7 Jalur Penyeberangan Laut Rute Pendek di Indonesia yang Selalu Ramai Penumpang
Ilustrasi penumpang kapal di pelabuhan Tanjung perak Surabaya. Kementerian perhubungan berkomitmen menjadikan pelabuhan tertib seperti bandara dan stasiun. (Istimewa)
19:56
2 Februari 2026

7 Jalur Penyeberangan Laut Rute Pendek di Indonesia yang Selalu Ramai Penumpang

Sebagai negara kepulauan, laut bukan sekadar pembatas wilayah bagi Indonesia, melainkan jalur penghubung utama antar-daerah. Di tengah pesatnya pembangunan jembatan dan bandara, moda transportasi kapal penyeberangan nyatanya tetap menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat, terutama untuk rute-rute pendek antar-pulau.

Jalur laut jarak dekat ini tidak hanya melayani penumpang, tetapi juga kendaraan pribadi, logistik, hingga kebutuhan pariwisata. Menariknya, beberapa rute penyeberangan pendek di Indonesia hampir tak pernah sepi.

Aktivitas bongkar muat berjalan nyaris tanpa jeda, siang dan malam. Berikut tujuh jalur penyeberangan laut rute pendek di Indonesia yang dikenal selalu ramai penumpang dan berperan vital dalam konektivitas antarwilayah.

1. Merak (Banten) – Bakauheni (Lampung)

Jalur penyeberangan ini bisa dibilang sebagai 'urat nadi' penghubung Pulau Jawa dan Sumatera. Setiap hari, ribuan kendaraan pribadi, bus, hingga truk logistik menyeberangi Selat Sunda melalui rute ini.

Pada periode tertentu seperti mudik Lebaran dan libur panjang, kepadatan penumpang melonjak tajam. Operasional yang hampir 24 jam menjadikan Merak–Bakauheni sebagai rute penyeberangan tersibuk di Indonesia.

2. Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali)

Bagi wisatawan dan pelaku logistik, rute Ketapang–Gilimanuk adalah gerbang utama menuju Bali dari Pulau Jawa. Penyeberangan ini relatif singkat, namun intensitas lalu lintasnya sangat tinggi.

Truk pengangkut bahan pokok, bus pariwisata, hingga sepeda motor silih berganti menaiki kapal feri. Meski padat, jalur ini terkenal stabil dan beroperasi nonstop sepanjang hari.

3. Padangbai (Bali) – Lembar (Lombok)

Rute ini menjadi penghubung penting antara Bali dan Lombok, dua destinasi wisata unggulan di Indonesia. Selain wisatawan domestik dan mancanegara, jalur Padangbai–Lembar juga melayani distribusi barang menuju wilayah Nusa Tenggara.

Penyeberangan ini kerap dipilih karena menjadi alternatif perjalanan darat dan udara yang lebih fleksibel, terutama bagi pelancong yang membawa kendaraan pribadi.

4. Ujung (Surabaya) – Kamal (Madura)

Meski Jembatan Suramadu telah lama beroperasi, penyeberangan feri Ujung–Kamal belum sepenuhnya ditinggalkan. Jalur ini masih digunakan oleh warga lokal, kendaraan roda dua, serta angkutan barang tertentu.

Bagi sebagian masyarakat Madura dan Surabaya, feri justru dianggap lebih praktis dan ekonomis, terutama pada jam-jam tertentu.

5. Kartini (Jepara) – Karimunjawa

Rute ini mungkin tidak sepopuler jalur penyeberangan antar-pulau besar, namun perannya sangat krusial. Penyeberangan dari Pelabuhan Kartini ke Karimunjawa menjadi satu-satunya akses laut reguler menuju kepulauan wisata tersebut.

Selain wisatawan, jalur ini juga melayani mobilitas warga dan distribusi logistik ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pada musim liburan, antrean penumpang kerap memanjang.

6. Kolaka (Sulawesi Tenggara) – Bajoe (Sulawesi Selatan)

Jalur Kolaka–Bajoe menjadi solusi efektif bagi pelaku perjalanan darat lintas Sulawesi. Dengan menyeberang menggunakan feri, waktu tempuh bisa dipangkas jauh dibandingkan harus memutar melalui jalur darat.

Rute ini ramai oleh kendaraan logistik, bus antarkota, hingga kendaraan pribadi yang melintas antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

7. Batam – Singapura/Malaysia

Berbeda dari rute lainnya, penyeberangan dari Batam menuju Singapura dan Malaysia memiliki skala internasional. Aktivitas penumpang di kawasan ini nyaris tak pernah surut, didorong oleh sektor bisnis, pariwisata, dan tenaga kerja lintas negara.

Pelabuhan-pelabuhan di Batam menjadi simpul penting perdagangan dan mobilitas manusia di kawasan Asia Tenggara.

Sebagian besar jalur penyeberangan pendek ini beroperasi dengan frekuensi tinggi dan didukung oleh ASDP Indonesia Ferry serta operator pelayaran swasta.

Keberadaannya bukan hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga menjaga roda ekonomi daerah tetap berputar. Bagi pelancong maupun pelaku logistik, jalur laut jarak pendek ini tetap menjadi pilihan andalan yang efisien dan relevan hingga kini.

Editor: Bintang Pradewo

Tag:  #jalur #penyeberangan #laut #rute #pendek #indonesia #yang #selalu #ramai #penumpang

KOMENTAR