Bukan Lagi Nostalgia, Jamu Jadi Masa Depan Kesehatan Indonesia
- Jamu disebut juga sebagai obat herbal. Minuman tradisional itu kerap dipercaya masyarakat Indonesia sebagai obat mujarab ketika sakit. Jamu dianggap sebagai jati diri bangsa.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan bahwa jamu sebagai warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, sekaligus potensi ekonomi kreatif yang belum sepenuhnya digarap. Apalagi di Indonesia terdapat sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional.
"Ini merupakan sebuah lanskap pengetahuan lokal yang mencerminkan jati diri bangsa," ujar Taruna Ikrar kepada wartawan pada Kamis (5/2). Di balik angka-angka tersebut tersimpan peluang besar untuk kesehatan masyarakat dan daya saing ekonomi berbasis budaya.
Selaras dengan ini, di sebuah sudut Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta, kawasan yang lekat dengan denyut gaya hidup urban, jamu menemukan wajah barunya. Tak lagi sekadar minuman tradisional yang diwariskan dari dapur ke dapur, Cafe Jamu Indonesia menghadirkan pengalaman budaya yang dirayakan, dikurasi, dan dihadirkan dengan bahasa zaman.
Taruna Ikrar mengapresiasi inisiatif Acaraki yang mengembangkan jamu dengan pendekatan yang bertanggung jawab serta taat regulasi. Menurut dia, inovasi berbasis kekayaan alam hanya akan bernilai jika dijalankan dengan menjunjung tinggi aspek keamanan dan mutu.
Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia tidak dibangun dari klaim semata, melainkan dari kepastian standar yang jelas dan konsisten. Keyakinan itu juga tercermin dalam kebiasaan pribadinya. Setiap pagi, Taruna Ikrar rutin mengonsumsi jamu jahe.
Praktik sederhana tersebut menjadi simbol kepercayaannya bahwa budaya minum jamu merupakan tradisi positif yang harus terus dijaga. “Ia harus diwariskan dengan bahasa dan pendekatan yang relevan dengan zaman,” kata Taruna.
Dalam ranah kebijakan, Taruna Ikrar dikenal sebagai sosok yang aktif mendorong transformasi jamu secara menyeluruh. Ia kerap disebut sebagai arsitek transformasi jamu nasional, peran yang dijalankannya melalui kolaborasi lintas sektor.
Taruna menilai jamu perlu bertransformasi dari pengetahuan tradisional menjadi produk modern yang aman, bermutu, dan memiliki daya saing. Dengan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menembus pasar global. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pendekatan ilmiah yang kuat dan kepatuhan terhadap regulasi.
BPOM juga memperkuat pengawasan terhadap obat tradisional agar jamu Indonesia siap melangkah ke pasar internasional. Standar global, menurut Taruna, bukanlah pembatas, melainkan jembatan agar jamu Indonesia diterima dunia tanpa kehilangan jati diri. Dalam perspektif ini, jamu tidak sekadar dipandang sebagai produk kesehatan, tetapi juga sebagai representasi budaya dan bagian dari ekonomi kreatif nasional.
Transformasi tersebut berjalan beriringan dengan sikap tegas. Taruna Ikrar menegaskan komitmen BPOM dalam memberantas peredaran jamu ilegal, baik yang tidak memiliki izin edar maupun yang mengandung bahan kimia berbahaya. Baginya, perlindungan terhadap masyarakat merupakan syarat mutlak agar industri jamu dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Ke depan, Taruna juga mendorong integrasi jamu dan obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional. Ia menilai Indonesia dapat mengambil pelajaran dari negara seperti Tiongkok dan India yang berhasil menggabungkan pengobatan tradisional dengan layanan kesehatan modern, tanpa mengabaikan aspek keamanan dan efektivitas.
“Dari akar budaya leluhur, jamu melangkah menuju masa depan kesehatan global, membawa narasi tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju,” pungkas Taruna.
Tag: #bukan #lagi #nostalgia #jamu #jadi #masa #depan #kesehatan #indonesia