Rasa Malu dan Tidak Dianggap Bisa Melukai Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Rasa malu, merasa berbeda, hingga perasaan tidak dianggap dapat memengaruhi kesehatan mental anak secara mendalam.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pada usia sekolah dasar, mereka sangat peka terhadap pengalaman emosional, terutama yang berkaitan dengan penerimaan dan rasa aman.
"Ketika anak merasa tidak ada jalan keluar, tidak didengar, atau tidak punya figur aman untuk bercerita, pikiran ekstrem bisa muncul sebagai bentuk keputusasaan. Ini menandakan kebutuhan dukungan psikologis yang mendesak, bukan semata persoalan kehendak," ujar Vera saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.
Masalah “kecil” yang terasa sangat besar bagi anak
Menurut Vera, kebutuhan sekolah bukan sekadar benda fungsional bagi anak, melainkan bagian dari identitas dirinya.
Ketika seorang anak tidak mampu membawa buku atau alat tulis seperti teman-temannya, kondisi itu bisa ditafsirkan sebagai tanda bahwa dirinya berbeda, tidak diperhatikan, atau tidak diutamakan.
“Anak belum punya kapasitas untuk memaknai situasi secara rasional seperti orang dewasa. Yang muncul adalah rasa malu, perasaan tidak setara, dan takut dinilai oleh lingkungan,” kata Vera.
Perasaan tersebut dapat semakin berat jika anak tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
Ketika keluhannya tidak terdengar atau dianggap remeh, anak bisa merasa sendirian menghadapi masalahnya.
Baca juga: Berkaca dari Kasus Bunuh Diri Anak di NTT, Psikiater Tekankan Pentingnya Dukungan Emosional
Tanda tekanan mental anak yang sering terlewat
Vera menekankan bahwa tekanan mental pada anak sering kali muncul dalam bentuk yang tidak selalu disadari orangtua maupun guru.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi lebih pendiam atau menarik diri, mudah marah, sering menangis, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, serta enggan berangkat ke sekolah.
Selain itu, gangguan tidur atau nafsu makan, keluhan fisik berulang seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab medis yang jelas, hingga pernyataan merasa tidak berguna atau ingin “menghilang” juga merupakan sinyal penting.
Dalam beberapa kasus, anak bahkan mulai memberikan barang kesayangan tanpa alasan yang jelas.
“Perubahan perilaku yang konsisten dan berlangsung terus-menerus perlu mendapat perhatian serius,” ujar Vera.
Ilustrasi anak-anak. Setiap 20 November diperingati sebagai Hari Anak Sedunia. Temukan berbagai ucapan untuk Hari Anak Sedunia yang menyentuh hati, penuh semangat, dan sarat pesan positif untuk masa depan anak-anak.
Dampak kemiskinan terhadap rasa aman anak
Lebih jauh, Vera menjelaskan bahwa kemiskinan struktural tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga pada rasa aman dan harga diri anak.
Ketidakpastian yang terus-menerus dapat membuat anak merasa hidupnya rapuh dan sulit diprediksi.
Di sisi lain, orangtua yang berada dalam tekanan ekonomi berat juga berisiko memiliki kapasitas emosional yang terbatas.
Akibatnya, kebutuhan afeksi dan validasi emosional anak tidak selalu terpenuhi secara optimal, meski tanpa niat mengabaikan.
Baca juga: Bagaimana Anak Bisa Sampai pada Pikiran Mengakhiri Hidup? Ini Penjelasan Psikolog
Peran sekolah dan lingkungan sekitar
Dalam kondisi seperti ini, sekolah memegang peran penting sebagai sistem pendukung.
Deteksi dini melalui guru wali kelas atau bimbingan konseling, komunikasi rutin dengan orangtua, serta mekanisme bantuan kebutuhan dasar seperti alat tulis tanpa mempermalukan anak menjadi langkah krusial.
“Sekolah juga perlu menumbuhkan budaya empati di kelas, mencegah perundungan, dan mengajarkan anak untuk saling menolong,” kata Vera.
Selain itu, koordinasi dengan komunitas, program CSR, atau dinas terkait dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar anak secara bermartabat.
Mendengar sebagai bentuk perlindungan
Vera menegaskan bahwa pencegahan paling efektif adalah kombinasi antara dukungan emosional, pemenuhan kebutuhan dasar, dan akses bantuan profesional.
Di lingkungan keluarga, komunikasi terbuka menjadi kunci.
“Dengarkan anak lebih awal, sekecil apa pun keluhannya. Bagi anak, didengar adalah bentuk penghargaan dan perlindungan yang sangat besar,” ujarnya.
Menurut Vera, yang paling dibutuhkan anak adalah kehadiran, rasa aman, dan harapan.
Ketika lingkungan mampu peka dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak, risiko krisis dapat berkurang secara signifikan.
Tag: #rasa #malu #tidak #dianggap #bisa #melukai #mental #anak #kata #psikolog