Overtourism, Desa di Pegunungan Italia yang Instagramable Ini Mulai Batasi Wisatawan
Santa Maddalena, sebuah desa kecil di Italia Utara yang terkenal dengan gereja mungil berlatar Pegunungan Dolomites, mulai menerapkan pembatasan wisata.
Setelah lebih dari satu dekade menjadi primadona media sosial, kunjungan wisatawan yang semakin membeludak kini dinilai mengganggu ketenangan warga dan keseimbangan lingkungan.
Banjir wisatawan yang tak terbendung
Foto-foto Gereja Santa Maddalena telah beredar luas di internet selama bertahun-tahun. Namun, menurut warga, lonjakan besar terjadi pada musim panas lalu ketika arus wisatawan harian berubah menjadi banjir manusia.
Mulai Mei 2026, pemerintah desa akan memberlakukan sistem akses terbatas. Sebuah palang akan dipasang untuk membatasi masuknya kendaraan.
Baca juga: Kota di Italia Ini Akan Berlakukan Pajak Wisata untuk Anjing
Hanya penduduk dan wisatawan menginap minimal satu malam yang boleh masuk ke area gereja.
Sebaliknya, wisatawan harian yang jumlahnya mencapai 600 orang pada musim puncak, harus berjalan kaki selama 30 menit atau lebih dari area parkir khusus. Bus wisata dan mobil pribadi yang hanya singgah sebentar akan ditolak masuk.
Harga parkir naik, shuttle masih dipertimbangkan
Wali Distrik Funes, Peter Pernthaler, mengatakan bahwa pembatasan akan berlaku dari Mei hingga November. Ketika area parkir penuh, pengunjung akan diarahkan ke lokasi yang lebih jauh.
Saat ini biaya parkir sebesar 4 euro per hari. Namun tarif tersebut akan dinaikkan untuk mengurangi jumlah wisatawan “yang hanya datang untuk berfoto.
Pemerintah desa juga tengah mempertimbangkan layanan shuttle bagi pengunjung yang tidak mampu melakukan perjalanan kaki yang cukup jauh. Pernthaler menegaskan bahwa tujuan utama bukan mengusir wisatawan.
“Wisatawan bukan gangguan. Tapi jumlahnya terlalu banyak, dan kita harus mengelolanya,” ujarnya.
Wisatawan yang cuma foto lalu pulang
Popularitas Santa Maddalena bermula dari tampilnya pemandangan desa di kartu SIM operator China lebih dari satu dekade lalu.
Popularitasnya semakin meroket ketika Gunung Seceda muncul sebagai screensaver iOS 7 pada 2013, membuat ribuan wisatawan ingin melihatnya secara langsung. Pada masa puncak, jumlah wisatawan bisa mencapai 8.000 orang per hari.
Baca juga: Paus Leo XIV Habiskan Liburan Musim Panas di Kastil Gandolfo Italia
Namun, banyak dari mereka cuma datang, memotret, lalu pergi tanpa memberi dampak ekonomi berarti, justru menambah beban pada infrastruktur desa.
Anggota dewan desa, Roswitha Moret Niederwolfsgruber, menyebut perilaku sebagian wisatawan merusak.
“Mereka merusak apa pun demi mendapatkan foto. Sudah tidak seimbang lagi,” ujarnya.
Kekhawatiran jelang Olimpiade Musim Dingin
Langkah pembatasan ini juga dianggap sebagai tindakan preventif. Olimpiade Musim Dingin di Cortina yang akan dimulai pekan depan diprediksi membawa dampak besar bagi kawasan Dolomites.
Studi The European House Ambrosetti menyebut acara tersebut bisa menarik hingga 9 juta wisatawan tambahan pada 2027–2030.
Baca juga: Ini 5 Negara yang Siap Membayar Kamu Jika Bersedia Pindah, Ada Italia hingga Jepang
Wilayah yang diperkirakan paling terdampak adalah Milan, Belluno, Bolzano, Sondrio, dan Trento, area yang sudah berjuang menghadapi kepadatan wisata.
Bagi komunitas seperti Villnöss, tempat Santa Maddalena berada, kondisi saat ini mungkin baru awal dari tekanan yang jauh lebih besar di masa depan.
Tag: #overtourism #desa #pegunungan #italia #yang #instagramable #mulai #batasi #wisatawan