Menyiapkan Tabungan untuk Menikah dengan Gaji UMR, Realistis atau Mustahil?
– Menikah dengan gaji UMR kerap dipandang sebagai tantangan besar, bahkan dianggap mustahil oleh sebagian orang.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, banyak pasangan merasa perlu menunggu kondisi keuangan lebih mapan sebelum melangkah ke pelaminan.
Bahkan, menurut data Badan Pusat Statistik, pada 2014 terdapat sekitar 2,1 juta peristiwa pernikahan. Sepuluh tahun kemudian, pada 2024, jumlah tersebut menyusut hingga mendekati 1,4 juta.
Baca juga: Finansial Terbatas Saat Menikah, Prioritaskan Pesta atau Beli Rumah?
Tantangan finansial, termasuk keterbatasan penghasilan, kerap disebut sebagai salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pasangan untuk menunda menikah.
Mungkinkah menyiapkan tabungan menikah dengan gaji UMR?
Realistis sejak awal, jangan terjebak standar media sosial
Perencana Keuangan Profesional, Rista Zwestika Reni
Perencana Keuangan Profesional, Rista Zwestika Reni menegaskan, menyiapkan tabungan menikah dengan gaji UMR bukan hal yang mustahil.
Namun, ia menekankan pentingnya bersikap jujur terhadap kondisi keuangan sendiri.
“Jawaban jujurnya mungkin saja, tapi harus sangat realistis. Langkah praktis yang bisa dilakukan yaitu tentukan konsep nikah sederhana dan hindari standar medsos,” jelas Rista saat dihubungi Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Konsultan Keuangan Keluarga, Dea Arvina Ermacasnia.
Menurutnya, pasangan perlu berani menetapkan batas sejak awal agar tidak terbebani ekspektasi yang terlalu tinggi.
“Kuncinya lebih ke komunikasi dan keberanian menentukan batas dari si pasangan yang akan menikah tersebut. Pesta itu cuma sehari, rumah itu untuk bertahun-tahun kedepan,” ujarnya.
Baca juga: Biaya Hidup Tinggi, Banyak Pasangan Ragu Menikah
Target masuk akal lebih membantu konsistensi
Rista menilai kesalahan umum pasangan bergaji UMR adalah menetapkan target tabungan yang tidak sesuai kondisi.
“Lalu, pisahkan tabungan menikah di awal gajian, sekecil apa pun. Targetkan angka masuk akal, misal 15 sampai 25 juta, bukan ratusan juta,” katanya.
Dea juga menekankan pentingnya memulai dari rencana yang sederhana dan tidak memaksakan diri.
“Mulai dari target realistis, misalnya nikah yang cukup dan sederhana, enggak maksa harus langsung beli rumah, pisahkan tabungan nikah dari rekening harian,” ucapnya.
Dengan target yang lebih rasional, pasangan dinilai akan lebih mudah menjaga semangat menabung tanpa merasa tertekan.
Konsistensi lebih penting daripada jumlah
Konsultan Keuangan Keluarga, Dea Arvina Ermacasnia
Menurut Dea, besaran gaji tidak selalu menjadi faktor penentu utama dalam menabung. Namun, konsistensi akan membuahkan hasil di kemudian hari.
“Kalau gaji gaji UMR, kuncinya bukan berapa besar tabungan, tapi konsistensi. Bukan persentase dari gaji dulu tapi mulai dari nominal,” tutur dia.
Rista menambahkan, konsistensi akan lebih efektif jika dibarengi dengan upaya menambah pemasukan.
“Tambahkan pemasukan kecil, freelance, jual skill, usaha sampingan ringan. Menikah bukan lomba siapa paling mewah, tapi siapa paling siap bertahan,” ujarnya.
Keduanya sepakat bahwa stabilitas keuangan jangka panjang jauh lebih penting dibanding besarnya pesta pernikahan.
Mulai sekarang berapa pun nominalnya
Dea menilai tidak semua metode keuangan populer cocok diterapkan oleh pasangan bergaji UMR.
“Enggak harus ikutin metode-metode yang gak cocok buat kita, yang penting mulai aja,” katanya.
Ia menegaskan, langkah kecil yang dilakukan secara rutin justru memiliki dampak besar dalam jangka panjang.
“Sedikit kalau rutin jauh lebih kuat daripada besar tapi enggak konsisten,” ucap Dea.
Baik Dea maupun Rista sepakat, menyiapkan tabungan menikah dengan gaji UMR bukan soal mengejar kemewahan.
Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah
Yang terpenting adalah kesiapan pasangan untuk hidup berdua secara stabil, saling mendukung, dan mampu bertahan menghadapi tantangan setelah pernikahan dimulai.
Tag: #menyiapkan #tabungan #untuk #menikah #dengan #gaji #realistis #atau #mustahil