IHSG Anjlok di Sesi Pertama, Asing Justru Borong Saham Perbankan dan Blue Chip
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi 1 di zona merah pada Jumat (6/2/2026). Tekanan jual yang meluas membuat IHSG turun 229,46 poin atau 2,83 persen ke level 7.874,42.()
14:20
6 Februari 2026

IHSG Anjlok di Sesi Pertama, Asing Justru Borong Saham Perbankan dan Blue Chip

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan tajam pada sesi pertama perdagangan, Jumat (6/2/2026). Meski demikian, di balik pelemahan indeks, investor asing justru aktif melakukan pembelian bersih (net foreign buy) pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 2,83 persen ke level 7.874,41 saat penutupan sesi satu perdagangan.

Indeks sebelumnya dibuka di posisi 7.945,04 dan sempat bergerak menyentuh angka tertinggi harian di 8.025,14, sementara level terendah di 7.861,68.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 671 saham berada di zona merah, 89 saham menguat, dan 57 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 22,23 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 10,46 triliun, sedangkan frekuensi perdagangan menembus 1,46 juta kali transaksi.

Baca juga: IHSG Sesi I Anjlok 2,83 Persen ke Level 7.874,42

Namun, di tengah koreksi IHSG tersebut, arus dana asing justru mengalir masuk ke pasar saham Indonesia. Sejumlah saham unggulan mencatatkan pembelian bersih asing yang signifikan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi yang paling banyak diborong asing dengan nilai net buy Rp 390,18 miliar. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp 124,14 miliar dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp 118,91 miliar.

Selain itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan pembelian bersih asing sekitar Rp 73,77 miliar.

Dari sektor industri dan energi, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) masuk dalam daftar saham yang dikoleksi asing, masing-masing dengan nilai net buy Rp 48,50 miliar dan Rp 29,67 miliar.

Aksi beli asing juga terlihat pada saham konsumsi dan energi lainnya, seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), hingga PT Darma Henwa Tbk (DEWA), meski dengan nilai yang relatif lebih kecil dibanding saham perbankan besar.

Di lain sisi, aksi net foreign sell juga terkonsentrasi pada saham-saham tambang, perbankan, hingga energi. Beberapa diantaranya saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang menjadi emiten dengan tekanan jual asing terbesar. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp 178,51 miliar, dengan nilai transaksi mencapai Rp 428,27 miliar dan volume sekitar 1,14 juta saham.

Di posisi berikutnya, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mengalami tekanan. Net foreign sell pada saham ini sekitar Rp 114,40 miliar, dengan nilai transaksi Rp 179,31 miliar dan volume 617.120 saham.

Baca juga: IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok 2,27 Persen

Dari sektor perbankan syariah, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turut dilepas asing dengan nilai penjualan bersih Rp 100,92 miliar. Nilai transaksi BRIS mencapai Rp 52,49 miliar dengan volume 221.420 saham.

Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan net foreign sell sekitar Rp 86,30 miliar, dengan nilai transaksi Rp 128,56 miliar dan volume 284.290 saham.

Dari sektor energi dan batu bara, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak luput dari aksi jual asing. Net sell BUMI sekitar Rp 84,93 miliar, meski nilai transaksinya sangat besar mencapai Rp 1,09 triliun dengan volume 47,99 juta saham.

Aksi jual asing juga terjadi pada saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan nilai sekitar Rp 65,97 miliar, diikuti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar Rp 57,23 miliar.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga tercatat dilepas asing dengan nilai Rp 53,73 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 15,94 juta saham. Selanjutnya, tekanan jual asing juga membayangi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp 42,51 miliar, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sekitar Rp 41,72 miliar, serta PT Indika Energy Tbk (INDY) senilai Rp 38,36 miliar.

Tag:  #ihsg #anjlok #sesi #pertama #asing #justru #borong #saham #perbankan #blue #chip

KOMENTAR