Quiet Promotions, Fenomena Promosi Tanpa Kenaikan Gaji yang Picu Burnout
Stres kerja sering dianggap wajar hingga tak disadari. Psikolog mengingatkan, tekanan yang menumpuk bisa berujung burnout pada pekerja.(freepik)
14:28
6 Februari 2026

Quiet Promotions, Fenomena Promosi Tanpa Kenaikan Gaji yang Picu Burnout

Dalam lanskap dunia kerja yang terus berubah pasca-pandemi Covid-19 dan diliputi kekhawatiran ekonomi global, para pekerja kini menghadapi bentuk realokasi peran baru yang tidak selalu tercatat dalam struktur jabatan formal.

Apa yang oleh sejumlah pengamat ketenagakerjaan disebut sebagai quiet promotions atau promosi diam-diam mulai menjadi bagian dari praktik manajemen sumber daya manusia di banyak perusahaan.

Dikutip dari Fortune, istilah quiet promotions merujuk pada situasi di mana seorang karyawan diberikan tanggung jawab yang lebih besar, tugas yang lebih kompleks, atau peran yang berbeda dengan ekspektasi peningkatan peran, namun tanpa disertai kenaikan gaji, jabatan formal, atau status kontrak yang jelas.

Baca juga: Ironi Pekerja Indonesia: Bahagia tetapi Dihantui Burnout

Ilustrasi burnout. Studi terbaru mengungkap bahwa sebagian besar kasus burnout tidak disebabkan oleh pekerjaan, melainkan oleh tekanan hidup sehari-hari.Pexels/KAMPUS PRODUCTION Ilustrasi burnout. Studi terbaru mengungkap bahwa sebagian besar kasus burnout tidak disebabkan oleh pekerjaan, melainkan oleh tekanan hidup sehari-hari.

Di tengah tekanan perusahaan untuk mengelola anggaran yang ketat, quiet promotions tampak sebagai solusi yang efektif secara biaya, tetapi, menurut pakar, fenomena ini membawa konsekuensi serius terhadap tenaga kerja modern, terutama generasi baru seperti Gen Z.

Mengapa quiet promotions muncul?

Quiet promotions meningkat seiring dengan meningkatnya kekhawatiran anggaran di banyak perusahaan.

Alih-alih memberikan kenaikan jabatan atau kompensasi formal, perusahaan malah seringkali memperluas tanggung jawab kerja karyawan secara diam-diam.

Fenomena ini tidak semata karena efisiensi, namun juga merupakan cara bagi beberapa pemimpin organisasi untuk menguji kemampuan kepemimpinan tanpa harus berkomitmen pada promosi formal.

Baca juga: Fresh Graduate, Pahami Soal Burnout dan Budaya Kerja

"Pada dasarnya, ini adalah cara untuk menguji kemampuan kepemimpinan seseorang tanpa harus terikat pada sebuah jabatan," ujar Selena Rezvani, seorang ahli tempat kerja dan penulis Quick Leadership: Build Trust, Navigate Change, and Cultivate Unstoppable Teams.

ilustrasi pekerja. Pekerja di Indonesia paling bahagia se Asia Pasifik.Dok. Freepik/tirachardz ilustrasi pekerja. Pekerja di Indonesia paling bahagia se Asia Pasifik.

Rezvani menyebutkan, hal ini sering kali merupakan sinyal budaya organisasi yang menghindari percakapan yang sulit tentang gaji atau karier.

Menurutnya, mengabaikan percakapan penting tentang promosi dan peningkatan kompensasi dapat menciptakan kebingungan dan rasa tidak puas dalam diri karyawan.

Tanggung jawab lebih besar tanpa kenaikan gaji

Fenomena quiet promotions terjadi ketika seorang karyawan yang sebelumnya melakukan tugas rutin tiba-tiba mulai menangani tanggung jawab yang jauh lebih besar, mulai dari mengelola proyek yang penting, memimpin tim kecil, hingga berperan dalam pengambilan keputusan strategis.

