Indef: Pertumbuhan Ekonomi Belum Optimal Serap Tenaga Kerja
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Freepik)
12:40
6 Februari 2026

Indef: Pertumbuhan Ekonomi Belum Optimal Serap Tenaga Kerja

- Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 belum sepenuhnya berdampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja.

Meski ekonomi tumbuh di kisaran 5 persen, penyerapan tenaga kerja khususnya di sektor formal dinilai masih belum optimal dan belum mampu mengimbangi laju pertambahan angkatan kerja setiap tahunnya.

Peneliti INDEF, Ahmad Heri Firdaus, menjelaskan bahwa berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), tambahan tenaga kerja memang masih terjadi.

Baca juga: BPS: Tingkat Pengangguran Turun, Jumlah yang Menganggur 7,35 Juta Orang

Namun tantangan utamanya adalah jumlah angkatan kerja baru yang terus bertambah setiap tahun, mencapai sekitar 3–4 juta orang.

“Setiap tahun angkatan kerja bertambah sekitar 3–4 juta orang. Artinya, lapangan pekerjaan yang tercipta juga harus sebanyak itu supaya tidak menjadi pengangguran,” ujar Heri secara virtual, Kamis (6/2/2026).

Namun, realitas di lapangan menunjukkan penyerapan tenaga kerja belum bergerak secepat pertambahan angkatan kerja.

Bahkan, pertumbuhan angkatan kerja pada 2025 cenderung melambat dibanding periode sebelumnya.

“Kalau kita bandingkan, di Agustus 2025 tambahan angkatan kerja sekitar 1,9 juta orang, sementara di November 2025 hanya sekitar 1,3 juta orang,” kata Heri.

“Padahal yang kita inginkan adalah tambahan angkatan kerja itu setidaknya di atas 2 juta atau 3 juta untuk menjawab masuknya tenaga kerja baru,” jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi sepanjang 2025 belum cukup sensitif terhadap penyerapan tenaga kerja, terutama tenaga kerja berkualitas di sektor formal.

“Pertumbuhan ekonomi yang terjadi sepanjang 2025 ini masih bisa dibilang tidak terlalu berimplikasi terhadap penyerapan tenaga kerja, khususnya penyerapan tenaga kerja yang berkualitas, seperti di sektor formal,” kata Ahmad Heri.

INDEF juga menyoroti adanya anomali data ketenagakerjaan antara rilis BPS dan Kementerian Investasi/BKPM.

Menurut Ahmad Heri, selama ini angkatan kerja biasanya bertambah sekitar 4 juta orang per tahun, namun pada 2025 hingga Agustus, peningkatannya justru di bawah 2 juta orang.

“Nah ini juga sebelumnya ada anomali data ketenagakerjaan untuk 2025. Biasanya angkatan kerja itu tambah 4 juta orang setiap tahunnya, tapi di 2025 sampai Agustus hanya bertambah di bawah 2 juta orang,” ujarnya.

Di sisi lain, data BKPM menunjukkan angka penyerapan tenaga kerja yang relatif besar, sehingga memunculkan ketidaksinkronan data antar lembaga.

“Kalau kita lihat BKPM merilis penyerapan tenaga kerja cukup besar, tapi data BPS malah menunjukkan penambahannya tidak sebanyak itu. Jadi ada anomali di sini,” tambahnya.

Dari sisi struktur lapangan usaha, INDEF menilai tidak ada perubahan signifikan selama 10–20 tahun terakhir.

Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, disusul perdagangan dan industri pengolahan.

“Struktur penyerapan tenaga kerja ini belum berubah sama sekali. Pertanian masih mendominasi, lalu perdagangan dan industri pengolahan,” kata Heri.

Padahal, industri pengolahan merupakan kontributor terbesar PDB dengan porsi sekitar 19 persen.

Idealnya, sektor ini juga menjadi penyerap tenaga kerja utama.

“Harusnya ketika sektor industri menjadi leading dalam PDB, tenaga kerjanya juga leading dalam penyerapan. Tapi faktanya tidak begitu. Artinya tenaga kerja di sektor primer masih sulit terangkat ke sektor formal dan industri manufaktur,” jelasnya.

Menurut INDEF, kondisi ini menunjukkan bahwa akselerasi ekonomi Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar di sisi kualitas sumber daya manusia.

“Artinya di sini masih menjadi PR besar bagaimana mengakselerasi perekonomian, karena faktor sumber daya manusia itu memang tidak bisa ditinggalkan,” tegas Heri.

Ia juga mengingatkan adanya indikasi jobless growth, yakni pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi penciptaan lapangan kerja yang memadai.

“Ada indikasi jobless growth, di mana pertumbuhan ekonominya terlihat, tapi pertumbuhan penyerapan tenaga kerjanya kecil sekali, apalagi di sektor formal,” katanya.

Kondisi ini diperparah dengan model pertumbuhan ekonomi yang masih bertumpu pada konsumsi domestik dan stimulus jangka pendek, bukan pada investasi produktif dan transformasi struktural.

“Tanpa stimulus dan tanpa faktor musiman akhir tahun, kami khawatir ekonomi kembali melambat,” ujar Heri.

Ke depan, INDEF menilai akselerasi ekonomi harus diarahkan pada peningkatan produktivitas faktor produksi, baik melalui investasi yang lebih efisien maupun peningkatan kualitas tenaga kerja.

“Kalau kita ingin kembali seperti awal tahun 2000-an, PR-nya sangat banyak dan harus ada perbaikan fundamental dan struktural,” katanya.

Ia menambahkan, upaya jangka panjang perlu difokuskan pada penurunan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), agar investasi di Indonesia menjadi lebih efisien dan lebih sensitif terhadap penciptaan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

“Ke depan, kita harus memperbaiki banyak hal, dari logistik, pembiayaan, sampai kualitas SDM, supaya pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja,” tegas Heri.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan jumlah penduduk yang bekerja berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025.

Total penduduk bekerja tercatat mencapai 147,91 juta orang, meningkat sekitar 0,94 persen dibandingkan posisi Agustus 2025 yang berjumlah 146,54 juta orang.

“38,81 persen nya berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai. Dibanding Agustus 2025, penduduk bekerja yang berstatus buruh, karyawan, atau pegawai bertambah terbanyak sebesar 625 ribu orang,” kata Kepala BPS Amalia Adhininggar Widyasanti di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: Pastikan Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai Target, Purbaya Janji Tidak Naikkan Tarif Pajak

Tag:  #indef #pertumbuhan #ekonomi #belum #optimal #serap #tenaga #kerja

KOMENTAR