Indikator Nyata Makan Bergizi, Perbaikan Asupan Pangan hingga Penurunan Insiden Penyakit
Makan adalah salah satu aspek perilaku manusia untuk bertahan hidup. Bertahan hidup dengan kualitas hidup yang baik adalah tingkatan lebih tinggi untuk mendefinisikan makanan seperti apa yang perlu dikonsumsi.
Di sisi lain, manusia juga mempunyai panca indera yang membuat hidupnya bisa menikmati segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup.
Jika ketiga hal di atas dirangkai, maka bisa dikatakan: manusia membutuhkan makanan sehat sekaligus nikmat.
Baca juga: Tahun Baru, Memupuk Gizi Tanpa Harapan Semu
Di tengah hiruk pikuk aneka aliran pola makan dan pola asuh, ketersediaan bahan pangan, kultur, literasi dan kebijakan yang mengatur konsumsi publik, Indonesia saat ini ibarat berada di persimpangan jalan yang ruwet tanpa lampu pengatur lalu lintas.
Setelah hampir 81 tahun merdeka, mestinya rakyat kita sudah cukup paham mengatur dan mengonsumsi makanan bergizi, sebab selain sumber daya alamnya mendukung, juga budaya memasak kita cukup tinggi.
Sayangnya tren pola asuh yang kian melenceng dan tidak didukung kebijakan pemerintah untuk membatasi membanjirnya produk miskin gizi akhirnya kasus wasting, stunting, underweight juga overweight diderita oleh balita.
Tidak cukup mendera status gizi, risiko penyakit kronik tidak menular menghantui masa depan anak sekaligus membebani jaminan kesehatan nasional.
Makan Bergizi Harusnya Bertujuan untuk Perbaikan Gizi
Istilah ‘makan bergizi’ mestinya dipahami sebagai perilaku yang menuntun pada tujuan perbaikan asupan pangan dan status gizi itu sendiri.
Bukan yang lain. Indikator (tanda) keberhasilannya tentu berkaitan dengan pergeseran asupan pangan yang lebih sehat, semakin minimnya konsumsi pangan berisiko, peningkatan status gizi dan menurunnya insiden penyakit yang berkaitan dengan asupan pangan.
Kita bisa mencontoh 11 kriteria indikator pola makan sehat (Healthy Diet Indicators) organisasi kesehatan dunia/ WHO antara lain: Peningkatan asupan sayur, buah, kacang-kacangan dan serat pangan.
Sebaliknya, menekan asupan lemak jenuh, garam dan gula imbuhan. Dalam metodologi studi ilmu gizi, dikenal pencatatan yang disebut FFQ (Food Frequency Questionaire) yang ‘merekam’ data berbagai jenis asupan pangan yang bisa diperbandingkan sebelum dan sesudah intervensi gizi.
Baca juga: Gastrokolonialisme Berbalut Altruisme, Ketika Donasi Makanan Bergizi Terlalu Andalkan Produk Olahan
Apabila kita serius menangani makan bergizi, maka pekerjaan rumah kita amat sangat banyak.
Bukan menghitung jumlah dapur dan jumlah serapan karyawan apalagi industri rumahan yang menjadi UMKM dadakan demi ikut ambil untung berkolaborasi dengan pemilik yayasan.
Itu semua mestinya hanya imbas apabila tujuan utama berhasil dicapai. Sayangnya yang sifatnya imbas itu dijadikan tolok keberhasilan, sementara istilah ‘makan bergizi’ semakin kabur, sebab publik mengeluhkan munculnya produk tinggi gula dalam kemasan, produk yang tidak selaras dengan panduan pemberian makan bayi dan anak, produk yang justru tinggi garam.
Belum lagi, bahan pangan yang sudah tak layak konsumsi, bahkan tata kelola yang buruk menyebabkan food poisoning terus terjadi berulang kali setelah lebih dari 1 tahun program nasional ini berjalan.
Mengabaikan tujuan makan bergizi bahkan semakin melebar ke sasaran penerima yang perlu perlakuan yang tidak sama akan mengacaukan derajat kesehatan dan kesejahteraan publik.
Bahkan, sudah saatnya kita memperhitungkan masuknya epidemiologi gizi (epidemiology nutrition), yaitu studi tentang bagaimana pola makan dan nutrisi memengaruhi kesehatan populasi, menyelidiki hubungan antara makanan, pola makan, dan risiko penyakit seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan kanker, menggunakan metode epidemiologi untuk memberikan informasi bagi kebijakan kesehatan masyarakat, pedoman gizi, dan intervensi untuk pencegahan penyakit.
Terutama pembagian makan ini sekarang sudah mulai ditujukan pada kelompok rentan: lansia. Pun kelompok dewasa produktif kita banyak yang telah menderita penyakit kronik.
Seorang guru yang obes tentu tidak boleh mendapat makanan yang sama dengan sejawatnya yang kurus.
Pendataan Tidak Akurat Jadi Bumerang
Pendataan populasi penerima ‘manfaat’ yang tidak akurat membuat tujuan program bisa kesasar bahkan menjadi bumerang dengan segala akibatnya.
Sudah terlalu banyak laporan kacaunya kualitas makanan dan pembagian produk-produk yang tidak semestinya di posyandu dimana PMT (pemberian makanan tambahan) telah tersingkir.
Padahal PMT yang benar dikonsultasikan oleh kader posyandu dengan tenaga gizi Puskesmas, disesuaikan untuk kebutuhan bayi dan anak.
Baca juga: Fenomena Gunung Es Makan Bergizi Gratis, Ancaman Keracunan di Masa Depan
Istilah B2SA (Beragam, bergizi, seimbang dan aman) harus benar-benar dihayati dalam bentuk pangan sehari-hari yang mudah diakses, terjangkau dan faktor keamanan bukan soal hari ini saja: bebas cemaran dan racun, tapi juga aman dikonsumsi dalam jangka waktu panjang: tidak menyebabkan kerugian akibat kelebihan gula, garam, lemak tidak sehat dan imbuhan-imbuhan yang hanya sekadar membuat kecanduan.
Walaupun katanya tidak beracun tapi potensial merusak keseimbangan probiotik sekaligus mengarahkan konsumennya untuk mengonsumsi produk serupa dengan kualitas yang jauh lebih rendah.
Tidak ada rakyat bodoh yang menolak program nasional, apabila memang betul mereka rasakan manfaatnya.
Rakyat kita tidak boleh terpecah belah menjadi kubu yang membabi buta menerima dengan paksaan bersyukur karena hemat uang jajan, sementara sebagian masyarakat kita sudah mulai melek gizi dan menjadi kritis dengan apa yang mereka terima.
Tidak perlu menjadi riuh rendah saling tuding saat kejadian yang tak diharapkan terjadi. Begitu pula tidak perlu menyalahkan yayasan atau SPPG yang memang orientasinya cari untung – mustahil mengharapkan orang berbudi luhur, apalagi tanpa punya latar belakang pemahaman ‘makan bergizi’ sesungguhnya.
Itu sebab kita tidak punya data keberhasilan dari sisi nutrisi, edukasi dan status gizi. Tujuan makan bergizi sudah melenceng dari segala segi.
Baca juga: Belajar dari Tiongkok, Warisan Tradisi Jadi Bekal Atasi Stunting hingga Ciptakan Teknologi
Tag: #indikator #nyata #makan #bergizi #perbaikan #asupan #pangan #hingga #penurunan #insiden #penyakit