Bill Gates, Jeff Bezos, dan Sam Altman Masuk Jajaran Miliarder yang Menanamkan Modal pada Proyek Freedom City di Greenland
— Ketertarikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Greenland menjadi titik balik yang mengubah pulau es di kawasan Arktik itu dari wilayah pinggiran menjadi pusat perhatian elite global. Beberapa bulan setelah Trump secara terbuka menyatakan minat agar Amerika Serikat memiliki kendali lebih besar atas Greenland, sejumlah miliarder teknologi dunia—termasuk Bill Gates, Jeff Bezos, Sam Altman dan Michael Bloomberg—mulai menanamkan modal strategis di wilayah yang kaya mineral tersebut.
Langkah para miliarder itu tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan dengan kepentingan geopolitik Amerika Serikat di kawasan Arktik, terutama terkait keamanan, rantai pasok mineral kritis, dan persaingan global dengan kekuatan lain seperti Rusia dan Tiongkok. Greenland pun perlahan bergeser dari sekadar isu diplomatik menjadi medan baru konsolidasi modal, teknologi, dan strategi negara.
Dilansir dari Forbes, Selasa (13/1/2026), keterlibatan para miliarder teknologi itu tercermin dari investasi mereka di KoBold Metals sejak 2019. “Jeff Bezos, Bill Gates, dan Michael Bloomberg telah berinvestasi di KoBold Metals, perusahaan yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menemukan mineral kritis yang dibutuhkan industri modern,” tulis Forbes. Pada Desember 2024, Breakthrough Energy—dana iklim milik Gates—juga ikut serta dalam putaran pendanaan Seri C dengan nilai mendekati USD 3 miliar atau sekitar Rp 50,6 triliun, dengan kurs Rp 16.860 per dolar AS.
Sam Altman, CEO OpenAI, juga tercatat sebagai salah satu investor KoBold Metals melalui partisipasinya dalam pendanaan Seri B pada 2022 yang bernilai total USD 192,5 juta atau sekitar Rp 3,24 triliun. Meski para miliarder tersebut menolak memberikan komentar publik, dokumen pengajuan ke otoritas pasar modal Amerika Serikat pada Januari 2026 menunjukkan bahwa KoBold Metals masih membuka peluang pendanaan lanjutan, yang mencerminkan berlanjutnya minat investor besar terhadap proyek tersebut.
Seiring investasi mineral, wacana pembangunan freedom city—istilah yang digunakan untuk menggambarkan kota baru dengan tingkat fleksibilitas regulasi yang tinggi—di Greenland turut mencuat dan memperluas dimensi isu ini. Konsep kota futuristik dengan regulasi minimal tersebut kerap dikaitkan dengan kalangan investor teknologi Silicon Valley. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya bahkan mempopulerkan istilah “freedom cities” dalam kampanye politiknya, meski gagasan itu berkembang melampaui konteks domestik Amerika Serikat.
Tak hanya itu, Dryden Brown, salah satu pendiri startup Praxis yang mengeksplorasi pembangunan kota berteknologi tinggi, menyebut Greenland sebagai lokasi potensial bagi proyek mereka. Dalam unggahan di platform X, Brown menyebut Terminus—nama konsep kota futuristik yang dikembangkan Praxis—sebagai prototipe awal. “Kita harus membangun prototipe Terminus di Bumi sebelum berangkat ke Mars. Saya percaya Greenland adalah tempatnya,” tulis Brown, seperti dikutip Reuters. Praxis sendiri didukung sejumlah tokoh teknologi, termasuk Peter Thiel dan Sam Altman.
Namun, gagasan tersebut menuai kritik dari kalangan akademisi dan pengamat kebijakan di Eropa. Anne Merrild, profesor keberlanjutan dan perencanaan di Aalborg University, Denmark, menegaskan bahwa Greenland bukanlah wilayah kosong. “Greenland bukan ruang hampa yang menunggu untuk dieksperimenkan. Wilayah ini memiliki komunitas, institusi demokratis, dan rasa penentuan nasib sendiri yang kuat,” ujarnya, seperti dikutip Forbes.
Merrild menambahkan bahwa setiap bentuk pembangunan, termasuk konsep kota jaringan atau freedom city, harus sejalan dengan hukum Greenland, nilai sosial setempat, serta tujuan jangka panjang masyarakatnya. Menurutnya, hingga kini banyak gagasan tersebut masih “terputus dari realitas sosial dan politik Greenland.”
Secara lebih luas, keterlibatan para miliarder teknologi ini mencerminkan persaingan global atas sumber daya strategis yang semakin intensif. Mineral tanah jarang yang menjadi incaran KoBold Metals merupakan komponen penting bagi kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan sistem pertahanan—sektor yang selama ini masih sangat bergantung pada rantai pasok global yang didominasi negara tertentu, termasuk Tiongkok.
Dengan populasi kurang dari 57.000 jiwa dan wilayah yang luasnya lebih dari tiga kali Texas, Greenland kini berada di persimpangan kepentingan ekonomi, teknologi, dan geopolitik. Perpaduan modal besar, ambisi teknologi, serta kepentingan strategis negara menjadikan pulau es ini sebagai medan baru persaingan pengaruh global yang kian menguat.
Tag: #bill #gates #jeff #bezos #altman #masuk #jajaran #miliarder #yang #menanamkan #modal #pada #proyek #freedom #city #greenland