Meski Sepakat Negosiasi Lagi, Iran Tak Mau Percaya AS
- Negosiasi untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat (AS).
"Kami mengharapkan negosiasi serius untuk mencapai hasil, dengan syarat pihak lain menunjukkan keseriusan yang sama dan juga siap untuk negosiasi konstruktif," kata Aragachi, dikutip dari AFP, Senin (9/2/2026).
"Sayangnya, ketidakpercayaan yang mendalam masih berlanjut karena perilaku AS dalam beberapa tahun terakhir," katanya, saat berpidato di hadapan para duta besar pada pertemuan diplomatik di Teheran.
Karena itu, ia meminta semua lembaga di Iran untuk tetap menjalankan tugasnya, terlepas dari perkembangan negosiasi.
Baca juga: Iran Sebut Ada Bom AS yang Belum Meledak di Fasilitas Nuklir
Sikap tegas Iran soal nuklir dan rudal
Sebelumnya, pembicaraan antara Teheran dan Washington dilanjutkan di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2026) setelah berminggu-minggu ketegangan meningkat menyusul peningkatan kekuatan militer AS di perairan Teluk Persia dekat Iran.
Dalam perundingan itu, ia kembali menegaskan posisi Teheran terkait batasan-batasan dalam negosiasi tersebut.
Araghchi menekankan bahwa program rudal Iran sama sekali tidak masuk dalam daftar materi yang dapat diperdebatkan dalam pertemuan yang berlangsung di Oman, Jumat (6/2/2026).
Selain itu, pengayaan nuklir juga merupakan hak yang tidak dapat diganggu gugat oleh pihak mana pun.
"Kami siap mencapai kesepakatan yang meyakinkan mengenai pengayaan nuklir," ujar Araghchi, Sabtu (7/2/2026).
"Rudal Iran tidak pernah bisa dinegosiasikan karena berkaitan dengan masalah pertahanan," lanjutnya mempertegas posisi Teheran.
Baca juga: Negosiator Trump Sambangi USS Abraham Lincoln, Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS
Negosiasi pertama jadi awal yang baik
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) saat tiba untuk negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat di Muscat, Oman, 6 Februari 2026.
Araghchi mengatakan, meskipun pembicaraan di Muscat bersifat tidak langsung, muncul kesempatan untuk berjabat tangan dengan delegasi AS.
Dia menyebut pembicaraan itu sebagai awal yang baik, tetapi menegaskan masih ada jalan panjang untuk membangun kepercayaan.
Menurutnya, pembicaraan akan dilanjutkan segera.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan itu sangat baik dan berjanji akan mengadakan putaran negosiasi berikutnya minggu depan.
Meskipun demikian, ia menandatangani perintah eksekutif yang berlaku mulai Sabtu (7/2/2026) yang menyerukan pemberlakuan tarif terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran.
AS juga mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman yang bertujuan untuk mengekang ekspor minyak Iran.
Menurut data Organisasi Perdagangan Dunia, lebih dari seperempat perdagangan Iran dilakukan dengan China, dengan impor senilai 18 miliar dollar AS dan ekspor senilai 14,5 miliar dollar AS pada 2024.