Bagaimana Anak Bisa Sampai pada Pikiran Mengakhiri Hidup? Ini Penjelasan Psikolog
Ilustrasi bunuh diri. (Istock Photo)
12:40
6 Februari 2026

Bagaimana Anak Bisa Sampai pada Pikiran Mengakhiri Hidup? Ini Penjelasan Psikolog

Peristiwa meninggalnya seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat bahwa tekanan hidup dapat dirasakan bahkan oleh anak-anak.

Dalam kondisi ekonomi keluarga yang sulit dan kebutuhan sekolah yang tak terpenuhi, anak bisa memikul beban emosional yang kerap tak terlihat.

Dari sini, muncul pertanyaan penting: bagaimana seorang anak bisa sampai merasa tidak memiliki pilihan lain?

Menurut psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, pertanyaan yang paling penting bukan semata mengapa anak melakukan tindakan tersebut, melainkan apa yang dirasakan anak hingga ia merasa tidak memiliki pilihan lain.

Pada usia sekolah dasar, anak sebenarnya belum memiliki pemahaman yang matang tentang kematian.

Mereka belum sepenuhnya mengerti makna permanen dari kehilangan hidup. Namun, di sisi lain, anak sangat peka terhadap rasa malu, penolakan, serta perasaan tidak dianggap oleh lingkungan terdekatnya.

“Yang sering terjadi bukan keinginan untuk mati, melainkan keinginan untuk menghentikan rasa sakit emosional yang terasa sangat besar,” ujar Vera, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: Berkaca dari Kasus Bunuh Diri Anak di NTT, Psikiater Tekankan Pentingnya Dukungan Emosional

Ketika rasa sakit terasa terlalu berat untuk ditanggung

Menurut Vera, anak belum memiliki kemampuan mengelola emosi sekompleks orang dewasa.

Ketika menghadapi tekanan, baik dari kondisi ekonomi keluarga, situasi di sekolah, maupun relasi sosial, anak cenderung memaknainya secara personal dan emosional.

Hal-hal yang terlihat sederhana bagi orang dewasa, seperti tidak memiliki buku atau alat tulis, bisa menjadi sumber tekanan yang sangat mendalam bagi anak.

Dalam konteks seperti kasus di NTT, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan benda, tetapi juga menyentuh harga diri anak.

“Bagi anak, itu bisa dimaknai sebagai ‘aku berbeda’, ‘aku tidak cukup’, atau ‘aku tidak diperhatikan’,” jelas Vera.

Jika perasaan tersebut berlangsung lama dan tidak mendapat respons empatik dari lingkungan, anak bisa merasa terjebak dalam rasa tidak berdaya.

Dalam kondisi inilah, pikiran ekstrem dapat muncul sebagai bentuk keputusasaan.

“Ini bukan soal anak ingin mengakhiri hidup, tetapi karena ia tidak melihat jalan keluar dari rasa sakit yang sedang dialaminya,” kata Vera.

Baca juga: Kasus Anak Bunuh Diri Jadi Alarm Kesehatan Mental, Menkes Siapkan Psikolog di Puskesmas

Diam yang menyimpan beban emosional

Tekanan emosional pada anak sering kali tidak muncul dalam bentuk keluhan verbal yang jelas.

Vera menjelaskan bahwa anak justru kerap mengekspresikannya melalui perubahan perilaku.

Anak bisa menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan sosial, atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai.

Mereka juga dapat menjadi lebih sensitif, mudah marah, sering menangis, atau menolak berangkat ke sekolah.

Keluhan fisik berulang seperti sakit perut atau sakit kepala tanpa penyebab medis yang jelas juga sering menjadi “bahasa” anak untuk menyampaikan bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Dalam beberapa kasus, anak mulai mengucapkan kalimat yang merendahkan dirinya sendiri, merasa tidak disayang, atau ingin “menghilang”.

Pentingnya lingkungan yang saling memahami

Vera menekankan bahwa tekanan emosional anak dapat semakin berat ketika lingkungan di sekitarnya tidak menyadari atau tidak mampu merespons kebutuhan emosional tersebut.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit, seperti yang terjadi pada banyak keluarga rentan, tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga pada rasa aman anak.

Orangtua yang berada dalam tekanan ekonomi berat sering kali mengalami kelelahan fisik dan emosional.

Tanpa disadari, hal ini dapat membuat ruang dialog dengan anak menjadi terbatas, meski orang tua sebenarnya sangat peduli dan berupaya semampunya.

Di sisi lain, lingkungan sekolah yang kurang peka atau minim sistem dukungan juga dapat membuat anak merasa sendirian menghadapi masalahnya.

Mendengar lebih awal sebagai bentuk perlindungan

Belajar dari kasus seperti yang terjadi di NTT, Vera menegaskan bahwa pencegahan paling penting dimulai dari hal yang sederhana: mendengar anak.

Memberi ruang bagi anak untuk bercerita tanpa takut disalahkan, diremehkan, atau dibandingkan dapat menjadi faktor pelindung yang sangat kuat.

“Bagi anak, didengar adalah bentuk rasa aman. Ketika anak merasa ada orang dewasa yang mau memahami perasaannya, beban emosional itu tidak harus ditanggung sendirian,” ujar Vera.

Sekolah pun memiliki peran penting melalui deteksi dini, budaya empati di kelas, serta mekanisme bantuan kebutuhan dasar yang menjaga martabat anak.

Kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi kunci agar anak tidak merasa sendirian dalam menghadapi kesulitannya.

Seorang anak, kata Vera, tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka membutuhkan kehadiran, rasa aman, dan harapan.

Ketika orang dewasa di sekelilingnya mampu peka dan responsif, risiko anak terjebak dalam keputusasaan dapat berkurang secara signifikan.

Tag:  #bagaimana #anak #bisa #sampai #pada #pikiran #mengakhiri #hidup #penjelasan #psikolog

KOMENTAR