Pekan Perdana TikTok di Bawah Kendali AS Berujung Krisis Data, Tuduhan Sensor, dan Pergeseran Kontrol Digital
- Pekan pertama operasi TikTok di bawah kepemilikan mayoritas Amerika Serikat (AS) berubah menjadi ujian tajam bagi platform video pendek global itu. Alih-alih menandai transisi yang mulus, perubahan struktur kepemilikan ini memicu krisis kepercayaan, gangguan teknis masif, dan serangkaian tuduhan sensor politik yang menggema di media dan kalangan pembuat konten digital.
Kesepakatan yang diselesaikan pada 22 Januari 2026 itu memindahkan kendali bisnis TikTok di AS dari perusahaan induknya di Tiongkok, ByteDance, kepada konsorsium investor Amerika yang dipimpin oleh Oracle, Silver Lake, dan MGX. Langkah ini merupakan respons terhadap undang-undang AS yang menuntut divestasi demi "keamanan nasional," meskipun juga dikaitkan dengan tekanan politik domestik yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Dilansir dari The Guardian, Selasa (3/2/2026), laporan investigatif media tersebut mencatat bahwa selama akhir pekan setelah transfer kepemilikan TikTok, ribuan pengguna melaporkan kegagalan mengunggah video dan penurunan drastis jangkauan tayangan, termasuk kasus video yang mendapat nol penayangan meski diunggah oleh kreator dengan jutaan pengikut.
Menanggapi hal ini, Oracle kemudian menegaskan dalam pernyataan resminya: "Gangguan yang dialami pengguna TikTok di Amerika Serikat merupakan dampak langsung dari pemadaman listrik akibat cuaca ekstrem di salah satu pusat data kami, yang memicu rangkaian masalah teknis lanjutan pada layanan platform tersebut."
Namun, penjelasan teknis itu tidak memadamkan kontroversi karena gangguan terjadi tepat saat banyak pengguna mencoba mengunggah konten yang mengkritik kebijakan imigrasi federal. Tuduhan bahwa TikTok menekan visibilitas konten tertentu mencuat, dengan kritik disuarakan antara lain oleh penyanyi Billie Eilish dan Senator Chris Murphy, yang menyebut dugaan sensor tersebut sebagai "ancaman bagi demokrasi."
Kecurigaan publik semakin menguat karena TikTok kini dikendalikan oleh konsorsium Amerika yang memiliki kedekatan dengan elite politik Washington. Oracle, salah satu pemegang saham utama didirikan oleh Larry Ellison, yang dikenal memiliki hubungan personal dan politik dengan Donald Trump. Di saat yang sama, pernyataan Trump bahwa dia telah "menyelamatkan TikTok" setelah akuisisi rampung memperkuat persepsi bahwa perubahan kepemilikan tidak semata-mata didorong pertimbangan keamanan nasional, melainkan juga kepentingan politik.
Di tengah kecurigaan itu, tuduhan sensor tidak hanya datang dari kreator, tetapi juga dari pejabat tinggi negara bagian. Tokoh paling berpengaruh yang menuduh TikTok melakukan sensor adalah Gubernur California Gavin Newsom. Pada 27 Januari dia mengumumkan penyelidikan untuk menilai apakah TikTok menekan video yang kritis terhadap Trump, memperluas dugaan intervensi politik dalam algoritma aplikasi tersebut.
Tak hanya itu, keterlambatan klarifikasi resmi TikTok justru mempercepat reaksi pasar digital. Sebagian pengguna beralih ke platform baru bernama Upscrolled, yang melonjak ke puncak unduhan di Apple App Store AS dan peringkat ketiga di Google Play Store. Dalam siaran persnya, Upscrolled mengklaim telah melampaui satu juta pengguna, sementara TikTok turun ke peringkat 16 di iPhone App Store dan peringkat 10 di Google Play Store.
Pada saat yang sama, tiga aplikasi virtual private network masuk jajaran 10 besar unduhan di AS, sinyal bahwa ketakutan terhadap pengawasan digital negara semakin membentuk perilaku pengguna. Pergeseran ini menunjukkan bahwa krisis TikTok bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis legitimasi dan kontrol data.
Dengan lebih dari satu miliar pengguna global, TikTok tidak akan hilang dalam semalam. Namun, pekan perdananya di bawah kendali AS memperlihatkan betapa rapuhnya kepercayaan publik, dan bagaimana satu rangkaian kegagalan dapat menggeser peta kekuasaan platform digital dunia.
Tag: #pekan #perdana #tiktok #bawah #kendali #berujung #krisis #data #tuduhan #sensor #pergeseran #kontrol #digital