Xiaomi Pimpin Revolusi Global Lewat Pabrik Robot Beijing yang Mampu Memproduksi Satu Ponsel per Detik Tanpa Manusia
Ilustrasi konsep pabrik robot gelap yang sepenuhnya otomatis (BGR)
22:52
5 Februari 2026

Xiaomi Pimpin Revolusi Global Lewat Pabrik Robot Beijing yang Mampu Memproduksi Satu Ponsel per Detik Tanpa Manusia

Xiaomi kembali menegaskan posisinya sebagai pelopor transformasi manufaktur global melalui fasilitas produksi ponsel pintar yang sepenuhnya otomatis di distrik Changping Beijing

Pabrik yang dikenal dengan istilah dark factory atau pabrik gelap berbasis otomatisasi penuh ini bukan sekadar pabrik pintar biasa, melainkan bukti nyata bagaimana kecerdasan buatan dan robotika sedang mengubah wajah industri manufaktur dalam skala global.

Dilansir dari BGR, Kamis (5/2/2026), fasilitas seluas hampir 97.000 meter persegi itu beroperasi tanpa tenaga kerja manusia di lantai produksi. Semua serangkaian proses dari perakitan komponen pemeriksaan kualitas hingga pengemasan akhir dijalankan oleh robot industri yang dipadukan dengan sistem kecerdasan buatan dan sensor canggih.

Menurut laporan resmi perusahaan, pabrik ini memiliki kemampuan produksi hingga 10 juta unit ponsel pintar setiap tahun. Secara sederhana ini berarti pabrik tersebut mampu menghasilkan rata rata satu ponsel per detik ketika bekerja pada kapasitas penuh. Ini merupakan sebuah lompatan besar dibandingkan fasilitas manufaktur konvensional.

Dalam presentasi publik sebelumnya, pendiri sekaligus CEO Xiaomi, Lei Jun, menegaskan bahwa pergeseran menuju produksi otomatis bukan semata-mata soal mempercepat proses, melainkan tentang merombak arsitektur manufaktur itu sendiri. 

Inti kendali pabrik ini berada pada Hyper Intelligent Manufacturing Platform (HyperIMP), sebuah platform berbasis kecerdasan buatan yang berfungsi sebagai "otak" sistem produksi, yang terus-menerus memantau, menyesuaikan, dan mengoordinasikan setiap tahap proses secara langsung dan berkelanjutan untuk menjaga standar kualitas yang konsisten.

Sebagai informasi, istilah dark factory merujuk bukan hanya pada ketiadaan pekerja manusia di lantai produksi, tetapi juga pada model pabrik yang dirancang untuk beroperasi tanpa pencahayaan konvensional. 

Karena robot industri tidak memerlukan cahaya untuk bekerja, fasilitas ini dapat memangkas kebutuhan listrik untuk lampu, pemanas, serta berbagai infrastruktur pendukung manusia yang lazim ada di pabrik tradisional, sehingga menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.

Namun revolusi ini tidak serta merta menjawab tantangan ekonomi dan sosial yang mengikutinya. Para analis industri memperingatkan bahwa otomatisasi total seperti ini berpotensi menggantikan jutaan pekerjaan manufaktur tradisional terutama di wilayah wilayah yang selama ini bergantung pada tenaga kerja pabrik. 

Pergeseran ini memaksa pemerintah dan pelaku industri memikirkan ulang strategi pelatihan ulang atau reskilling agar pekerja mampu bersaing di era industri AI.

Profesor ekonomi teknologi Universitas Tiongkok Liang Wei menyatakan bahwa otomatisasi pabrik bukan sekadar soal efisiensi tetapi sebuah paradigma baru yang menuntut kesiapan tenaga kerja untuk menghadapi peran yang lebih kompleks dalam sistem produksi modern.

"Otomatisasi total memaksa kita mempercepat pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia supaya pekerja tetap relevan di era teknologi tinggi," ujarnya dalam sebuah seminar industri internasional.

Di forum industri global tahun lalu Menteri Perindustrian Tiongkok Zhao Hu menyampaikan bahwa dark factory mencerminkan posisi strategis Tiongkok dalam persaingan manufaktur dunia.

"Kita melihat potensi besar dalam otomatisasi end to end tapi harus seimbang dengan kebijakan yang melindungi kesejahteraan pekerja," ujarnya merujuk pada perlunya sistem sosial yang adaptif terhadap perubahan teknologi.

Dengan segala kecanggihan teknologi dan potensi peningkatan produktivitas pabrik 'robot gelap' Xiaomi bukan hanya simbol efisiensi tetapi juga refleksi masa depan manufaktur yang menuntut kesiapan sosial ekonomi. Di satu sisi janji peningkatan produktivitas terbuka luas di sisi lain tantangan sosial seperti pengurangan lapangan kerja tidak bisa diabaikan.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #xiaomi #pimpin #revolusi #global #lewat #pabrik #robot #beijing #yang #mampu #memproduksi #satu #ponsel #detik #tanpa #manusia

KOMENTAR