



Bos Pentagon Sebut Ukraina Punya Rudal Balistik Lokal, Tak Perlu ATACMS Untuk Serang Wilayah Rusia
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan bahwa alasan terbaru AS takmemberi izin Ukraina adalah kini Kiev telah memiliki kemampuan menyerang Rusia dengan rudal buatan sendiri.
"Ukraina sudah memiliki kemampuan signifikan untuk menyerang target di luar kemampuan ATACMS atau Storm Shadow. Rusia telah memindahkan pesawat yang mereka gunakan untuk KAB di luar jangkauan ATACMS. Kami fokus membantu mereka (Ukraina) agar lebih efektif dalam mempertahankan wilayah mereka," kata Austin dalamm pertemuan di Ramstein, Jerman, Jumat (6/9/2024) dikutip dari Strana.
Rusia telah memindahkan pangkalan militer udaranya ke wilayah di luar jangkauan ATACMS yang mampu menyerang hingga jarak 350 kilometer.
Washington tidak menyembunyikan fakta bahwa mereka khawatir eskalasi berikutnya dalam hubungan dengan Rusia dan Amerika akan terseret ke dalam perang.
Selain itu, menurut laporan media, Joe Biden berasumsi bahwa Zelensky sengaja menyeret AS ke dalam perang dengan Federasi Rusia.
Meski demikian, pernyataan bos Pentagon Lloyd Austin ada benarnya. Sekarang Ukraina telah berhasilmenguji coba rudal balistiknya sendiri.
Media Visit Ukraine pada Juli lalu menyebutkan, rudal ini dapat membawa serangan terhadap fasilitas militer Rusia ke tingkat yang baru.
Meskipun program rudal tersebut sangat dirahasiakan, analis militer telah mencoba menjelaskan persenjataan baru Ukraina.
Namun Presiden Volodymyr Zelensky enggan mengungkapkan ke para wartawan.
"Saya pikir masih terlalu dini untuk membicarakannya, tetapi sudah ada uji coba - positif - dari rudal balistik Ukraina pertama. Saya mengucapkan selamat kepada kompleks industri militer kita atas hal ini," kata presiden.
Ia menegaskan bahwa proek rudal balistik Ukraina sendiri menunjukkan tingginya tingkat spesialis Ukraina dalam industri pertahanan.

Ia menambahkan, program rudal Ukraina memiliki ‘dinamika yang baik’. Pada saat yang sama, ia mengatakan bahwa Ukraina secara bertahap mendekati kemungkinan menggunakan rudalnya sendiri dan tidak hanya mengandalkan pengiriman dari mitra.
Ukraina telah memiliki rudal balistik Tochka-U dan ATACMS. Yang pertama adalah senjata yang dikembangkan di Uni Soviet, dan yang kedua adalah bantuan dari mitra Amerika.
Namun, rudal ini jumlahnya sedikit dan radius penghancurannya diperkirakan maksimal 300 kilometer.
Proyek Rudal Balistik UkrainaLantas apa proyek rudal Ukraina itu? beberapa pengamat memperkirakan bahwa uji coba tersebut terkait dengan sistem pertahanan antirudal Sapsan dalam negeri, alias Grom-2.
Pengamat militer Defense Express menyebut November 2023, AFU untuk pertama kalinya selama perang berbicara tentang kasus-kasus dengan Grom-2.
Kemudian ada petunjuk yang diberikan oleh kepala Direktorat Utama Pasukan Roket dan Artileri dan Sistem Tak Berawak Staf Umum AFU, Brigadir Jenderal Sergei Baranov, di siaran Army FM.
Sistem rudal taktis operasional tersebut merupakan pengembangan pertama dari kompleks industri militer Ukraina yang independen.
Pengembangan rudal ini mulai direncanakan pada akhir abad lalu, setelah runtuhnya Uni Soviet. Saat itu Ukraina memutuskan bahwa mereka membutuhkan rudal taktis dengan jangkauan hingga 500-650 kilometer.
Proyek kompleks Grom baru dikembangkan pada tahun 2013. Saat itu, tercatat bahwa ini adalah senjata presisi generasi baru yang mampu memastikan terciptanya perisai penangkal non-nuklir yang andal, baik untuk Ukraina sendiri maupun negara mana pun.
Pada tahun 2018, diketahui bahwa uji coba kepala pelacak untuk rudal kompleks tersebut telah selesai. Setahun kemudian, diklaim bahwa prototipe 'Grom-2' siap diuji dalam 'waktu dekat'.
Perlu dicatat bahwa media Ukraina berspekulasi bahwa Ukraina telah menguji rudal tersebut dan beberapa sampel masih dikirimkan ke tentara. Misalnya, setelah dimulainya perang skala penuh, ada spekulasi tentang penggunaan 'Grom' di lapangan terbang Rusia. Namun, tidak ada konfirmasi atas informasi ini.
Tag: #pentagon #sebut #ukraina #punya #rudal #balistik #lokal #perlu #atacms #untuk #serang #wilayah #rusia