Jenderal Buronan Interpol Ambil Peran Kunci dalam Perang Iran-AS
- Seorang panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang dikenai sanksi Amerika Serikat (AS) dan dicari Interpol, membantu merancang langkah Teheran selanjutnya di saat negosiasi perang ada di ujung tanduk.
Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, mengambil alih peran tersebut setelah pendahulunya, Mohammad Pakpour, tewas dalam serangan AS-Israel di hari pertama perang, 28 Februari.
Vahidi dikenai sanksi oleh AS atas perannya dalam menindak protes domestik dan dicari oleh Interpol karena dugaan keterlibatannya dalam pemboman di Argentina tiga dekade lalu.
Baca juga: Iran Sebut Trump Tak Punya Pilihan untuk Damai Selain Terima Tuntutan Teheran
Jenderal tersebut merupakan salah satu penentang paling keras terhadap kompromi dengan Washington dan, menurut para ahli, lebih radikal daripada Pakpour.
“Dia berpengaruh, tetapi (dia) bagian dari sebuah sistem,” kata Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group, dikutip dari CNN, Sabtu (23/5/2026).
“Keputusan dibuat secara konsensual dan tidak diragukan lagi Vahidi memiliki suara yang sangat lantang di ruangan itu.”
Di bawah kepemimpinan Vahidi, IRGC secara efektif telah mencekik lalu lintas di pos pemeriksaan minyak terpenting di dunia, sementara tuntutan Teheran dari Washington sekarang melebihi tuntutan yang diajukan dalam negosiasi sebelumnya.
Baca juga: Energi Terguncang akibat Perang Iran, Jerman Dekati Negara Teluk
Para ahli mengatakan sejak perang Iran dimulai, Teheran dipimpin sekelompok kecil tokoh dari IRGC yang muncul dari sisa perang Iran-Irak pada 1980-an. Dan Vahidi adalah pemain kunci di antara mereka.
“Ia menjadi aktor yang sangat penting tetapi dalam batasan sistemik yang dimiliki Republik Islam," kata Vaez, menambahkan jenderal tersebut memiliki pengaruh khusus ketika negara sedang berperang.
Seberapa besar hambatan yang ditimbulkannya dalam mencapai kesepakatan dengan AS masih belum jelas. Dan belum ada bukti Vahidi merupakan penghalang perundingan.
Baca juga: Transaksi Senjata AS-Taiwan Disebut Tidak Terkait dengan Perang Iran
Pemimpin militer yang radikal
Vahidi adalah sosok radikal dan sangat dominan yang berkomitmen pada prinsip-prinsip Revolusi Islam, kata Danny Citrinowicz, mantan kepala cabang Iran dari intelijen militer Israel, kepada CNN.
“Anda tidak bisa menyepakati sesuatu tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu,” kata Citrinowicz.
“Dia termasuk orang-orang yang mengatakan jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, jika Trump ingin kembali berperang, silakan saja,” sambungnya.
Baca juga: AS Tawarkan Proposal Baru ke Iran, Disebut Siap Akhiri Operasi Militer dan Cabut Sanksi
Sebelumnya, Vahidi memperingatkan “jika terjadi agresi lebih lanjut terhadap wilayah Iran, api yang sebelumnya terbatas pada kerangka perang regional, kali ini akan berkobar dan melampaui setiap perbatasan dan wilayah.”
“Kalian akan menerima pukulan yang menghancurkan,” katanya di X pada Rabu (20/5/2026), menurut media Iran.
Meskipun para pejabat Iran seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menlu Abbas Araghchi biasanya jadi wajah publik Teheran dan negosiasinya dengan AS, Vahidi kemungkinan besar mendukung beberapa kebijakan garis keras Iran dari balik layar, menurut beberapa ahli.
Baca juga: AS dan Iran Gagalkan Kesepakatan Perjanjian Nuklir di Konferensi PBB
Jadi buronan interpol
Ilustrasi Interpol.
Vahidi menjadi buronan Interpol atas dugaan perannya dalam pemboman pusat komunitas Yahudi di Buenos Aires, Argentina, pada 1994, yang menewaskan 85 orang.
Ia juga dilaporkan telah menjalin kontak dengan warga Israel pada tahun 1980-an selama " skandal Iran-Contra."
Itu merupakan skema yang didukung Israel dan AS untuk menjual senjata ke Iran dan kemudian menggunakan hasilnya untuk mendanai pemberontak anti-komunis, yang dikenal sebagai Contra, di Nikaragua.
Baca juga: Situasi Genting, Trump Siapkan Rencana Serang Iran Lagi
“Dia merupakan buronan. Dia adalah orang yang harus diperhitungkan,” kata Citrinowicz.
Awan kelabu menyelimuti Vahidi, karena beberapa pendahulunya dibunuh oleh AS dan Israel, termasuk Qasem Soleimani , mantan komandan Pasukan Quds.
Vahidi sendiri menjadi komandan pertama Pasukan Quds Iran, sebuah unit elit IRGC, dan memegang beberapa peran selama bertahun-tahun, termasuk wakil kepala IRGC dan angkatan darat Iran, menteri pertahanan, dan menteri dalam negeri.
Tag: #jenderal #buronan #interpol #ambil #peran #kunci #dalam #perang #iran