Lewat PINISI, BI Perkuat Permintaan Kredit Perumahan hingga UMKM
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). Jadwal operasional BI Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI saat libur Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI Desember 2025.(SHUTTERSTOCK/FRRN)
21:56
7 Februari 2026

Lewat PINISI, BI Perkuat Permintaan Kredit Perumahan hingga UMKM

Bank Indonesia (BI) merancang inisiatif baru bertajuk PINISI (Percepatan Intermediasi Indonesia).

Ini merupakan bagian dari penguatan kebijakan makroprudensial yang pro-growth (mendukung pertumbuhan).

Program ini dirancang untuk memperkuat sisi permintaan (demand) pembiayaan, melengkapi instrumen insentif likuiditas yang selama ini berfokus pada sisi penawaran (supply).

Baca juga: Likuiditas Longgar, BI Prediksi Kredit 2026 Tumbuh 8 hingga 12 Persen

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

"PINISI merupakan inisiatif strategi komunikasi dan koordinasi kebijakan makroprudensial yang bertujuan mendorong akselerasi intermediasi yang optimal, seimbang, dan inklusif, untuk mendorong ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi," kata Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis, Jumat (6/2/2026).

Menjawab tantangan permintaan kredit

Rancangan PINISI muncul di tengah dinamika intermediasi perbankan yang masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan kredit.

Pertumbuhan kredit perbankan 2025 tercatat 9,6 persen (year on year/yoy), masih dalam kisaran proyeksi BI, yakni 8 sampai 11 persen. Untuk 2026, kredit diproyeksikan tumbuh 8 sampai 12 persen (yoy).

Namun, dari sisi demand, BI mencatat sejumlah catatan. Kinerja korporasi memang membaik pada semester II 2025, tercermin dari pertumbuhan penjualan dan belanja modal (capital expenditure/capex).

Baca juga: OJK: Penyaluran Kredit Buat Kopdes Merah Putih dan MBG Tembus Rp 149 Triliun di 2025

Meski demikian, kredit rumah tangga, khususnya segmen konsumsi dan kredit pemilikan rumah (KPR) kelas menengah dan atas, masih menunjukkan perlambatan.

Ilustrasi Kredit Program Perumahan (KPP) atau dulu dikenal dengan KUR Perumahan.PIXABAY/OLEKSANDR PIDVALNYI Ilustrasi Kredit Program Perumahan (KPP) atau dulu dikenal dengan KUR Perumahan.

Sementara itu, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit terus menurun, dari 20,55 persen pada Desember 2023 menjadi 17,49 persen pada Desember 2025.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, bauran kebijakan BI diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap menjaga stabilitas.

Ia menyatakan kebijakan makroprudensial akan terus diarahkan pro-growth guna mendukung intermediasi perbankan.

Baca juga: Tekanan Global Berlanjut, Bank Mandiri Fokus Kredit Tahan Guncangan.

PINISI diposisikan sebagai upaya mengakselerasi permintaan pembiayaan yang selaras dengan kebutuhan riil sektor prioritas dan unggulan daerah.

Sinergi dan debottlenecking sektor prioritas

Alexander menjelaskan bahwa tujuan utama PINISI meliputi penguatan transmisi kebijakan makroprudensial BI, menjembatani program liquidity supply (pasokan likuiditas) dan loan demand (permintaan kredit), debottlenecking kredit atau pembiayaan sektor prioritas, membangun sinergi efektif dengan kementerian/lembaga (K/L) dan pelaku industri, serta meningkatkan optimisme pelaku usaha dan masyarakat.

Konsep bridging antara likuiditas dan permintaan menjadi relevan seiring penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang telah ditingkatkan dari maksimal 4 persen menjadi hingga 5,5 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

Per Januari 2026, insentif KLM yang diterima perbankan mencapai Rp 398 triliun atau 4,55 persen terhadap DPK.

Baca juga: Pameran Otomotif, Jurus Genjot Kredit Kendaraan Bermotor

Pemanfaatan plafon insentif untuk lending channel atau kanal pembiayaan sudah cukup baik, namun interest rate channel alias kanal suku bunga masih perlu dioptimalkan.

Artinya, ruang likuiditas tersedia, tetapi akselerasi penyaluran kredit tetap membutuhkan dorongan dari sisi permintaan yang lebih terstruktur.

Alexander menekankan pentingnya sinergi kebijakan untuk mengatasi market imperfection dan memperkuat demand pembiayaan.

Ilustrasi kredit, kredit perbankan. Bank optimistis kredit dan likuiditas tetap tumbuh hingga akhir tahun.SHUTTERSTOCK/JUICY FOTO Ilustrasi kredit, kredit perbankan. Bank optimistis kredit dan likuiditas tetap tumbuh hingga akhir tahun.

Empat tahap, empat tema nasional

PINISI dirancang berjalan sepanjang tahun dengan empat tahapan utama yang terintegrasi dalam empat kuartal.

