Jejak Koneksi Gelap Epstein: Bagaimana Kejahatan Jeffrey Epstein Dinormalisasi oleh Elit Global?
Jeffrey Epstein di pengadilan West Palm Beach, Florida, pada 2008, menunjukkan awal dari skandal yang mengungkap jaringan koneksi elit globalnya (The Guardian)
19:57
2 Februari 2026

Jejak Koneksi Gelap Epstein: Bagaimana Kejahatan Jeffrey Epstein Dinormalisasi oleh Elit Global?

 - Jeffrey Epstein, meski dihukum atas kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, tetap menjadi figur yang dicari dan dihormati oleh pebisnis, akademisi, jurnalis, politisi, hingga anggota keluarga kerajaan.

Jejaring sosialnya menunjukkan satu kenyataan yang mengejutkan: kekuasaan, koneksi, dan pengaruh bisa menutupi bahkan tindakan kriminal paling serius di lingkaran elit global.

Epstein tidak bergerak sendirian. Dari keluarga kerajaan Inggris hingga alumni Gedung Putih, dari investor Silicon Valley hingga akademisi beraliran kiri, jaringan relasi menjadi mata uang utama yang menjamin posisi sosialnya.

Menariknya, tidak seorang pun tampak menantang atau mengutuk kejahatannya. Sikap diam dan santai elit terhadapnya seolah menormalisasi perilaku Epstein, memperlihatkan bagaimana lingkaran kekuasaan dapat melindungi pelaku kejahatan dari konsekuensi nyata.

Mengutip The Guardian dan laporan rilis dokumen terbaru pada Jumat (30/1/2026), Departemen Kehakiman AS (U.S. Department of Justice/DOJ) mempublikasikan jutaan halaman dokumen terkait Jeffrey Epstein yang sebelumnya belum pernah diungkap ke publik.

Rilisan dokumen ini merupakan bagian dari Epstein Files Transparency Act, yang mewajibkan pengungkapan penuh semua materi terkait kasus Epstein dan Ghislaine Maxwell yang tidak dikecualikan secara hukum. Dokumen itu mencakup email, catatan komunikasi, serta bukti hubungan Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia politik dan bisnis.

Dalam konteks ini, rilis terbaru berkas Epstein mengungkap bahwa Jeffrey Epstein tetap menjalin komunikasi dengan eksekutif bisnis, jurnalis, akademisi, hingga politisi, meski telah mengaku bersalah pada 2008 atas perekrutan prostitusi anak di bawah umur. Dokumen ini menggabungkan catatan lama dan baru, memperluas gambaran jaringan Epstein jauh melampaui yang sebelumnya terungkap melalui dokumen House Oversight Committee.

Meski telah meninggal dunia pada 2019 setelah didakwa atas perdagangan seksual, dokumen ini menyingkap fakta yang lebih menakutkan: bukan sebuah konspirasi rahasia, melainkan sistem kekuasaan yang berjalan terang-terangan, acuh terhadap hukum dan moral.

Sepanjang 2009 hingga 2019, surat elektronik atau email singkat Epstein yang penuh kekacauan tata bahasa dan ejaan nyatanya tidak menjerat kontaknya, termasuk Donald Trump, dalam aktivitas kriminal.

Namun, dokumen itu menunjukkan dengan jelas bagaimana beberapa lingkar kenalannya memberinya dukungan saat menghadapi masalah hukum, sementara yang lain malah meminta perkenalan atau nasihat, mulai dari urusan asmara hingga harga minyak. 

Nada santai dan bercanda dalam pertukaran ini menegaskan ironi: Epstein tetap diterima di kalangan elit, seolah kejahatannya tak berarti apa-apa bagi status sosialnya.

Contohny, beberapa email tahun 2018 menunjukkan Jeffrey Epstein memberikan saran kepada Steve Bannon terkait tur politiknya di Eropa. Bannon mengirimkan klip berita yang menyebut media Jerman meremehkan dirinya dan menyatakan Bannon "sama berbahayanya seperti sebelumnya." Epstein menanggapi, "Saya suka itu. Kita harus membuat rencana strategi, ini akan menarik."

Beberapa bulan kemudian, Epstein menasihati Bannon, "Jika Anda ingin beraktivitas di sini, Anda harus menyediakan waktu, Eropa dari jauh tidak efektif." Ia menambahkan, "Ini bisa dilakukan tapi memakan waktu. Ada banyak pemimpin negara yang bisa kita atur untuk pertemuan satu lawan satu." Bannon membalas, "Setuju 100%. Bagaimana caranya?"

Tak hanya itu, ketika fisikawan Lawrence Krauss menghadapi tuduhan pelecehan seksual, ia menghubungi Epstein untuk meminta saran menghadapi wartawan. Setelah menanyakan apakah ia terlibat secara seksual, Epstein menasehati, "Jangan membalas pertanyaan wartawan."

Selain itu, Larry Summers, mantan Menteri Keuangan AS dan Presiden Harvard University, meminta nasihat dan tips mengenai interaksi dengan seorang perempuan.

Epstein menulis, "Respon Anda tepat… marah menunjukkan perhatian, tidak mengeluh menunjukkan kekuatan." Dalam pesan lain, Summers menyinggung kontradiksi sikap elit Amerika terhadap skandal di masa lalu. Epstein memperingatkan agar komentar tersebut tidak diulang.

