8 Tips Memulai Tabungan Pernikahan
– Menyiapkan tabungan pernikahan kini menjadi salah satu topik penting bagi pasangan yang ingin melangkah ke jenjang serius.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, pernikahan tak lagi dipandang sekadar momen sakral, tetapi juga keputusan finansial jangka panjang.
Data Badan Pusat Statistik mencatat, jumlah pernikahan di Indonesia yang pada 2014 masih berada di kisaran 2,1 juta peristiwa, menyusut signifikan dalam satu dekade. Pada 2024, angkanya mendekati 1,4 juta peristiwa.
Kondisi ini membuat banyak pasangan lebih berhati-hati dan mulai menyusun tabungan sejak jauh hari.
Baca juga: Biaya Hidup Tinggi, Banyak Pasangan Ragu Menikah
Simak tips memulai tabungan pernikahan yang dinilai efektif menurut para perencana keuangan.
1. Menabung di awal gajian
Konsultan Keuangan Keluarga, Dea Arvina Ermacasnia, menyarankan pasangan menerapkan prinsip pay yourself first.
Prinsip ini menempatkan tabungan sebagai prioritas utama sebelum pengeluaran lain.
“Menabung di awal, bukan dari sisa uang bulanan,” jelas Dea saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/2/2026).
Dengan menabung di awal, pasangan tidak bergantung pada sisa penghasilan yang sering kali habis untuk kebutuhan harian atau keinginan mendadak.
Baca juga: Perjalanan Cinta Boiyen dan Rully, Berujung Gugatan Cerai Usai Dua Bulan Menikah
2. Siapkan dana darurat sebelum fokus ke pernikahan
Selain tabungan pernikahan, Dea menilai dana darurat tidak boleh diabaikan. Dana ini berfungsi sebagai pengaman finansial jika terjadi hal tak terduga, seperti kondisi kesehatan atau kehilangan penghasilan.
Dengan adanya dana darurat, pasangan tidak perlu mengorbankan tabungan pernikahan atau berutang ketika menghadapi situasi mendesak.
3. Bangun transparansi keuangan sejak awal
Dea menilai, keterbukaan finansial menjadi fondasi penting sebelum menikah.
“Harus ada transparansi keuangan pasangan sejak awal. Misalnya, berapa harta, utang, aset terus kondisi sekarang apakah menanggung keluarga atau tidak,” ujarnya.
Transparansi membantu pasangan menyusun target tabungan yang realistis dan menghindari kesalahpahaman terkait kondisi keuangan masing-masing.
Baca juga: Studi Ungkap Menikah Bikin Laki-laki Lebih Panjang Umur dan Sehat
4. Bedakan kebutuhan dan gengsi dalam pengeluaran
Dea mengingatkan, gaya hidup sering kali menjadi penghambat utama dalam menabung. Dorongan untuk mengikuti standar sosial atau tren pernikahan bisa membuat tabungan sulit terkumpul.
“Yang paling penting, menikah itu bukan akhir dari perjuangan finansial, tapi awal dari kerja tim keuangan sama pasangan,” katanya.
Kesadaran ini membantu pasangan lebih bijak membedakan kebutuhan nyata dan keinginan yang didorong gengsi.
5. Konsistensi lebih penting
Perencana Keuangan Profesional, Rista Zwestika Reni, menilai keberhasilan menabung tidak ditentukan oleh metode yang rumit.
“Yang paling efektif itu bukan metode, tapi konsistensi dan tujuan jelas,” ujarnya.
Dengan tujuan yang jelas, pasangan cenderung lebih disiplin meski nominal tabungan yang disisihkan masih kecil.
Baca juga: Pentingnya Menyamakan Ekspektasi Peran Sebelum Menikah Menurut Psikolog
6. Gunakan sistem pos keuangan
Rista menyarankan penggunaan sistem pos keuangan untuk menjaga keseimbangan pengeluaran.
“Sistem pos keuangan itu membagikan uang ke tabungan nikah, dana darurat, dan hidup harian,” jelasnya.
Sistem ini membantu pasangan mengelola keuangan secara terstruktur tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari.
7. Menabung bersama agar satu visi
Menabung bersama pasangan dinilai penting untuk menjaga keselarasan tujuan.
“Ini penting agar satu visi dengan pasangn. Ingat, nabung itu bukan soal besar kecilnya nominal, tapi disiplin yang enggak putus,” kata Rista.
Kebiasaan ini juga memperkuat rasa tanggung jawab bersama terhadap rencana pernikahan.
Baca juga: Perjalanan Kisah Asmara Aurelie Moeremans hingga Akhirnya Menikah
8. Otomatisasi tabungan untuk hindari impulsif
Rista menyarankan agar tabungan dibuat otomatis agar lebih disiplin. Otomatisasi membantu pasangan menabung secara konsisten dan mengurangi risiko khilaf saat tergoda pengeluaran impulsif.
Dengan langkah yang terencana dan komitmen bersama, tabungan pernikahan dapat dibangun secara bertahap, lebih stabil, dan sesuai kemampuan masing-masing pasangan.