Dassault: Jet Bisnis Bukan Simbol Kemewahan, tapi Alat Produktivitas Perusahaan
Pesawat jet bisnis kerap dipersepsikan sebagai simbol kemewahan dan gaya hidup eksklusif kalangan ultra-kaya.
Namun bagi Dassault Aviation, business jet sejatinya adalah alat mobilitas strategis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan.
Executive Vice President Civil Aircraft Dassault Aviation, Carlos Bana, menegaskan bahwa filosofi Falcon tidak dibangun di atas kemewahan yang berlebihan.
“Kami tidak berada di ranah kemewahan,” ujar Bana.?
“Yang kami tawarkan adalah efisiensi. Ini adalah alat bisnis,” imbuhnya.
Baca juga: Dassault Pamer Falcon 6X di Singapore Airshow 2026, Soroti Prospek Asia-Pasifik dan Program 10X
Menurut Bana, anggapan bahwa jet bisnis identik dengan kemewahan tidak sepenuhnya tepat. Meski harga pesawat sangat tinggi, desain dan konsepnya lebih mengutamakan fungsi dibanding ornamen glamor.
“Desainnya sederhana, elegan… tetapi bukan kemewahan yang berlebihan,” katanya.
Kecil namun berpotensi
Di Indonesia, pasar business jet memang belum besar. Bana memperkirakan total armada jet bisnis di Tanah Air berada di kisaran 40–60 unit.
“Indonesia memiliki sekitar 40 hingga 50 unit pesawat bisnis jet, ini bukan pasar yang besar," ujarnya.
Meski demikian, Dassault melihat Indonesia sebagai pasar yang solid dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, terutama karena faktor geografis sebagai negara kepulauan dengan banyak bandara berlandasan pendek dan lokasi terpencil.
Bana menyebut model seperti Dassault Falcon 2000 cocok untuk penerbangan domestik dan regional, sementara model jarak jauh seperti Dassault Falcon 6X dan Dassault Falcon 10X dirancang untuk perjalanan lintas benua tanpa transit.
Baca juga: Pesawat Jet Dassault Falcon 10X Meluncur, Terbesar dan Terjauh di Kelasnya
Salah satu tantangan utama di Indonesia, menurut Bana, bukan semata faktor ekonomi, melainkan budaya korporasi.
Ia menilai masih banyak perusahaan besar yang memilih penerbangan komersial meski memiliki skala bisnis internasional.
Dassault Falcon 6X.
“Tantangan pertama ketika memasuki suatu negara adalah budaya masyarakatnya. Seberapa besar mereka bersedia menggunakan jet bisnis?” kata Bana.
Ia mencontohkan bahwa di Amerika Serikat, jet bisnis telah lama menjadi bagian dari strategi mobilitas perusahaan. Di Indonesia, penggunaan jet bisnis dinilai masih bisa berkembang.
“Indonesia sebenarnya bisa berkembang lebih baik lagi dalam hal ini,” ujarnya.
Bana menekankan bahwa nilai utama jet bisnis adalah efisiensi waktu. Dengan terbang langsung dari bandara terdekat ke tujuan akhir tanpa transit, perusahaan dapat menghemat waktu signifikan.
“Penerbangan bisnis pada dasarnya untuk menghemat waktu,” kata Bana.
Konsep ini juga tercermin dalam desain kabin Falcon yang dirancang untuk meminimalkan kelelahan penumpang. Falcon memiliki tekanan kabin rendah dan tingkat kebisingan yang sangat minim.
“Kami punya pesawat dengan tekanan kabin setara (di ketinggian) 3.900 kaki saat terbang di ketinggian 41.000 kaki. Tingkat kebisingannya juga sangat rendah," kata Bana.
Tujuannya, lanjut Bana, agar penumpang tetap segar dan siap bekerja setibanya di tujuan.
Fassault Falcon 10X
Investasi jangka panjang
Ketika ditanya apa sarannya bagi pemimpin industri Indonesia, Bana tidak secara langsung mendorong pembelian jet bisnis. Ia menekankan bahwa keputusan tersebut harus dilihat sebagai strategi mobilitas jangka panjang.
“Memiliki pesawat bisnis jet tentu ada biayanya. Kami tidak menutup-nutupi hal itu,” katanya.
Namun, ia menambahkan bahwa bagi banyak perusahaan global, biaya tersebut sering kali terkompensasi oleh peningkatan efisiensi dan ekspansi bisnis.
“Bagi banyak pemilik jet bisnis, mereka menilai biaya tersebut lebih dari terkompensasi oleh keberhasilan perusahaan,” pungkas Bana.
Dengan pendekatan tersebut, Dassault berupaya menggeser persepsi jet bisnis dari simbol kemewahan menjadi instrumen produktivitas.
Tag: #dassault #bisnis #bukan #simbol #kemewahan #tapi #alat #produktivitas #perusahaan