Summers juga bertanya, "Bagaimana hidup di antara orang kaya dan bebas?" Epstein menanggapi, "Saat kita bertemu, saya akan menceritakan kisah D.C. yang penuh intrik dan skandal."

Sementara itu, Kathryn Ruemmler, mantan penasihat Gedung Putih era Obama, mengirim pesan kepada Epstein dan menyebut Trump "sangat menjijikkan." Beberapa bagian pesan itu dirahasiakan, namun Epstein menanggapi, "Lebih buruk secara langsung."

Dalam email lain, ia merinci tokoh terkenal yang ditemuinya atau diundangnya minggu itu, termasuk duta besar, tokoh teknologi, pebisnis asing, akademisi, dan sutradara film, menulis, "Anda adalah tamu yang diterima di mana saja."

Ruemmler juga menulis tentang rencananya mengemudi ke New York dan mengomentari penduduk New Jersey: "Saya akan berhenti untuk buang air dan mengisi bensin, mengamati orang-orang di rest area, dan merasa cemas akibat pengamatan itu."

Dokumen yang dirilis ini juga meragukan klaim resmi Mantan Pangeran Inggris Andrew mengenai hubungannya dengan Epstein. Email Maret 2011 menunjukkan kontak masih berlangsung empat bulan setelah Andrew mengaku mengakhiri kontak dengan Epstein.

Dalam pesan kepada Epstein dan Ghislaine Maxwell terkait tuduhan yang dihadapinya, Andrew menulis, "Saya tidak bisa menanggung ini lagi dari pihak saya."

Selain itu, Epstein menegaskan bahwa Virginia Giuffre memang berada di pesawatnya dan difoto bersama Andrew, dengan mengatakan, "Ya, dia ada di pesawat saya dan difoto dengan Andrew, seperti banyak karyawan saya."

Tak hanya tokoh politik dan anggota keluarga kerajaan, jurnalis Michael Wolff juga muncul dalam banyak email, memberikan saran informal kepada Epstein mengenai hubungannya dengan Trump.

Pada 2015, Wolff menasihati, "Biarkan dia menjebak dirinya sendiri" jika ditanya soal hubungan mereka, yang bisa memberi Epstein "nilai PR dan politik yang berharga." Tak lama sebelum Pemilu 2016, Wolff menulis, "Ada kesempatan untuk berbicara soal Trump minggu ini yang bisa menarik simpati besar. Tertarik?"

Epstein juga berusaha memengaruhi kebijakan luar negeri. Menjelang pertemuan Presiden Trump dengan Vladimir Putin pada 2018, ia menulis kepada Thorbjørn Jagland, mantan Perdana Menteri Norwegia, agar menyarankan kepada Putin bahwa Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dapat memperoleh wawasan melalui pembicaraan dengan Epstein.

Selain itu, ia mengklaim pernah membahas Trump dengan Vitaly Churkin, duta besar Rusia untuk PBB sebelum meninggal, dan menambahkan, "Churkin memahami Trump setelah percakapan kami. Hal ini tidak rumit, dia harus terlihat mendapat sesuatu."

Selanjutnya, pada Januari 2010, investor biotek Boris Nikolic menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Dalam kesempatan itu, Epstein mengirim pesan menanyakan, "Ada kabar baik?" Nikolic menjawab bahwa ia telah bertemu "teman Anda" Bill Clinton, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, dan Andrew terkait pertanyaan tentang Microsoft, serta menambahkan, "Akan menyenangkan jika Anda ada di sini."

Selain itu, Epstein juga menjalin komunikasi dengan Sultan Ahmed bin Sulayem, pengusaha Emirat, yang memuji Bannon: "Kami telah menjadi teman, Anda akan menyukainya." Sulayem menanggapi, "Trump tidak menyukainya."

Lebih jauh, daftar kontak Epstin sangat luas, mencakup publicist Peggy Siegal, akademisi Noam Chomsky, seniman Andres Serrano, dan investor Peter Thiel. Dokumen yang dirilis itu menunjukkan bahwa Epstein diperlakukan sebagai penasihat terpercaya, tempat elit mencari nasihat terkait politik, skandal, maupun kehidupan pribadi.

Sejalan dengan itu, Jamie Raskin, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, menegaskan: "Ini adalah orang yang memberi sumbangan besar ke perguruan tinggi, termasuk Harvard dan MIT. Sumbangan semacam itu bisa membeli banyak akses di lingkaran elit. Semua pihak harus ditanya apa yang mereka ketahui."

Kasus Epstein menegaskan kenyataan yang lebih luas: kekayaan, pengaruh, dan koneksi dapat menutupi kejahatan yang jelas, sementara hukum dan moralitas tampak tak berdaya terhadap mereka yang bergerak di lingkaran elit.

Sistem yang seharusnya menegakkan keadilan justru memberi ruang bagi impunitas, memperlihatkan bahwa di dunia nyata, beberapa orang bisa lolos dari konsekuensi hanya karena status dan jaringan mereka.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #jejak #koneksi #gelap #epstein #bagaimana #kejahatan #jeffrey #epstein #dinormalisasi #oleh #elit #global

KOMENTAR