Studi Ungkap AI Bisa Deteksi Penurunan Kognitif Lebih Dini dari Catatan Dokter
Ilustrasi otak. AI mampu membaca sinyal awal penurunan kognitif dari catatan medis yang sering terlewat dalam pemeriksaan rutin.(Freepik)
17:06
2 Februari 2026

Studi Ungkap AI Bisa Deteksi Penurunan Kognitif Lebih Dini dari Catatan Dokter

Kecerdasan buatan (AI) dinilai mampu membantu mendeteksi tanda awal penurunan kognitif dengan tingkat akurasi tinggi melalui analisis catatan medis dokter, menurut studi terbaru.

Teknologi ini tidak bertujuan menggantikan dokter, melainkan membantu menyaring pasien yang berisiko mengalami gangguan kognitif dan membutuhkan tindak lanjut lebih cepat.

Temuan ini membuka peluang baru dalam deteksi dini demensia, terutama di tengah keterbatasan jumlah spesialis.

Baca juga: Gejala Demensia Bisa Muncul di Usia Muda, Ini Tanda-tanda yang Sering Diabaikan

Tanda awal sering tersembunyi dalam catatan medis

Laporan Live Science mengulas studi di jurnal npj Digital Medicine. Penelitian ini menunjukkan bahwa tanda awal penurunan kognitif kerap tidak tercatat sebagai diagnosis resmi, melainkan muncul dalam catatan harian dokter.

Catatan tersebut bisa berupa keluhan lupa, kebingungan, perubahan perilaku, atau kekhawatiran yang disampaikan keluarga pasien.

AI dikembangkan untuk memindai catatan ini dan mengenali pola yang sering terlewat dalam pemeriksaan rutin.

Baca juga: Tanpa Riwayat Keluarga, Remaja Ini Kena Alzheimer di Usia 19 Tahun

Fungsi AI sebagai sistem peringatan dini

ilustrasi AI. AI mampu membaca sinyal awal penurunan kognitif dari catatan medis yang sering terlewat dalam pemeriksaan rutin.Freepik/Freepik ilustrasi AI. AI mampu membaca sinyal awal penurunan kognitif dari catatan medis yang sering terlewat dalam pemeriksaan rutin.

Peneliti menegaskan sistem AI ini tidak digunakan untuk mendiagnosis demensia. Fungsinya adalah menandai pasien yang menunjukkan sinyal awal agar dokter dapat melakukan evaluasi lanjutan.

“Tujuannya bukan menggantikan penilaian klinis, tetapi membantu proses skrining,” kata Dr. Lidia Moura, profesor neurologi di Massachusetts General Hospital, dikutip dari Live Science.

Pendekatan ini dinilai relevan karena banyak fasilitas kesehatan menghadapi keterbatasan waktu dan tenaga spesialis.

Baca juga: Remaja 19 Tahun Alami Alzheimer, Kenali Gejalanya Sejak Dini

Cara kerja sistem AI

Sistem dikembangkan menggunakan pendekatan agentic, yakni beberapa agen AI yang bekerja bersama dan saling memeriksa hasil analisis.

Teknologi ini dibangun dengan model bahasa besar Meta Llama 3.1 dan dilatih menggunakan tiga tahun catatan medis rumah sakit.

Catatan tersebut mencakup kunjungan klinik, laporan perkembangan pasien, dan ringkasan rawat inap yang telah ditinjau dokter sebelumnya.

Melalui proses pembelajaran berulang, AI mempelajari pola yang mengindikasikan kekhawatiran kognitif.

Baca juga: Remaja 19 Tahun Diduga Alami Alzheimer, Kasus Termuda yang Pernah Dilaporkan

Hasil uji akurasi

Pada tahap awal pengujian, sistem AI menunjukkan kesesuaian dengan penilaian dokter sekitar 91 persen.

Namun, ketika diuji pada data yang lebih mencerminkan kondisi klinis sehari-hari, tingkat sensitivitasnya turun menjadi sekitar 62 persen.

Artinya, AI masih melewatkan sebagian kasus yang ditandai dokter. Perbedaan ini kemudian dianalisis lebih lanjut oleh para peneliti.

Ketika AI berbeda pendapat dengan dokter

Catatan medis yang dinilai berbeda diperiksa ulang oleh pakar klinis independen tanpa mengetahui sumber penilaian.

Hasilnya, dalam 44 persen kasus, para pakar justru menilai klasifikasi AI lebih tepat dibanding tinjauan awal dokter.

“Ini temuan yang cukup mengejutkan,” ujar Hossein Estiri, profesor neurologi dan salah satu penulis studi.

Menurutnya, AI cenderung lebih ketat dan konsisten dalam menerapkan definisi klinis penurunan kognitif.

Baca juga: Kenali Apa Itu Penyakit Alzheimer, Penyebab, dan Gejalanya

Keterbatasan dan catatan penting

Meski menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa teknologi ini masih memiliki keterbatasan.

Julia Adler-Milstein, pakar informatika kesehatan dari University of California, San Francisco, mengatakan manfaat AI sangat bergantung pada cara penerapannya.

“Peringatan harus akurat, sampai ke tim yang tepat, dan bisa ditindaklanjuti agar benar-benar bermanfaat,” ujarnya.

Peneliti lain, Karin Verspoor dari RMIT University, menekankan bahwa sistem ini baru diuji di satu jaringan rumah sakit.

Baca juga: Walau Ada AI, Dokter Tetap Jadi Pilar Utama Penanganan Pasien

Belum digunakan di layanan klinik

Saat ini, sistem AI tersebut belum diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari. Estiri menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk berjalan di latar belakang rekam medis elektronik.

“Dokter tidak menggunakan AI secara langsung, tetapi mendapatkan informasi tambahan dalam catatan klinis,” katanya.

Pendekatan ini diharapkan meningkatkan kewaspadaan tanpa mengganggu alur kerja medis.

Dengan membaca sinyal halus yang kerap terlewat, teknologi ini dapat membantu dokter mengambil keputusan lebih cepat.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa peran dokter tetap menjadi penentu utama dalam penanganan pasien.

Baca juga: AI Bantu Deteksi Dini Depresi Tersembunyi lewat Gerakan Wajah

Tag:  #studi #ungkap #bisa #deteksi #penurunan #kognitif #lebih #dini #dari #catatan #dokter

KOMENTAR