Lidah Buaya Tak Hanya untuk Kulit, Peneliti Temukan Potensi untuk Alzheimer
Ilustrasi lidah buaya. Senyawa alami dalam lidah buaya dinilai mampu memengaruhi proses biologis yang berperan dalam penurunan daya ingat.(Shutterstock/Nevada31)
10:48
10 Februari 2026

Lidah Buaya Tak Hanya untuk Kulit, Peneliti Temukan Potensi untuk Alzheimer

Peneliti menemukan senyawa alami dalam lidah buaya yang dinilai berpotensi membantu menghambat perkembangan penyakit Alzheimer.

Temuan ini berasal dari studi berbasis simulasi komputer yang menunjukkan bahwa senyawa tersebut dapat berinteraksi dengan enzim yang berperan dalam penurunan daya ingat.

Meski masih tahap awal, riset ini membuka peluang baru pengembangan terapi Alzheimer dari bahan alami.

Baca juga: Chris Hemsworth Ungkap Risiko Alzheimer, Ini Pengakuannya yang Mengubah Prioritas Hidup

Penelitian berbasis simulasi komputer

Melansir Science Daily, penelitian terbaru mengkaji kandungan kimia dalam lidah buaya (Aloe vera) yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman perawatan kulit.

Para peneliti menelusuri bagaimana senyawa-senyawa tersebut berinteraksi dengan proses biologis yang terkait dengan Alzheimer.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Current Pharmaceutical Analysis dan menggunakan metode in silico, yaitu pendekatan penelitian berbasis simulasi komputer.

Metode ini membantu peneliti memprediksi cara kerja senyawa di dalam tubuh sebelum dilakukan uji laboratorium.

Baca juga: Harapan Baru Deteksi Dini Alzheimer Lewat Tes Tusuk Jari

Enzim yang berkaitan dengan penurunan daya ingat

Ilustrasi otak. Senyawa alami dalam lidah buaya dinilai mampu memengaruhi proses biologis yang berperan dalam penurunan daya ingat.Freepik Ilustrasi otak. Senyawa alami dalam lidah buaya dinilai mampu memengaruhi proses biologis yang berperan dalam penurunan daya ingat.

Fokus penelitian tertuju pada dua enzim penting, yakni acetylcholinesterase (AChE) dan butyrylcholinesterase (BChE).

Kedua enzim ini berfungsi memecah asetilkolin, zat kimia otak yang membantu sel saraf saling berkomunikasi.

Pada penderita Alzheimer, kadar asetilkolin sudah menurun. Jika AChE dan BChE terlalu aktif, gangguan memori dan kemampuan berpikir bisa semakin memburuk. Karena itu, banyak obat Alzheimer bekerja dengan cara memperlambat kerja kedua enzim tersebut.

Baca juga: Menurunnya Kemampuan Bicara Bisa Jadi Tanda Alzheimer

Beta-sitosterol jadi kandidat utama

Dari sejumlah senyawa yang dianalisis, beta-sitosterol dinilai paling menjanjikan. Senyawa ini menunjukkan ikatan yang kuat dan stabil dengan kedua enzim tersebut dalam simulasi komputer.

“Kami menemukan bahwa beta-sitosterol memiliki kemampuan berikatan yang kuat dan stabil dengan enzim yang terlibat dalam Alzheimer,” ujar Meriem Khedraoui, penulis utama studi tersebut, seperti dikutip dari ScienceDirect.

Ikatan yang kuat ini menunjukkan potensi beta-sitosterol untuk membantu menjaga kadar asetilkolin di otak.

Baca juga: Tanpa Riwayat Keluarga, Remaja Ini Kena Alzheimer di Usia 19 Tahun

Hasil awal uji keamanan dinilai positif

Selain menilai efektivitas, peneliti juga menganalisis potensi keamanan senyawa menggunakan pendekatan ADMET, yang mencakup penyerapan, distribusi, metabolisme, pembuangan dari tubuh, serta risiko toksisitas.

Hasil analisis menunjukkan beta-sitosterol memiliki profil keamanan yang baik dalam simulasi.

Senyawa ini diperkirakan dapat diserap tubuh dengan baik dan memiliki risiko efek samping yang rendah pada dosis tertentu.

“Kombinasi antara efektivitas dan profil keamanan yang baik membuat senyawa ini layak diteliti lebih lanjut,” kata Samir Chtita, salah satu peneliti dalam studi tersebut.

Masih perlu uji lanjutan

Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum bisa dijadikan dasar pengobatan.

Studi berbasis komputer perlu dilanjutkan dengan uji laboratorium dan uji klinis pada manusia untuk memastikan manfaat dan keamanannya.

Namun demikian, penelitian ini memberi harapan baru dalam pengembangan terapi Alzheimer berbasis tanaman alami, terutama di tengah keterbatasan pilihan pengobatan saat ini.

Baca juga: Remaja 19 Tahun Alami Alzheimer, Kenali Gejalanya Sejak Dini

Potensi baru dari tanaman yang sudah dikenal

Lidah buaya selama ini dikenal luas untuk perawatan kulit dan kesehatan pencernaan. Temuan ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut juga menyimpan potensi lain di bidang kesehatan otak.

Jika penelitian lanjutan membuktikan manfaatnya, senyawa dari lidah buaya berpeluang menjadi bagian dari strategi baru dalam menghadapi Alzheimer di masa depan.

Tag:  #lidah #buaya #hanya #untuk #kulit #peneliti #temukan #potensi #untuk #alzheimer

KOMENTAR