Mengetahui Soal DBD yang Meningkat di Musim Hujan: Gejala hingga Pencegahan pada Anak dan Dewasa
Risiko demam berdarah dengue (DBD) kembali meningkat seiring datangnya musim hujan. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, pada 2024 jumlah kasus dengue mencapai 257.271 kasus dengan 1.461 kematian. Sementara pada 2025 tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian. Tren ini menegaskan dengue masih menjadi ancaman serius dan berulang setiap tahun.
Merespons kondisi tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menggelar edukasi media bertajuk “Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa”, bertepatan dengan peringatan Hari Penyakit Tropis Terabaikan Sedunia.
Ketua Umum PP PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, menegaskan pentingnya pencegahan berkelanjutan terhadap DBD yang kasusnya terus menanjak tiap tahun.
“Dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi tantangan kesehatan masyarakat. Pencegahan harus menjadi fokus utama melalui edukasi, kewaspadaan gejala, penerapan 3M Plus, serta vaksinasi dengue,” ujarnya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/2).
Oleh karena itu, Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, M.K.M, menekankan kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi masalah dengue.
“Pencegahan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Peran aktif masyarakat melalui 3M Plus serta peningkatan kewaspadaan terhadap gejala menjadi kunci,” katanya.
Ia menyebut bahwa pemerintah menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030.
Dari sisi klinis, Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-PTI, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal DBD yang mirip dengan demam biasa.
“Dengue dapat berkembang cepat menjadi kondisi berbahaya. Keterlambatan mengenali tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, dan perdarahan dapat berakibat fatal,” tuturnya.
Dari perspektif anak, Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, mengingatkan orang tua agar lebih waspada terhadap gejala yang seringkali dianggap remeh padahal ternyata DBD.
“Pada dengue terdapat fase kritis di mana kondisi anak dapat memburuk dengan cepat. Karena itu, dengue tidak boleh dianggap sebagai demam biasa,” tegasnya.
Ia menambahkan, sesuai persetujuan BPOM, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak usia 4–18 tahun, mengingat angka kematian tertinggi terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun.
Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, menegaskan bahwa risiko dengue juga tinggi pada orang dewasa.
“Kelompok dewasa dengan mobilitas tinggi dan komorbid memiliki risiko komplikasi lebih berat. Vaksinasi dengue dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan menyeluruh,” katanya.
Dari sektor swasta, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa vaksinasi merupakan bagian penting dari perlindungan jangka panjang.
“Beban dengue di Indonesia sangat besar. Karena itu, pencegahan menjadi kunci, termasuk melalui penerapan 3M Plus secara konsisten dan mempertimbangkan vaksinasi sebagai pendekatan pencegahan yang inovatif,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, industri, dan masyarakat, diharapkan upaya pencegahan dengue dapat semakin diperkuat untuk melindungi anak dan dewasa, terutama di tengah meningkatnya risiko penularan di musim hujan.
Tag: #mengetahui #soal #yang #meningkat #musim #hujan #gejala #hingga #pencegahan #pada #anak #dewasa