Fakta-fakta Gunung Bulusaraung, Lokasi Jatuhnya ATR 42-500
- Gunung Bulusaraung dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian populer di Sulawesi Selatan.
Gunung nonvulkanik ini memiliki ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan tersusun dari batuan kapur atau karst, yang membentuk tebing-tebing terjal serta jalur sempit dengan bebatuan tajam di hampir seluruh lerengnya.
Secara administratif, Gunung Bulusaraung berada di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, dan dikelola sebagai bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Dikutip dari laman resmi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kawasan Pegunungan Bulusaraung memiliki luas sekitar 137,29 hektare dengan topografi relief tinggi, lereng curam, serta tekstur permukaan yang kasar.
Karakter karst yang mendominasi kawasan ini membuat jalur pendakian Gunung Bulusaraung tergolong menantang.
Gunung ini memiliki sekitar 10 pos pendakian, dengan medan berbatu dan tanjakan curam di sejumlah titik.
Meski demikian, jalur menuju puncak relatif pendek sehingga tetap diminati pendaki, terutama dari wilayah Sulawesi Selatan.
Gunung Bulusaraung juga berada dalam kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang memiliki luas sekitar 43.740 hektare dan membentang di wilayah Kabupaten Maros, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), hingga Bone.
Kawasan ini dikenal sebagai salah satu bentang alam karst terbesar di Indonesia, dengan menara-menara kapur, gua alami, serta vegetasi khas pegunungan karst.
Selain nilai geologis, kawasan ini juga menyimpan sistem hidrologi alami yang unik.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat, di balik menara-menara karst tersebut terdapat sungai bawah tanah dan mata air karst yang mengalir sepanjang tahun, menjadi sumber air penting bagi ekosistem di sekitarnya.
Tak hanya itu, kawasan Bantimurung Bulusaraung juga memiliki nilai sejarah dan prasejarah yang tinggi.
Sejumlah gua di kawasan ini diketahui menyimpan lukisan dinding manusia prasejarah.
Lukisan tersebut antara lain ditemukan di Gua Petta Kere dan Gua Petae yang berada di kawasan Taman Prasejarah Leang-leang, menjadikan wilayah ini penting dalam kajian arkeologi dan sejarah awal manusia di Sulawesi.
Gunung Bulusaraung kembali menjadi perhatian setelah ditemukannya serpihan pesawat ATR 42-500 di kawasan ini.
Lokasi penemuan berada di sekitar Pos 9 pendakian, yang dikenal memiliki medan terjal dan tertutup vegetasi karst rapat, memperlihatkan tingkat kesulitan medan di kawasan tersebut.
Dengan kombinasi bentang alam ekstrem, kekayaan geologis, serta jejak sejarah manusia purba, Gunung Bulusaraung bukan sekadar tujuan pendakian, melainkan kawasan konservasi penting yang menyimpan nilai alam dan budaya Sulawesi Selatan.