Baca juga: Karyawan Burnout dan Kinerja Menurun? Kenali Work Engagement dan Tips Mengatasinya

Namun, yang menjadi sorotan adalah semua itu dilakukan dengan gaji dan titel yang sama.

Sepintas, hal ini tampak seperti peluang bagi karyawan untuk membuktikan kemampuan mereka. Namun, menurut para ahli, realitasnya justru sering berujung pada:

  • Kelelahan kerja (burnout)
  • Tingkat keluar atau resign di perusahaan yang lebih tinggi karena karyawan merasa kontribusi mereka tidak dihargai secara finansial
  • Normalisasi kerja ekstra tanpa kompensasi

Dampak pada Gen Z dan angkatan kerja muda

Salah satu kelompok yang disebut paling rentan terhadap fenomena ini adalah Gen Z, yang saat ini memasuki fase awal hingga menengah karier.

Baca juga: Hindari Burnout, Bumble Izinkan Karyawannya Libur Sepekan Penuh

Banyak dari mereka bersemangat untuk membangun pengalaman dan tanggung jawab, namun cenderung kurang memiliki pengaruh negosiasi terhadap kompensasi formal dibandingkan rekan yang lebih senior.

Penyebab dan gejala burnout.Shutterstock/Puhhha Penyebab dan gejala burnout.

Rezvani menyoroti tiga langkah praktis yang dapat dilakukan pekerja ketika menghadapi situasi quiet promotion.

  1. Memberi nama pada tanggung jawab tambahan
  2. Mendokumentasikan dampak kerja dan kontribusi yang Anda buat
  3. Menggunakannya sebagai alat negosiasi dalam pertemuan peninjauan kinerja atau kenaikan gaji

Rezvani juga memperingatkan bahwa menerima semua tugas tambahan tanpa diskusi tentang kompensasi adalah bentuk normalisasi kerja tanpa bayaran lebih, yang pada akhirnya bisa menyebabkan burnout yang lebih cepat.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?

Reaksi organisasi dan risiko bagi perusahaan

Menurut data penelitian yang dikutip Fortune dari ADP Research Institute, fenomena ini berpotensi merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

Dalam analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa ketika tanggung jawab tambahan diberikan tanpa kompensasi yang sesuai, sekitar 29 persen karyawan meninggalkan perusahaan dalam satu bulan setelah perubahan tersebut, dibandingkan dengan hanya 18 persen yang resign bila tidak ada perubahan peran seperti itu.

Ini menunjukkan bahwa strategi quiet promotions dapat menciptakan efek balik bagi perusahaan, bukan hanya soal biaya, tapi juga tentang kehilangan talenta.

Selain itu, dengan meningkatnya kompetisi di pasar tenaga kerja global, strategi semacam ini berisiko merusak reputasi perusahaan sebagai pemberi kerja yang adil.

Baca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja

Pertimbangan karyawan dalam menghadapi quiet promotions

Menghadapi fenomena ini, Rezvani menekankan pentingnya karyawan mengambil sikap proaktif terhadap jalur karier mereka, termasuk kesiapan untuk membuka pembicaraan tentang kompensasi yang sepadan.

Fenomena quiet promotions muncul di tengah gelombang perubahan dalam hubungan kerja yang lebih luas. 

Generasi pekerja yang lebih muda, terutama Gen Z, kini sering kali lebih vokal tentang ekspektasi mereka terhadap pekerjaan, pertumbuhan karier, dan keseimbangan hidup, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai survei global tentang preferensi kerja generasi ini.

Sementara tradisi karier lama menekankan jenjang karier formal sebagai bukti pencapaian, quiet promotions menantang bentuk tersebut, namun tidak selalu memberikan apa yang diharapkan pekerja: pengakuan dan kompensasi yang layak.

Tag:  #quiet #promotions #fenomena #promosi #tanpa #kenaikan #gaji #yang #picu #burnout

KOMENTAR