

Suasana pelatihan numerasi guru SD dan MI bertajuk Tadris Matematika oleh NU Circle. (Dokumentasi NU Circle)


Kemampuan Numerasi Anak Indonesia Lemah, Tantangan Sambut Generasi Emas 2045
- Sejumlah elemen masyarakat ikut berpartisipasi menyiapkan generasi emas 2045, lewat jalur pendidikan. Diantaranya dengan pelatihan numerasi guru-guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan SD oleh komunitas Perkumpulan Nusantara Utama Cita (NU Circle). Wakil Ketua NU Circle Ahmad Rizali menuturkan kegiatan pelatihan numerasi guru MI dan SD itu, mereka sebut sebagai Tadris Matematika. Salah satu sasaran mereka adalah guru-guru MI dan SD di Kota Kediri, Jawa Timur. Dia mengatakan, program Tadris Matematika itu akan terus bergerak untuk memastikan anak Indonesia mampu bernalar lebih baik. Sehingga di masa depan, anak-anak tersebut bisa lebih produktif. “Saat ini kompetensi numerasi anak Indonesia masih sangat buruk," katanya kepada wartawan Sabtu (17/2). Implikasinya adalah angka Human Capital Index (HCI) Indonesia juga ikut buruk. Jika ini dibiarkan, capaian Indonesia Emas hanya omong kosong. Dia mengatakan masyarakat harus bergerak melakukan inisiatif perbaikan. Menurut dia, Komunitas NU Cirle melalui Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) telah berupaya ikut mengatasi masalah itu. Rizali mengatakan, angka HCI Indonesia harus baik. Saat ini angkanya hanya 54 persen. Caranya pemerintah harus membuat payung hukum secara nasional untuk mempercepat peningkatan mutu pendidikan dasar. “Selain gerakan masyarakat secara nasional, Pemerintah punya peran penting," jelasnya. Yaitu dengan membuat regulasi semacam Perpres Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan (Dasar). Cara ini akan menggerakkan banyak pihak dan seluruh institusi untuk memperhatikan kualitas pendidikan dasar di setiap wilayah di Indonesia secara terstruktur, sistematis, dan masif. Secara khusus Rizali meminta Walikota Kediri dan Dinas Pendidikan Kota Kediri melakukan sinergi lima pihak atau Pentahelix. Sinergi melibatkan korporasi di Kediri seperti Djarum Foundation, perguruan tinggi, dan media massa. "Dengan sinergi Pentahelix, kami yakin gerakan mencerdaskan anak-anak Indonesia dapat lebih efektif dan berkelanjutan," tegasnya. Dia juga menyampaikan berkat dukungan PT Paragon, program Tadris Matematika NU Circle itu telah dilaksanakan selama tiga tahun. Fokus gerakan Tadris Matematika mengedukasi guru MI di pondok pesantren dan di lingkungan Kanwil Kementerian Agama serta Dinas Pendidikan di berbagai daerah. Sedikitnya 50 guru SD/MI di Kota Kediri akan dilatih selama 6 hari yang dilaksanakan dua gelombang. Gelombang pertama pelatihan dilaksanakan selama tiga hari dan gelombang kedua tiga hari. Proses pelatihan dalam sehari akan memakan waktu selama minimal 6 jam efektif. Dampak terbesar dari gerakan Tadris Matematika adalah membangun kompetensi guru MI atau SD agar mampu membangun siswa siswi yang lebih bisa berpikir dan bernalar melalui kompetensi matematika. "Saya berharap guru-guru peserta pelatihan ini betul-betul dapat memahami strategi pembelajaran ala Gernas Tastaka," kata kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan. Sehingga pembelajaran matematika di kelas akan lebih bernalar, kontekstual,sederhana dan mendasar.
Editor: Estu Suryowati
Tag: #kemampuan #numerasi #anak #indonesia #lemah #tantangan #sambut #generasi #emas #2045