Mengapa Mengurangi Gula Tambahan Bisa Bikin Tubuh Ramping? Ini Penjelasan Dokter Gizi
Ilustrasi gula. Dampak pada tubuh jika berhenti konsumsi gula.(Freepik/jcomp)
18:40
12 Januari 2026

Mengapa Mengurangi Gula Tambahan Bisa Bikin Tubuh Ramping? Ini Penjelasan Dokter Gizi

- Cut sugar atau mengurangi konsumsi gula tambahan kerap dikaitkan dengan perubahan bentuk tubuh dan kondisi emosi. 

Banyak orang mengaku perut lebih kempes, wajah lebih tirus, tetapi mood sempat berubah di awal prosesnya.

Menanggapi hal tersebut, dokter gizi dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, Sp.G.K. menegaskan, bahwa cut sugar tidak berarti menghilangkan seluruh sumber gula dari makanan.

“Kalau kita makan nasi, kentang, ubi, itu kan gula juga. Itu gula alami. Yang boleh dihindari itu gula tambahan,” ujarnya saat ditemui setelah acara Buavita #GlowingJUICEseyo Playcourt di Central Park Mall, Jakarta Barat, Sabtu (10/1/2026).

Menurut dr. Diana, tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi. Nasi, kentang, ubi, singkong, dan buah-buahan tetap boleh dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. 

Di sisi lain, yang perlu dibatasi adalah gula tambahan dari minuman manis, kue, biskuit, serta makanan olahan.

Mengapa cut sugar bikin tubuh tampak lebih ramping?

Dr. Diana menjelaskan bahwa gula memiliki sifat mengikat cairan di dalam tubuh.

“Gula itu satu molekul bisa mengikat tiga molekul air. Air itu biasanya disimpan di jaringan yang lebih longgar, seperti perut dan kadang muka,” katanya.

Akibatnya, seseorang yang sering mengonsumsi makanan dan minuman dengan gula tambahan cenderung terlihat lebih chubby di area wajah, begitu pula yang dapat tampak di area perut. 

Jaringan ikat yang longgar menjadi tempat penumpukan cairan tersebut.

Ketika gula tambahan mulai dikurangi, cairan yang terikat akan berkurang. Inilah yang membuat perubahan fisik bisa terlihat cukup cepat.

“Begitu kamu nge-cut sugar, perut bisa lebih kempes, wajah lebih tirus, jawline kelihatan,” ujar dr. Diana.

Ia menegaskan, perubahan ini bukan semata karena lemak langsung hilang, melainkan karena cairan yang sebelumnya tertahan mulai dilepaskan.

Mood bisa berubah di awal

Meski manfaat fisiknya terasa, dr. Diana mengingatkan bahwa fase awal cut sugar sering disertai perubahan emosi.

“Biasanya jadi lebih moody, gampang craving, kayak orang PMS,” katanya.

Hal ini terjadi karena gula tambahan memberi efek cepat pada otak. Saat mengonsumsi gula tambahan, seseorang akan merasa lebih segar dan senang dalam waktu singkat. Namun, efek tersebut juga cepat turun.

“Gula tambahan itu langsung bikin happy. Begitu efeknya habis, drop. Jadi pas enggak ada gula, muncul craving dan ganggu mood,” jelas dr. Diana.

Tubuh yang sudah terbiasa dengan lonjakan gula akan mencari sensasi manis tersebut kembali. 

Maka dari itu, pada fase awal cut sugar, seseorang bisa merasa lebih sensitif, mudah emosi, dan sulit menahan keinginan makan manis.

Namun, dr. Diana menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara.

“Itu paling dua sampai tiga hari. Habis itu sugar addictive-nya sudah enggak ada,” ujarnya.

Setelah melewati masa adaptasi, banyak pasiennya justru mengaku tidak lagi tertarik pada minuman atau makanan manis.

“Pasien aku datang lagi bilang, ‘Dok, aku sudah enggak nyari manis lagi.’ Dulu minum harus manis, sekarang sudah enggak,” cerita dr. Diana.

Menurutnya, kebiasaan mencari rasa manis muncul karena tubuh terbiasa diberi gula tambahan secara terus-menerus.

“Kenapa kita nyari manis? Karena kita terbiasa dikasih terus. Nah, makanya jangan dibiasain dikasih,” ujarnya.

Perhatikan batas konsumsi gula harian

Meski gula alami tetap boleh dikonsumsi, dr. Diana mengingatkan bahwa jumlahnya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

“Kalau dari WHO, gula per hari itu 50 gram. Tapi balik lagi, orang ini lagi butuh defisit kalori atau enggak, tinggal disesuaikan dengan kebutuhannya,” katanya.

Artinya, tidak ada aturan yang sama persis untuk semua orang. Pola makan harus disesuaikan dengan aktivitas, tujuan kesehatan, dan kondisi masing-masing individu.

Tag:  #mengapa #mengurangi #gula #tambahan #bisa #bikin #tubuh #ramping #penjelasan #dokter #gizi

KOMENTAR