Studi Ungkap Kasus Autisme pada Anak Laki-laki dan Perempuan Setara
Autisme selama ini sering dianggap sebagai kondisi yang jauh lebih banyak dialami anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan. Namun, sebuah studi besar terbaru yang menganalisis data jutaan orang menunjukkan gambaran yang berbeda, setidaknya di Swedia.
Memang, pada masa kanak-kanak, anak laki-laki lebih sering menerima diagnosis autisme. Tetapi ketika memasuki usia dewasa, perbandingan jumlah diagnosis antara pria dan wanita menjadi hampir seimbang, sekitar 1:1.
Temuan ini mengindikasikan bahwa persoalannya bukan karena lebih sedikit wanita yang berada dalam spektrum autisme, melainkan banyak dari mereka baru terdiagnosis di usia yang lebih tua.
Baca juga: Anak dengan Autisme Lebih Sensitif terhadap Gluten, Benarkah? Ini Kata Ahli
Sejak 1990-an, angka diagnosis gangguan spektrum autisme (ASD) terus meningkat. Meski begitu, distribusi diagnosis antara pria dan wanita masih belum merata.
Dalam DSM-5, sebuah panduan utama untuk definisi dan penanganan gangguan kesehatan mental, disebutkan bahwa dari setiap empat pria yang didiagnosis autisme, hanya satu wanita yang menerima diagnosis.
Tetapi studi terbaru, yang dipimpin oleh epidemiolog medis Caroline Fyfe dari Institut Karolinska di Swedia, menggambarkan gambaran yang sangat berbeda.
Studi ini menambah kumpulan penelitian yang semakin berkembang yang menunjukkan bahwa perempuan autis sampai saat ini dikesampingkan oleh sistem diagnosis dan pengobatan.
Baca juga: Vaksin MR (Campak Rubella) Tak Menyebabkan Autisme, Ini Kata IDAI
Austisme adalah spektrum
Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi, minat yang intens dan spesifik pada topik atau aktivitas tertentu, perilaku berulang, dan preferensi yang kuat terhadap rutinitas.
Penanganan autisme berfokus pada pengelolaan gejala. Autisme merupakan gangguan spektrum, yang berarti kebutuhan setiap orang bisa sangat berbeda. Ada yang memerlukan dukungan tambahan, misalnya jika tidak dapat berbicara, mencari penghasilan, atau hidup mandiri.
Namun ada juga yang dapat hidup mandiri dan mampu mengelola gejalanya melalui terapi, penyesuaian di tempat kerja, serta penanganan gejala tertentu dan masalah kesehatan lain yang sering muncul bersamaan.
Baca juga: Dokter Anak: Autisme Bisa Dikenali sejak Dini lewat Tanda-tanda Ini
Diagnosis pada masa kanak-kanak umumnya bergantung pada penilaian orangtua dan tenaga kesehatan mengenai apakah perilaku anak sesuai dengan kriteria dalam DSM-5.
Tentu saja, ketika suatu kondisi didefinisikan terutama memengaruhi satu kelompok demografis tertentu, kondisi tersebut lebih mudah terlewat pada kelompok lain, terutama jika gejalanya muncul dengan pola yang berbeda dari deskripsi di DSM-5, sebagaimana diduga sebagian peneliti.
“Penelitian yang lebih baru, serta pengalaman yang banyak dilaporkan sendiri oleh perempuan autistik, menunjukkan bahwa rasio sebenarnya tidak terlalu timpang dan praktik saat ini gagal mengenali autisme pada banyak perempuan hingga usia yang lebih dewasa, atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali,” jelas penyandang autisme sekaligus advokat, Anne Cary, dalam editorial yang menyertai penelitian tersebut.
“Bukti ini tampaknya mendukung argumen bahwa bias sistemik dalam diagnosis, bukan seperti yang dianggap banyak orang selama ini kalau perbandingannya 4:1 antara anak laki-laki dan perempuan," lanjutnya.
Baca juga: Komunitas Medis Membantah Pernyataan Trump Soal Penyebab Autisme
Metode penelitian
Tim yang dipimpin Fyfe menganalisis catatan medis lebih dari 2,7 juta orang Swedia yang lahir antara tahun 1985 dan 2020 untuk melacak bagaimana prevalensi dan rasio diagnosis klinis ASD berubah dari lahir sampai usia 37 tahun.
Meskipun laki-laki biasanya didiagnosis dengan autisme pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada perempuan selama masa kanak-kanak, rasio jenis kelamin ini menjadi hampir seimbang pada sekitar usia 20 tahun.
Temuan itu menunjukkan bahwa autisme sebenarnya bukan kondisi yang didominasi laki-laki,: hanya saja butuh waktu lebih lama bagi anak perempuan dan wanita untuk didiagnosis. Mengapa hal itu terjadi masih belum jelas.
"Oleh karena itu, rasio laki-laki terhadap perempuan ini mungkin jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan sebelumnya, sampai tingkat di mana, di Swedia, rasio tersebut mungkin tidak lagi dapat dibedakan saat dewasa,” lapor Fyfe dan timnya.
“Pengamatan ini menyoroti perlunya menyelidiki mengapa kelompok perempuan menerima diagnosis lebih lambat dibandingkan individu laki-laki.”
Meski demikian, studi ini hanya dilakukan di Swedia sehingga belum tentu hasilnya akan sama di negara lain.
Baca juga: Studi: 1 dari 127 Orang di Dunia Idap Autisme
Tag: #studi #ungkap #kasus #autisme #pada #anak #laki #laki #perempuan #setara