghasilan tinggi menonton televisi 19 jam per minggu, sedangkan rumah tangga berpenghasilan menengah mencapai 34 jam per minggu. Selain biaya langganan, terdapat perbedaan dalam pemanfaatan waktu.
Jika 300 dollar AS per bulan dialihkan ke investasi dengan imbal hasil 8 persen selama 30 tahun, nilainya dapat mencapai sekitar 447.000 dollar AS. Waktu 15 jam tambahan per minggu juga berpotensi digunakan untuk pengembangan keterampilan atau aktivitas produktif lain.
Baca juga: Cara Orang Kaya Membangun Kekayaan: Hindari 5 Kebiasaan Ini
6. Belanja Impulsif
Riset Slickdeals menunjukkan rata-rata orang Amerika melakukan 12 pembelian impulsif per bulan dengan total 314 dollar AS, atau 3.768 dollar AS per tahun.
Filsuf Seneca pernah menulis, “wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.” Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai hedonic adaptation, yakni kepuasan dari pembelian yang cepat memudar.
Kelompok kaya cenderung menunda pembelian barang non-esensial, bahkan hingga 30 hari, untuk memastikan keputusan tidak didorong emosi sesaat.
7. Garansi Tambahan dan Asuransi Berlebihan
Consumer Reports menemukan sebagian besar garansi tambahan lebih mahal dibanding rata-rata biaya perbaikan.
Selain itu, banyak keluarga mempertahankan perlindungan asuransi berlebihan, seperti asuransi tabrakan untuk kendaraan lama dengan nilai rendah atau memilih deductible kecil demi menghindari pengeluaran kecil. Akibatnya, premi tahunan menjadi lebih tinggi.
Kelompok kaya umumnya melakukan self-insure untuk risiko kecil dan menggunakan asuransi hanya untuk risiko besar. Selisih biaya tersebut kemudian dialihkan ke investasi.
Baca juga: Tips Membangun Kekayaan ala Warren Buffett, Lakukan 6 Hal Ini
Penelitian Stanley menunjukkan sebagian besar jutawan hidup di lingkungan kelas menengah, mengendarai mobil bekas, dan menjaga pengeluaran tetap di bawah kemampuan finansialnya.
Mereka memprioritaskan pengeluaran yang memberikan imbal hasil jangka panjang. Sebaliknya, pengeluaran untuk kenyamanan, status, atau kemudahan yang tidak menghasilkan imbal balik finansial cenderung memperlambat pertumbuhan kekayaan.
Menghilangkan tujuh jenis pengeluaran ini tidak serta-merta membuat seseorang kaya. Namun, mempertahankannya dalam jangka panjang berpotensi menghambat pembentukan kekayaan, terlepas dari besarnya penghasilan.
Tag: #bukan #soal #gaji #pengeluaran #yang #menghambat #pertumbuhan #kekayaan