Sampah Jadi Bom Waktu RI: Sisa 2 Tahun jika Tak Segera Ditanggulangi
- "Sampah ini menjadi masalah, diproyeksi hampir semua TPA (tempat pembuangan akhir) sampah akan mengalami overcapacity pada 2028, bahkan lebih cepat."
Begitu kalimat yang keluar dari mulut Presiden Prabowo Subianto saat memberikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Ucapan ini sebagai alarm, dua tahun lagi, waktu yang tentunya tidak terlalu lama, semua tempat pembuangan akhir sampah di Indonesia akan berakhir dengan kelebihan kapasitas.
Bahkan bisa jadi lebih cepat dari itu. Sebab itu, Prabowo memberikan atensi pada kepala daerah yang hadir dalam acara tersebut.
Baca juga: Tim Oren Semarang Tengah, Garda Terdepan Jaga Estetika Kota dari Sampah Liar
Salah satu yang kena sentil adalah Provinsi Bali, provinsi yang dikenal sebagai surga pariwisata, menjual keindahan alam untuk wisatawan mancanegara.
Pada kesempatan itu, Prabowo secara tegas mengatakan, pantai Bali tak lagi nyaman untuk wisatawan lantaran sampah di mana-mana.
"Ini maaf ya, gubernur, bupati dari Bali. Ini real loh. Bali bulan Desember 2025, ini pantai Bali, bagaimana turis mau datang ke situ lihat sampah? Gubernur, bupati, SMA, SMP, SD, di bawah kendali saudara. Apa susahnya sih?" ujar Prabowo.
Prabowo mengaku menerima keluhan dari jenderal asal Korea yang menyebutkan bahwa Bali akhir-akhir ini begitu kotor dan tidak sebagus dahulu.
Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026).
"Saya di Korea ketemu tokoh-tokoh, menteri-menteri, jenderal-jenderal, kadang-kadang ya tentara di manapun, dia tidak pakai basa-basi, bicaranya apa adanya. Dia ngomong ke saya," kata Prabowo.
"Dia bilang, 'Your Excellency, I just came from Bali, oh Bali so dirty now, Bali not nice'. Bah, saya tapi terima itu sebagai koreksi. Ini harus kita atasi bersama," imbuhnya lagi.
Kepala negara mengingatkan bahwa turis tidak akan mau berwisata ke Bali apabila pantai-pantai di Pulau Dewata itu masih kotor seperti yang dikeluhkan sang jenderal.
Padahal, sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang menyerap banyak lapangan pekerja.
Oleh sebab itu, Prabowo menegaskan bahwa keluhan sang jenderal harus menggugah para kepala daerah untuk menjaga kebersihan.
Baca juga: Viral Temuan Lokasi Pembuangan Sampah Ilegal di Rumpin Bogor, DLH Turun Tangan
Sampah yang terkelola hanya 35 persen
Dilansir dari website Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional milik Kementerian Lingkungan Hidup, pada 2025 sampah secara nasional mencapai 23 juta ton.
Dari jumlah tersebut, sampah yang terkelola hanya berkisar 35 persen, atau 8,2 juta ton. Sisanya, tidak terkelola.
Kemudian jumlah kabupaten/kota yang memiliki pengelolaan sampah terintegrasi hanya 46 persen, atau 238 kabupaten/kota dari total 514 kabupaten/kota.
Sampah rumah tangga menjadi sumber sampah paling besar yakni 56,21 persen, kemudian pasar 13,65 persen, disusul perniagaan 7,83 persen, fasilitas publik 7,27 persen, kawasan industri 4,53 persen, perkantoran 4,29 persen.
Ironisnya, dari seluruh sampah ini, 65,45 persen terbuang ke lingkungan.
Presiden Prabowo mengatakan, untuk menjawab masalah sampah, pemerintah pusat meluncurkan gerakan Indonesia ASRI, singkatan dari aman, sehat, resik, dan indah.
Gotong royong dan kerja bakti menjadi tulang punggungnya. Bebannya tentu di masyarakat yang akan dimodali truk sampah dari pemerintah.
Gerakan ini nantinya akan didukung dengan pembangunan 34 proyek waste to energy di 34 kota pada 2026.
Kemudian gerakan "ASRI" didukung oleh gagasan "gentengisasi" sebagai bagian memperindah lingkungan permukiman.
Baca juga: Wamen ESDM: Pembangkit Listrik dari Sampah Ditargetkan Beroperasi di 2027
Gentengisasi sebagai upaya mempercantik kawasan pemukiman dan mengganti atap seng yang memberikan rasa panas menjadi bahan yang lebih nyaman.
"Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” ucap Presiden.
"Saya berharap dalam 2-3 tahun, Indonesia tidak akan kelihatan karat, karat lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah. Rakyat kita harus bahagia," katanya.
Solusi belum menyentuh sumber masalah
Zero Waste Campaigner, Greenpeace Indonesia Ibar Akbar mengatakan, yang menjadi persoalan saat pemerintah belum memperhatikan sumber masalah dan hanya berfokus pada penanganan di hilir.
Dia mengatakan, kebijakan terkait upaya mengurangi sampah pada sumbernya masih belum ada, termasuk kebijakan memilah sampah organik atau plastik di tengah-tengah masyarakat.
Asep Johari (47) salah satu petugas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat sedang melakukan pembakaran sampah melalui mesin insenerator, Rabu (28/1/2026).
"Dan sebenarnya, walaupun sekarang sudah ada progres beberapa pemerintah kota daerah yang mulai menerapkan pemilahan, sudah ada aturan soal pelarangan plastik sekali pakai di beberapa kota dan kabupaten, itu bagus tapi masih belum masif dan belum jadi aturan nasional, masih sebatas di aturan Perda," ucap Ibar kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Dia mengatakan, sistem pengelolaan sampah juga saat ini masih bertumpu pada TPA, dan masih dalam tahap kumpul-angkut-buang.
Sistem pengelolaan sampah kita juga masih mengandalkan TPA, sehingga sampah yang masuk ke TPA juga sebagian besar sampah tercampur.
"Sampah sisa makanan, organik, plastik, dan semua jenis itu tercampur semua, sehingga akhirnya menjadi beban di TPA," ucapnya.
Baca juga: Bupati Badung: Bulan Tertentu Banyak Sampah Kiriman di Pesisir, Ini Sebab Cuaca Ekstrem
Komposisi TPA juga sebagian besar sampah organik yang menyebabkan sampah daur ulang jadi sia-sia.
Dia juga menilai, teknologi membuat sampah menjadi energi yang disebut Prabowo belum tentu bisa menjadi solusi jika masalah di hulu tidak dibereskan.
Teknologi saat ini tidak bisa menjawab budaya pemilahan sampah di hulu.
Dia memberikan contoh, ada banyak negara-negara maju dengan teknologi canggih juga belum mampu mengelola sampah mereka sendiri sehingga harus mengekspor ke Indonesia.
"Beberapa negara yang katanya teknologinya bagus, pengurangan sampahnya bagus, tetap saja kan mereka masih ekspor sampah ke Indonesia juga," imbuhnya.
"Sebenarnya bukan masalah di teknologi, tapi bagaimana punya kebijakan untuk pemilahan, pengurangan organik, punya kebijakan untuk mengurangi dan membatasi sampah produksi kemasan plastik sekali pakai," tandasnya.
Tag: #sampah #jadi #waktu #sisa #tahun #jika #segera #ditanggulangi