Belajar Menang dari Proses: Perjalanan Panjang Siswa Indonesia di Dunia Robotika Global
- Prestasi robotika lahir dari konsistensi bertahun-tahun, bukan hasil instan kompetisi.
- Kemampuan teknis berpadu dengan manajemen tim dan komunikasi di bawah tekanan.
- Inovasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan sosial, bukan sekadar mengejar medali.
Di balik kompetisi robotika internasional, ada proses panjang yang jarang terlihat: latihan berulang, kegagalan teknis, dan pembelajaran kolektif yang dibangun sejak dini. Perjalanan Audric Tsai, pelajar kelas 12 Sinarmas World Academy, menunjukkan bagaimana konsistensi dan kepemimpinan dapat membuka jalan siswa Indonesia menuju panggung global.
Lebih dari enam tahun Audric Tsai bergelut di dunia robotika kompetitif, rentang waktu yang menegaskan bahwa prestasi bukan hasil kerja semalam. Sejak tahap dasar hingga level lanjutan, robotika dijalani sebagai proses belajar berkelanjutan, bukan sekadar persiapan lomba.
Pendekatan jangka panjang itu terlihat pada capaian SWA RoboKnights di VEX Robotics Indonesia National Championship. Dalam persaingan nasional yang ketat, tim ini meraih enam penghargaan lintas jenjang, sekaligus mengamankan tiket ke VEX Robotics World Championship di Amerika Serikat sebagai salah satu wakil Indonesia.
Kepemimpinan di Tengah Tekanan
PerbesarAudric Tsai, pelajar kelas 12 pemenang kompetisi robotic.Di balik capaian kolektif tersebut, Audric dipercaya mengemban peran manajer tim. Dalam situasi kompetisi yang dinamis dan penuh tekanan, ia dikenal mampu menjaga struktur kerja tim—memetakan tugas, menetapkan prioritas, dan memastikan komunikasi tetap berjalan efektif.
Kemampuan teknisnya di bidang mekatronika memperkuat peran tersebut. Audric memandang mekanik, elektronik, dan pemrograman sebagai satu sistem utuh, memungkinkan penyederhanaan desain tanpa mengorbankan presisi. Pendekatan ini menjadikannya rujukan alami ketika tim menghadapi masalah krusial.
Pengalaman teknis dan kepemimpinan itu kemudian bermuara pada proyek LUMA (Language Using Mind & AI) di World Robot Olympiad International Final 2025. Bersama SWA RoboKnights, Audric meraih tiga Gold Awards dan Start-Up Award melalui inovasi komunikasi asistif bagi individu yang kehilangan kemampuan bicara akibat ALS, stroke, atau gangguan neuromuskular.
LUMA dirancang sebagai solusi yang lebih terjangkau, dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp10 juta—jauh di bawah teknologi sejenis yang saat ini berada di kisaran ratusan juta rupiah. Di titik ini, robotika tidak lagi berhenti sebagai arena kompetisi, melainkan menjadi medium untuk menjawab persoalan nyata.
“Audric adalah tipe siswa yang diimpikan setiap mentor, cemerlang dalam rekayasa, tak kenal lelah dalam iterasi, dan kuat dalam karakter,” ujar Dr. Haoken, IBDP Coordinator.
Bagi keluarga Audric, capaian ini merupakan buah dari ekosistem pendidikan yang tepat, tempat dukungan sekolah, dedikasi guru, dan fasilitas saling menguatkan.
Tag: #belajar #menang #dari #proses #perjalanan #panjang #siswa #indonesia #dunia #robotika #global