Cuci Tangan 20 Detik Masih Jadi Standar, Dokter Jelaskan Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
Ilustrasi cuci tangan. Dokter menegaskan durasi 20 detik tetap krusial saat mencuci tangan, karena kesalahan kecil yang sering dianggap sepele justru membuka jalan penularan penyakit.(Shutterstock/Alexander Raths)
21:06
2 Februari 2026

Cuci Tangan 20 Detik Masih Jadi Standar, Dokter Jelaskan Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

Di tengah meningkatnya kasus flu musiman, dokter kembali menegaskan bahwa mencuci tangan dengan benar selama 20 detik tetap menjadi cara paling sederhana dan efektif untuk mencegah penularan penyakit.

Kebiasaan ini dinilai lebih penting daripada jenis sabun atau suhu air yang digunakan, karena kunci utamanya terletak pada durasi dan teknik mencuci tangan.

Kesalahan yang paling sering terjadi bukan karena lupa mencuci tangan, melainkan melakukannya terlalu singkat dan tidak menyentuh seluruh bagian tangan.

Baca juga: Cara Cuci Tangan yang Efektif Cegah Penyakit Infeksi, Menurut Dokter

Tangan jadi jalur utama penularan kuman

Dokter keluarga di Lenox Hill Hospital, Northwell Health, Amerika Serikat, dr. Eric Ascher, menyebut tangan sebagai media utama penyebaran infeksi.

“Lebih dari 80 persen infeksi ditularkan melalui tangan yang membawa kuman dari permukaan lalu masuk ke mata, hidung, atau mulut,” kata Ascher, dikutip dari USA Today.

Ia menekankan pentingnya mencuci tangan sebelum makan, setelah menyentuh permukaan bersama, dan segera setelah tiba di rumah.

“Kebiasaan sederhana ini sering diremehkan, padahal dampaknya sangat besar,” ujarnya.

Baca juga: 5 Kesalahan Cuci Tangan yang Masih Banyak Dilakukan, Ini Kata Dokter

Mengapa harus 20 detik?

Ilustrasi cuci tangan. Dokter menegaskan durasi 20 detik tetap krusial saat mencuci tangan, karena kesalahan kecil yang sering dianggap sepele justru membuka jalan penularan penyakit.SHUTTERSTOCK/Maridav Ilustrasi cuci tangan. Dokter menegaskan durasi 20 detik tetap krusial saat mencuci tangan, karena kesalahan kecil yang sering dianggap sepele justru membuka jalan penularan penyakit.

Aturan mencuci tangan 20 detik yang dikenal sejak pandemi Covid-19 masih relevan hingga sekarang.

Menurut Ascher, waktu tersebut dibutuhkan agar sabun dan gesekan tangan benar-benar mampu merusak dan mengangkat kuman dari kulit.

“Durasi itu memungkinkan sabun bekerja optimal bersama gesekan tangan,” jelasnya.

Sebagai panduan praktis, masyarakat bisa menghitung waktu dengan menyanyikan lagu “Happy Birthday” dua kali.

Baca juga: 5 Kesalahan Cuci Tangan yang Masih Banyak Dilakukan, Ini Kata Dokter

Bagian tangan yang sering terlewat

Banyak orang mencuci tangan, tetapi tidak melakukannya secara menyeluruh. Ascher mengingatkan bahwa membersihkan telapak tangan saja tidak cukup.

Bagian yang wajib digosok meliputi sela-sela jari, punggung tangan, ujung jari, dan area bawah kuku.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat bahwa kuman sering berkumpul di bawah kuku, sehingga area ini kerap menjadi sumber penularan yang tidak disadari.

Baca juga: Dokter: Pakai Masker dan Cuci Tangan untuk Mencegah Infeksi HMPV

Suhu air tidak menentukan efektivitas

Suhu air tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan membunuh kuman.

“Yang menentukan efektivitas cuci tangan bukan air panas atau dingin, melainkan sabun, gesekan, dan waktu,” kata Ascher.

Air hangat disarankan karena lebih nyaman, sehingga seseorang bisa mencuci tangan lebih lama.

Air terlalu panas dapat membuat kulit kering, sementara air terlalu dingin sering membuat proses mencuci tangan dilakukan tergesa-gesa.

Baca juga: 10 Tindakan Pencegahan Mpox Virus, Ada Cuci Tangan dan Pakai Masker

Sabun biasa sudah cukup

CDC menegaskan bahwa sabun antibakteri tidak memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat umum dibandingkan sabun biasa.

Penelitian menunjukkan sabun biasa sudah efektif mengangkat kuman dari kulit jika digunakan dengan benar.

“Yang penting adalah menggunakan sabun dan menggosok tangan secara menyeluruh,” tulis CDC.

Sabun bekerja dengan mengangkat kotoran dan mikroorganisme, sementara gesekan membantu melepaskannya dari kulit.

Baca juga: 4 Penyakit akibat Malas Cuci Tangan yang Sering Muncul

Hand sanitizer bukan pengganti

Hand sanitizer sering digunakan sebagai solusi praktis, tetapi tidak dapat menggantikan cuci tangan dengan air dan sabun.

“Hand sanitizer hanya solusi sementara ketika air dan sabun tidak tersedia,” ujar Ascher.

Ia menjelaskan bahwa sanitizer tidak efektif membunuh semua jenis kuman, termasuk norovirus penyebab diare akut.

Selain itu, sanitizer dengan kandungan alkohol di bawah 70 persen dinilai kurang optimal dalam menonaktifkan mikroorganisme.

Baca juga: Hari Cuci Tangan Sedunia, Ingat 6 Cara Cuci Tangan yang Benar

Kebiasaan sederhana dengan dampak besar

Meski terlihat sepele, mencuci tangan dengan benar merupakan langkah pencegahan penyakit yang paling murah dan efektif.

Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat dan musim flu, kebiasaan ini kembali menjadi fondasi kesehatan yang tidak tergantikan.

Para ahli sepakat bahwa mencuci tangan selama 20 detik dengan sabun dan air mengalir tetap menjadi perlindungan dasar dari berbagai penyakit menular.

“Cuci tangan dengan benar bukan kebiasaan kecil, tetapi investasi kesehatan jangka panjang,” tutup Ascher.

Baca juga: 9 Cara Mencegah Hepatitis A, Bisa dengan Cuci Tangan dan Vaksinasi

Tag:  #cuci #tangan #detik #masih #jadi #standar #dokter #jelaskan #kesalahan #yang #paling #sering #terjadi

KOMENTAR