Studi Ungkap Makanan Ultra-Proses Lebih Mirip Rokok daripada Makanan Sehat
Makanan ultra-proses kini dinilai tidak lagi sekadar persoalan pola makan, tetapi ancaman serius bagi kesehatan publik.
Sebuah studi terbaru menyebut makanan ultra-proses memiliki kesamaan dengan rokok karena dirancang untuk membuat orang terus mengonsumsinya.
Para peneliti menilai produk ini perlu diatur lebih ketat, bahkan diperlakukan layaknya produk tembakau.
Temuan ini memicu perdebatan baru tentang tanggung jawab industri pangan terhadap meningkatnya penyakit tidak menular.
Baca juga: Mengenal Makanan Ultra Proses dan Bahayanya Bagi Kesehatan
Apa yang dimaksud dengan makanan ultra-proses?
Makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) merupakan produk pangan yang dibuat melalui proses industri kompleks.
Jenis makanan ini biasanya mengandung bahan tambahan seperti pengemulsi, pewarna buatan, perisa, serta pemanis buatan.
Contohnya termasuk minuman ringan, camilan kemasan, biskuit, keripik, hingga makanan siap saji.
Produk-produk ini mudah ditemukan, relatif murah, dan dipasarkan secara masif di berbagai negara.
Baca juga: Apakah Makanan Ultra Proses yang Dimakan Bumil Sebabkan Anak Obesitas?
Mengapa disebut mirip rokok?
Ilustrasi Ultra Processed Food (UPF) atau makanan ultra proses. Peneliti menjelaskan alasan ilmiah di balik anggapan bahwa makanan ultra-proses menyerupai rokok dari sisi dampaknya.
Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal kesehatan Milbank Quarterly pada 3 Februari 2026, peneliti dari Harvard University, University of Michigan, dan Duke University menilai makanan ultra-proses dirancang untuk mendorong konsumsi berlebihan.
Mereka menemukan adanya kesamaan antara makanan ultra-proses dan rokok, terutama dalam cara produk tersebut memengaruhi sistem penghargaan di otak.
Peneliti menyebut produsen mengatur “dosis” rasa, tekstur, dan kandungan tertentu agar produk cepat memberikan sensasi menyenangkan, sehingga mendorong keinginan untuk mengonsumsi lagi.
“Banyak makanan ultra-proses memiliki karakteristik yang lebih mirip rokok dibandingkan buah atau sayuran segar,” tulis para peneliti, dikutip dari The Guardian.
Konsumsi Makanan Ultra-Proses Meningkat, Ahli Ingatkan BahayanyaPengalaman pasien: Merasa sulit berhenti
Salah satu penulis studi, Profesor Ashley Gearhardt dari University of Michigan, mengatakan temuan ini sejalan dengan pengalaman pasien yang ia tangani.
Gearhardt, yang merupakan psikolog klinis dengan spesialisasi adiksi, menyebut banyak orang merasakan dorongan konsumsi yang sulit dikendalikan.
“Mereka mengatakan merasa kecanduan. Ada yang bilang dulu kecanduan rokok, sekarang kebiasaan itu berpindah ke soda dan donat,” ujar Gearhardt.
Menurutnya, perdebatan soal makanan ultra-proses mengikuti pola lama dalam isu kecanduan, di mana tanggung jawab sering kali dibebankan sepenuhnya pada individu.
Baca juga: Makanan Ultra-Proses Bisa Bikin Anak Mudah Marah, Ini Kata Dokter
Bukan sekadar pilihan pribadi
Para peneliti menilai pendekatan yang hanya menekankan pilihan individu tidak lagi memadai. Berbeda dengan rokok yang bisa dihindari, makanan merupakan kebutuhan dasar sehingga masyarakat sulit sepenuhnya lepas dari lingkungan pangan modern.
Karena itu, mereka mendorong perubahan fokus dari tanggung jawab pribadi ke akuntabilitas industri pangan.
Langkah yang disarankan mencakup pembatasan iklan, regulasi pemasaran, hingga kebijakan struktural yang lebih tegas.
Meski demikian, tidak semua ahli sepakat dengan perbandingan makanan ultra-proses dan rokok.
Profesor Martin Warren dari Quadram Institute menilai perbandingan tersebut berisiko terlalu menyederhanakan persoalan.
Ia mempertanyakan apakah makanan ultra-proses bersifat adiktif secara biologis seperti nikotin, atau lebih karena kebiasaan dan kenyamanan.
Menurutnya, penting juga melihat apakah dampak kesehatan muncul karena kandungan makanan itu sendiri atau karena menggantikan konsumsi makanan utuh yang lebih bergizi.
Baca juga: Makanan Ultra-Proses, Apa Itu dan Mengapa Perlu Dibatasi
Dampak global dan kekhawatiran negara berkembang
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Dr Githinji Gitahi, Direktur Eksekutif Amref Health Africa. Ia menilai makanan ultra-proses semakin menekan sistem kesehatan, terutama di negara berkembang.
“Produk ini berkembang di tengah lemahnya regulasi dan perubahan pola konsumsi,” ujarnya.
Gitahi memperingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan publik, lonjakan penyakit tidak menular dapat membebani sistem kesehatan secara serius.
Para ahli sepakat bahwa kesadaran publik perlu ditingkatkan, bersamaan dengan kebijakan yang melindungi konsumen.
Perdebatan tentang makanan ultra-proses kini tidak hanya soal gizi, tetapi juga tentang bagaimana industri dan negara bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat.
Baca juga: Pangan Ultra-Proses di Menu MBG Ramadhan Dikritik
Tag: #studi #ungkap #makanan #ultra #proses #lebih #mirip #rokok #daripada #makanan #sehat