Selalu Ada Harapan Kesembuhan pada Kanker Stadium 4
- Diagnosis kanker, terutama ketika sudah memasuki stadium lanjut, sering kali memunculkan rasa takut dan anggapan bahwa peluang hidup sudah tertutup. Namun, dengan kemajuan terapi kanker, perawatan paliatif yang semakin komprehensif, serta kekuatan dukungan emosional, selalu ada ruang bagi tumbuhnya harapan.
Harapan hidup pasien kanker selalu dikaitkan dengan stadium penyakit. Namun, bukan berarti stadium tinggi sama dengan tidak ada peluang sama sekali.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, tak menampik bahwa harapan hidup pasien kanker selalu dikaitkan dengan stadium penyakit. Namun, bukan berarti stadium tinggi sama dengan tidak ada peluang sama sekali.
“Selalu ada persentase kemungkinan bisa sembuh, walaupun tentunya kecil yang stadium 4,” ujar dr. Aru dalam pembukaan pameran seni “Understanding Cancer through Art” yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia dan YKI, dalam merayakan Hari Kanker Sedunia 2026, di Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Didagnosis Kanker di Usia 29 Tahun, Perempuan Ini Justru Menemukan Makna Hidup Baru
Harapan hidup tetap ada meski stadium lanjut
Dalam dunia medis, kondisi setiap pasien tidak selalu berjalan sesuai dugaan awal. Oleh karena itu, pantang bagi dokter menyampaikan bahwa tidak ada harapan kesembuhan bagi pasien.
Dijelaskan oleh dr. Aru, perjalanan penyakit kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi tubuh pasien, jenis kanker, respons terhadap terapi, sampai faktor lain yang tidak selalu dapat diprediksi.
Sepanjang berkarier sebagai seorang dokter, ia menemukan berbagai kasus yang tidak selalu sejalan dengan apa yang sudah dipelajari, maupun dengan anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat.
“Dalam karir saya, kami dapatkan kasus-kasus yang kadang-kadang di luar dugaan. Stadium 4 sembuh, stadium 2 cepat meninggal. Itu banyak faktor-faktornya,” ucap dr. Aru.
Baca juga: WHO Ungkap 4 dari 10 Kasus Kanker Bisa Dicegah, Ini Faktor Risiko Terbesarnya
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP, dalam pembukaan pameran seni ?Understanding Cancer through Art? yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia dan YKI, dalam merayakan Hari Kanker Sedunia 2026, di Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).
Gejala kanker yang sering diabaikan
Meski harapan hidup tetap ada, dr. Aru menekankan bahwa kunci utama pengendalian kanker tetap pada deteksi dini.
Ia melihat masih banyak masyarakat yang kurang peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh. Menurut dr. Aru, keluhan yang muncul berulang atau menetap, sering kali dianggap sepele.
Padahal, itu bisa menjadi tanda awal penyakit serius. Ada sejumlah gejala umum yang perlu diwaspadai masyarakat.
Baca juga: Curiga Gejala Kanker Payudara, Tes Apa Saja yang Perlu Dilakukan
“Apa saja sih gejala yang harus diwaspadai? Satu, ada benjolan. Itu sudah pasti. Kedua, ada rasa nyeri yang tidak hilang-hilang di suatu tempat,” tutur dr. Aru.
Perdarahan yang muncul di tempat atau waktu yang tidak lazim, di luar kondisi normal, juga termasuk tanda bahaya. Perubahan pola buang air besar turut menjadi sinyal yang tak boleh diabaikan.
Ia mencontohkan kondisi ketika pola yang semula teratur tiba-tiba berubah, misalnya hari ini normal, besok cair, lalu keras kembali, sebagai salah satu gejala yang perlu diperiksa lebih lanjut.
“Berikutnya, ini sering kecolongan dan untungnya kita tidak banyak di Indonesia, yaitu tahi lalat yang semakin membesar dan meradang. Itu tanda melanoma, kanker kulit. Dan di kuku ada garis seperti pakai pensil,” terang dr. Aru.
Selain itu, rasa lemas berlebihan serta penurunan berat badan drastis tanpa diet juga perlu dicurigai.
Baca juga: Gejala Kanker Kolorektal Sering Diabaikan, Ini Peringatan Ahli untuk Kaum Muda
Kapan keluhan harus diperiksa lebih lanjut?
Memang tidak semua keluhan langsung mengarah pada kanker. Namun, tidak ada salahnya untuk mencurigai beragam gejala di atas.
Menurut dr. Aru, gejala yang sudah diobati berulang kali tetapi tidak menunjukkan perbaikan, perlu mendapat perhatian lebih serius dan pemeriksaan lanjutan.
“Ini suatu aturan yang tidak resmi, tapi sebagai pengalaman saya, kalau ada sebuah gejala yang tiga kali diobatin tidak baik, pemeriksaan dikejar dengan lebih intensif,” ujar dr. Aru.
Ia mengakui bahwa dalam beberapa situasi, bahkan tenaga medis pun bisa luput mengenali tanda awal. Karena itu, peran pasien dalam mengenali perubahan pada tubuhnya sendiri menjadi sangat penting.
Namun, dr. Aru menegaskan bahwa pendekatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mendorong masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi tubuh.
Dengan deteksi lebih awal, peluang terapi yang efektif dan kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.
Baca juga: 7 Makanan yang Bantu Lawan Kanker, Rekomendasi Ahli di Hari Kanker Sedunia