Sungai di AS Mengalir ''Naik'' Membelah Gunung, 150 Tahun Jadi Misteri
Green River di Colorado, Amerika Serikat.(NATIONAL WILD AND SCENIC RIVERS SYSTEM)
20:18
7 Februari 2026

Sungai di AS Mengalir ''Naik'' Membelah Gunung, 150 Tahun Jadi Misteri

- Para ahli geologi akhirnya berhasil menjawab teka-teki lama seputar Green River, anak Sungai Colorado, yang alirannya sempat dianggap melawan gravitasi saat pertama terbentuk.

Green River berhulu di Wyoming dan bertemu Colorado River di kawasan Taman Nasional Canyonlands, Utah, Amerika Serikat (AS).

Sekitar 8 juta tahun silam, sungai ini justru mengalir menembus Pegunungan Uinta yang menjulang setinggi 4.000 meter di timur laut Utah dan barat laut Colorado.

Baca juga: Misteri Sungai Perak Malaysia Berubah Jadi Biru, Sudah Sebulan Terjadi

Alih-alih menghindari formasi geologi tersebut, Green River mengukir jalur langsung melewatinya.

Fenomena ini membingungkan para ahli selama lebih dari 150 tahun.

Penjelasan terbaru

Para ahli geologi akhirnya memecahkan misteri lama seputar Sungai Green, anak sungai Colorado yang mengalir ke atas dan menantang grativasi, ketika pertama kali terbentuk.Wikimedia Commons/Andy Morse Para ahli geologi akhirnya memecahkan misteri lama seputar Sungai Green, anak sungai Colorado yang mengalir ke atas dan menantang grativasi, ketika pertama kali terbentuk.Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Earth Surface, para peneliti mengajukan teori bahwa Green River tidak mungkin mengukir jalurnya tanpa adanya penurunan ketinggian pada Pegunungan Uinta.

"Ini jalur yang sangat aneh," kata Adam Smith, penulis utama studi dan peneliti permodelan numerik di University of Glasgow, Inggris, seperti dikutip Live Science.

“Kita tahu dari penanggalan bahwa pegunungan itu sudah berusia 50 juta tahun. Sementara sungainya sendiri baru mulai mengalir di jalur tersebut sekitar 8 juta tahun lalu, atau mungkin lebih baru, sekitar 2 juta tahun lalu,” lanjut Smith.

Green River kini mengalir melalui Ngarai Lodore, dengan dinding ngarai menjulang hingga 700 meter.

Dua teori sebelumnya sempat diajukan untuk menjelaskan aliran sungai ini, tetapi dinilai kurang meyakinkan oleh Smith.

Baca juga: Bukan Emas yang Muncul di Sungai Eufrat Saat Kering, tapi...

Teori pertama menyebut bahwa Sungai Yampa yang berada di selatan Pegunungan Uinta membelah formasi batuan ke arah utara, lalu membuka jalur bagi Green River.

Namun, menurut Smith, teori ini tidak masuk akal mengingat Sungai Yampa terlalu kecil untuk menghasilkan kekuatan sebesar itu.

“Jika ini benar, seharusnya ada ngarai besar di seluruh pegunungan, tetapi nyatanya tidak seperti itu,” ujarnya.

Teori kedua menyebut akumulasi sedimen sempat meninggikan permukaan Green River, menyebabkan sungai meluap dan akhirnya mengukir jalur melintasi pegunungan.

Namun, sedimen di kawasan itu tidak setinggi yang ditemukan di Ngarai Lodore, sehingga teori ini juga dianggap lemah.

Baca juga: Sungai Berubah Warna Merah Darah dan Bau Busuk, Warga Ngeri

Peran "tetesan litosfer" menurunkan pegunungan

Mengenal litosfer dan bagian batuan yang membentuk kerak bumishutterstock.com Mengenal litosfer dan bagian batuan yang membentuk kerak bumiAlih-alih dua teori tersebut, studi baru ini mengusulkan bahwa Pegunungan Uinta mengalami penurunan akibat fenomena geologis yang disebut tetesan litosfer (lithospheric drip).

Fenomena ini menyebabkan bagian padat dari dasar kerak Bumi menetes ke dalam mantel, menarik permukaan bumi ke bawah.

Smith menjelaskan, berat pegunungan meningkatkan tekanan pada dasar kerak, membentuk mineral seperti garnet yang lebih berat dibanding batuan mantel.

Seiring waktu, mineral tersebut membentuk gumpalan yang akhirnya terlepas dari dasar kerak, menyebabkan permukaan pegunungan turun.

Ketika gumpalan ini tenggelam ke dalam mantel, terjadi efek pantulan yang menyebabkan bentang alam naik kembali—membentuk topografi seperti saat ini.

Konsep tetesan litosfer ini masih relatif baru, tetapi sudah ditemukan di beberapa tempat, termasuk Pegunungan Andes.

“Fenomena ini bisa terjadi di mana pun ada pegunungan yang terbentuk, dan bisa berlangsung kapan saja,” kata Smith.

Baca juga: Mesir Bangun Kota Baru “Jirian” di Gurun, Dilengkapi Saluran Air Sungai Nil dan Gedung 80 Lantai

Smith dan timnya memodelkan proses geologi di Pegunungan Uinta berdasarkan profil Green River yang tidak biasa.

Hasilnya menunjukkan pola pengangkatan permukaan Bumi yang menyerupai target bidik, ciri khas dari tetesan litosfer.

Mereka juga menganalisis citra tomografi seismik dari penelitian sebelumnya, yakni peta 3D bagian dalam Bumi berdasarkan gelombang seismik.

Ditemukan gumpalan padat di kedalaman 200 kilometer tepat di bawah Pegunungan Uinta, yang diduga merupakan sisa tetesan litosfer kuno.

Dari ukuran dan kedalaman gumpalan tersebut, para peneliti memperkirakan tetesan itu terlepas antara 2 juta hingga 5 juta tahun lalu—selaras dengan waktu saat Green River mulai mengalir melintasi pegunungan.

“Penurunan permukaan ini menciptakan jalur dengan hambatan paling sedikit bagi air,” kata Smith.

“Begitu Green River mulai mengalir melewati Pegunungan Uinta, sungai itu terus mengikis jalurnya dan membentuk struktur seperti Ngarai Lodore,” ujarnya.

Baca juga: Ikuti Google Maps, Turis Ini Malah Nyasar ke Sungai Penuh Buaya

Mitchell McMillan, ahli geologi dari Georgia Institute of Technology yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebut penjelasan tetesan litosfer sebagai teori yang masuk akal.

"Aspek paling menarik dari studi ini adalah penggunaan petunjuk di permukaan Bumi untuk memahami proses di dalam mantel, dan bagaimana proses itu memengaruhi pegunungan," kata McMillan.

“Terlepas dari apakah hipotesis ini akan terbukti benar atau tidak, pendekatan yang digunakan sangat berharga,” tambahnya.

Baca juga: Viral, Video Polisi India Buang Separuh Jasad Korban Kecelakaan ke Sungai

Sumber: Kompas.com/Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tag:  #sungai #mengalir #naik #membelah #gunung #tahun #jadi #misteri

KOMENTAR