Penyakit Jantung Tempati Posisi Teratas Penyebab Kematian di Indonesia
Ilustrasi penyakit jantung (Freepik)
17:06
4 Februari 2026

Penyakit Jantung Tempati Posisi Teratas Penyebab Kematian di Indonesia

- Penyakit jantung hingga kini masih menempati posisi teratas sebagai penyebab kematian di Indonesia. Tren ini terus meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat serta bertambahnya usia harapan hidup penduduk.

Di tingkat nasional, pemerataan layanan bedah jantung masih menjadi tantangan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga akhir 2022, baru sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung, menyebabkan antrean pasien dapat mencapai 6 hingga 18 bulan.

Pemerintah sendiri menargetkan seluruh provinsi di Indonesia mampu melakukan operasi bypass jantung pada 2027 sebagai bagian dari strategi pemerataan layanan kesehatan jantung.

Direktur Regional Mitra Keluarga Group, dr. Arina Yuli Roswitati, menekankan pentingnya penguatan layanan jantung yang berkelanjutan. Menurutnya, penyakit jantung saat ini masih menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan layanan yang menyeluruh dan berkesinambungan.

“Penguatan layanan jantung tidak hanya berfokus pada tindakan operatif, tetapi juga pada deteksi dini, kesinambungan perawatan, serta edukasi pasien agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Melalui pengembangan layanan jantung, kami berupaya menjawab kebutuhan tersebut, sambil terus mendukung peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan jantung,” kata dr. Arina di Jakarta, Rabu (4/2).

Dalam konteks tersebut, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading turut menerapkan teknik bedah jantung minimal invasif yang dinilai sejalan dengan target nasional. Selain meningkatkan kapasitas layanan di tingkat fasilitas kesehatan, langkah ini juga berkontribusi dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan jantung modern dan berkualitas.

Pada kesempatan yang sama, RS secara resmi memperkenalkan MICRO (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery), sebuah program unggulan berupa protokol bedah jantung terintegrasi. Program ini menggabungkan teknik sayatan minimal, pemanfaatan teknologi modern, visualisasi presisi tinggi, serta pendekatan pemulihan cepat yang terstandarisasi.

“Program ini dirancang untuk meminimalkan trauma operasi, memperpendek lama rawat inap, mengurangi nyeri, mempercepat mobilisasi pasien, menurunkan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pascaoperasi. Melalui MICRO, pasien bedah bypass jantung tidak lagi harus menghadapi ketakutan akan operasi besar dan masa pemulihan yang panjang seperti pada metode konvensional,” ungkap Direktur Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr. Ronald Reagan.

Sementara itu, RS juga memperkuat perannya dalam pengembangan layanan kardiovaskular modern dengan menggelar inaugurasi pencapaian lebih dari 100 tindakan MICS-CABG (Minimally Invasive Coronary Artery Bypass Grafting) atau bypass jantung minimal invasif. Capaian ini diraih dalam waktu kurang dari 10 bulan sejak layanan tersebut diimplementasikan.

Keberhasilan ini menempatkan RS sebagai salah satu pusat rujukan bedah jantung minimal invasif terdepan di Tanah Air. Lebih dari sekadar pencapaian angka, hal ini mencerminkan komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan yang aman, presisi tinggi, serta berorientasi pada pemulihan pasien yang lebih cepat sesuai standar global.

Lebih dari 100 pasien telah merasakan manfaat pendekatan bedah jantung dengan sayatan minimal, yang terbukti dapat mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pascaoperasi. Konsistensi dalam menjaga mutu layanan dan keselamatan pasien menjadi fondasi utama dari pencapaian tersebut.

“Pencapaian ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar jumlah tindakan medis. Bukan tentang angka 100. Ini tentang 100 keluarga yang kembali lengkap, 100 harapan yang pulih, dan 100 kehidupan yang diberi kesempatan kedua. Keberhasilan ini adalah komitmen kami untuk terus tumbuh, berinovasi, dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia,” tutup Ronald.

 

Editor: Sabik Aji Taufan

Tag:  #penyakit #jantung #tempati #posisi #teratas #penyebab #kematian #indonesia

KOMENTAR