Baca juga: Suku Bunga Kredit Diprediksi Mulai Turun, BCA Targetkan Pertumbuhan Kredit 8-10 Persen

Pada kuartal I 2026, program diawali dengan Kick Off PINISI dengan tema Seminar Nasional Perumahan.

Sektor perumahan menjadi fokus awal, sejalan dengan peran konstruksi dan real estate dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Pada kuartal II 2026, agenda “Synergy for PINISI: A Road to Harvesting” mengangkat tema Ketahanan dan Hilirisasi Pangan, Pertanian, dan MBG (Makan Bergizi Gratis). Fokus ini sejalan dengan prioritas pemerintah pada sektor pangan dan penguatan rantai pasok domestik.

Kuartal III 2026 mengusung tema Industri dan Hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA). Sektor ini sebelumnya juga menjadi salah satu sektor prioritas dalam skema KLM, dengan insentif maksimal 1,5 persen untuk sektor pertanian, industri, dan hilirisasi.

Baca juga: Ada Ramadhan dan Idul Fitri, OJK Optimistis Penyaluran Kredit Bakal Tumbuh Positif di Kuartal I 2026

Sementara pada kuartal IV 2026, tema Inklusif dan Digitalisasi diangkat dalam fase “Harvesting PINISI”, yang diharapkan menjadi tahap panen dari rangkaian sinergi dan business matching sepanjang tahun.

Program utama dalam setiap tahap mencakup diseminasi atau seminar, business matching pembiayaan, serta showcasing UMKM, korporasi, dan pelaku usaha.

Kolaborasi daerah dan Kementerian/Lembaga

Alexander menegaskan, kolaborasi dengan daerah diperlukan untuk mendorong demand pembiayaan yang selaras dengan kebutuhan riil dan sektor unggulan daerah.

Ilustrasi UMKM, pelaku UMKM.SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Ilustrasi UMKM, pelaku UMKM.

Hal ini menunjukkan PINISI tidak semata bersifat nasional, melainkan juga memperhatikan karakteristik ekonomi regional.

Baca juga: Calon Deputi Gubernur BI Ungkap Alasan Kebijakan Pemerintah dan BI Tak Ampuh Dorong Kredit

Alexander menjabarkan keterlibatan berbagai K/L pada tiap tahap. Pada tahap perumahan, misalnya, K/L yang terlibat antara lain Kementerian PU, SMF, dan OJK.

Pada tahap ketahanan pangan dan hilirisasi, terdapat Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, OJK, dan lembaga terkait lainnya.

Pendekatan lintas kementerian ini dimaksudkan untuk mengatasi hambatan struktural (debottlenecking) yang selama ini menghambat percepatan kredit pada sektor tertentu, baik terkait regulasi, kesiapan proyek, maupun kesiapan debitur.

Sebelumnya, Perry menyatakan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.

Baca juga: HSBC Bidik Pertumbuhan Kartu Kredit Double Digit pada 2026

“Koordinasi kebijakan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Mendorong optimisme dan ekspektasi usaha

Salah satu tujuan eksplisit PINISI adalah meningkatkan optimisme pelaku usaha dan masyarakat. Hal ini menjadi penting di tengah kondisi global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan.

Di sisi domestik, BI mencatat prakiraan inflasi yang terjaga dan pertumbuhan PDB yang kuat menjadi modal penting.

Kebijakan suku bunga BI Rate yang dipertahankan di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 dinyatakan konsisten dengan upaya menjaga inflasi 2,5 plus minus 1 persen.

Baca juga: Kredit Baru Melonjak di Akhir 2025, Ditopang Modal Kerja dan Investasi

Ilustrasi kredit, fintech, pinjaman daring. FREEPIK/PCH.VECTOR Ilustrasi kredit, fintech, pinjaman daring.

Dengan kondisi tersebut, bank sentral memandang bahwa ruang pelonggaran likuiditas dan penguatan transmisi suku bunga melalui KLM perlu diimbangi dengan penguatan ekspektasi dan kesiapan proyek di sektor riil.

Dari likuiditas ke intermediasi yang seimbang

Secara keseluruhan, rancangan PINISI menunjukkan pergeseran pendekatan dari sekadar penyediaan likuiditas menuju orkestrasi intermediasi yang lebih komprehensif.

Jika KLM menyediakan ruang likuiditas dan insentif, maka PINISI berfungsi sebagai katalis yang menyambungkan kebijakan tersebut dengan kebutuhan nyata sektor-sektor prioritas.

Baca juga: Purbaya Tarik Penempatan Dana Rp 75 Triliun, Pengamat: Tak Pengaruhi Penyaluran Kredit

Dengan struktur empat tema besar, yakni perumahan, ketahanan dan hilirisasi pangan, industri dan hilirisasi SDA, serta inklusi dan digitalisasi, BI berupaya memastikan pertumbuhan kredit tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga lebih terarah dan inklusif.

Tag:  #lewat #pinisi #perkuat #permintaan #kredit #perumahan #hingga #umkm

KOMENTAR