8 Kebohongan Paling Umum dalam Resume yang Sering Berujung pada Mendapatkan Pekerjaan
seseorang yang sedang interview pekerjaan (Freepik/freepik)
11:32
7 Februari 2026

8 Kebohongan Paling Umum dalam Resume yang Sering Berujung pada Mendapatkan Pekerjaan

Resume (CV) adalah “senjata utama” dalam dunia pencarian kerja. Dalam beberapa detik pertama, HRD atau rekruter akan menilai apakah seseorang layak dipanggil interview atau tidak hanya dari selembar dokumen. Tekanan ini membuat banyak pelamar tergoda untuk “memoles” fakta — bahkan sampai berbohong — demi terlihat lebih menarik dan kompeten.

Yang mengejutkan, banyak dari kebohongan ini justru berhasil mengantarkan pelamar ke tahap interview, bahkan sampai mendapatkan pekerjaan. Bukan karena HRD tidak pintar, tetapi karena kebohongan tersebut sulit diverifikasi di tahap awal, terlihat “masuk akal”, dan terdengar profesional.

Dilansir dari Geediting, terdapat 8 kebohongan paling umum dalam resume yang sering dilakukan orang dan sering berujung pada mendapatkan pekerjaan.

1. Melebih-lebihkan Skill (Skill Inflation)

Contoh umum:

“Mahir Microsoft Excel” → padahal hanya bisa basic formula

“Menguasai Photoshop” → hanya bisa edit template

“Fluent English” → hanya bisa percakapan dasar

Ini adalah kebohongan paling klasik dan paling sering dilakukan.

Kenapa berhasil?
Karena definisi “mahir” atau “menguasai” itu subjektif. HRD jarang menguji langsung skill teknis di tahap screening CV. Selama skill tersebut relevan dengan posisi dan terdengar masuk akal, resume akan lolos seleksi awal.

Masalahnya baru muncul saat:

Tes teknis

Interview mendalam

Sudah masuk kerja

Namun, banyak orang tetap lolos karena bisa belajar cepat setelah diterima.

2. Memperbesar Peran dalam Tim (Role Exaggeration)

Contoh:

“Memimpin proyek X” → padahal hanya anggota tim

“Mengelola klien” → padahal hanya membantu komunikasi

“Bertanggung jawab atas strategi pemasaran” → padahal hanya eksekutor

Ini bukan bohong total, tapi distorsi peran.

Kenapa berhasil?
Karena resume tidak menampilkan struktur organisasi. HRD tidak tahu apakah kamu leader, koordinator, atau staf — yang penting deskripsinya terdengar strategis, aktif, dan berdampak.

Kalimat yang sering dipakai:

“Bertanggung jawab atas…”

“Mengelola…”

“Memimpin proses…”

Padahal realitanya sering jauh lebih kecil dari itu.

3. Pengalaman Kerja Fiktif atau Setengah Fiktif

Contoh:

Freelance project yang tidak pernah ada kliennya

Startup kecil milik teman yang sebenarnya tidak aktif

Proyek pribadi yang ditulis seolah proyek profesional

Kenapa berhasil?
Karena:

Freelance dan startup sulit diverifikasi

Banyak perusahaan tidak melakukan background check detail

HRD lebih fokus ke relevansi skill daripada validitas detail

Selama ceritanya logis dan bisa dijelaskan saat interview, kebohongan ini sering lolos.

4. Mengubah Alasan Keluar Kerja (Exit Reason Manipulation)

Contoh:

Dipecat → “kontrak selesai”

Tidak kuat tekanan → “mencari tantangan baru”

Konflik internal → “ingin berkembang secara profesional”

Ini kebohongan yang sangat umum dan hampir dianggap “normal”.

Kenapa berhasil?
Karena HRD tidak bisa verifikasi alasan keluar dari CV. Alasan yang ditulis biasanya normatif dan positif, sehingga terlihat profesional dan matang secara emosional.

5. Memalsukan Tingkat Pendidikan atau Status Akademik

Contoh:

Drop out → ditulis “sedang menyelesaikan skripsi”

Belum lulus → ditulis “S1 – Universitas X”

Gelar belum resmi → sudah dicantumkan

Kenapa berhasil?
Karena:

Verifikasi ijazah jarang dilakukan di awal

Banyak perusahaan baru mengecek dokumen saat onboarding

HRD lebih fokus ke pengalaman kerja dan skill

Jika kandidat sudah terlanjur lolos interview dan dianggap cocok, banyak perusahaan “menutup mata” selama performanya bagus.

6. Memanipulasi Durasi Kerja (Timeline Editing)

Contoh:

Kerja 6 bulan → ditulis 1 tahun

Gap 1 tahun → dihilangkan

Pindah-pindah kerja → dirapikan timeline-nya

Kenapa berhasil?
Karena HRD membaca pola, bukan detail tanggal.
Yang mereka cari:

Stabilitas

Konsistensi

Tidak terlihat “job hopper”

Sedikit manipulasi tanggal sering tidak terdeteksi, apalagi jika tidak ada background check formal.

7. Menambahkan Sertifikat yang Tidak Pernah Diambil

Contoh:

Menulis “sertifikasi digital marketing” tanpa pernah ikut program resmi

Kursus online gratis → ditulis seolah sertifikasi profesional

Webinar → ditulis sebagai pelatihan resmi

Kenapa berhasil?
Karena:

Nama sertifikasi terdengar meyakinkan

HRD jarang cek keaslian sertifikat satu per satu

Fokus pada relevansi, bukan validitas dokumen

Selama bisa menjelaskan materinya saat interview, biasanya lolos.

8. Memalsukan Soft Skill dan Karakter Pribadi

Contoh:

“Leadership kuat”

“Komunikatif”

“Disiplin tinggi”

“Mampu bekerja di bawah tekanan”

Padahal realitanya:

Tidak suka kerja tim

Mudah panik

Tidak suka tanggung jawab

Kurang konsisten

Kenapa berhasil?
Karena soft skill tidak bisa diverifikasi dari CV. Semua orang bisa menulis hal yang sama. HRD hanya bisa menilai dari cara bicara dan sikap saat interview, itupun tidak selalu akurat.

Kenapa Kebohongan Ini Sering Berhasil?

Ada beberapa faktor utama:

HRD screening ratusan CV → tidak bisa verifikasi detail satu per satu

Resume adalah dokumen marketing, bukan dokumen hukum

Interview lebih menilai kepercayaan diri daripada fakta

Perusahaan butuh cepat mengisi posisi

Skill bisa dipelajari, attitude bisa dibentuk (menurut banyak rekruter)

Selama kandidat terlihat:

Bisa belajar cepat

Adaptif

Komunikatif

Tidak bermasalah secara sikap

Maka banyak “kebohongan kecil” dianggap bisa ditoleransi.

Catatan Penting (Realistis, Bukan Moralis)

Ini bukan pembenaran etis untuk berbohong.
Tapi realitanya, dunia kerja tidak sepenuhnya idealis. Resume sering lebih dekat ke “branding diri” daripada “laporan fakta objektif”.

Perbedaan tipisnya ada di sini:

Bohong total → berbahaya

Manipulasi fakta → abu-abu

Framing cerdas → legal dan aman

Contoh framing cerdas:

“Membantu proses pengelolaan klien”
“Terlibat dalam pengembangan strategi pemasaran”
“Berperan dalam koordinasi tim proyek”

Tanpa bohong, tapi tetap terlihat kuat.

 

***

 

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #kebohongan #paling #umum #dalam #resume #yang #sering #berujung #pada #mendapatkan #pekerjaan

KOMENTAR