Likuiditas Longgar, BI Prediksi Kredit 2026 Tumbuh 8 hingga 12 Persen
– Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 sebesar 9,6 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian pertumbuhan kredit tersebut berada dalam kisaran proyeksi 8 sampai 11 persen.
Memasuki 2026, pertumbuhan kredit diprakirakan berada pada rentang 8 sampai 12 persen (yoy), seiring kebijakan makroprudensial yang tetap pro-growth (mendukung pertumbuhan) dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Baca juga: OJK: Penyaluran Kredit Buat Kopdes Merah Putih dan MBG Tembus Rp 149 Triliun di 2025
Ilustrasi kredit, kredit perbankan. Bank optimistis kredit dan likuiditas tetap tumbuh hingga akhir tahun.
Intermediasi 2026 masih didorong
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis menyatakan, intermediasi pada 2026 akan terus didorong dalam kerangka kebijakan pro-growth.
"2025 kami stance pro-growth, sampai 2025 dan bagaimana kami memandang 2026 kami tetap mempertahankan stance pro-growth," kata Alexander, Jumat (6/2/2026).
Secara domestik, pertumbuhan ditopang oleh prakiraan inflasi yang terjaga, akselerasi program pemerintah, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang kuat, serta implementasi proyek Danantara.
Namun, dari sisi global, prospek PDB global masih lemah, ketegangan geopolitik berlanjut, volatilitas pasar keuangan tetap tinggi, dan harga komoditas masih lemah.
Baca juga: Pameran Otomotif, Jurus Genjot Kredit Kendaraan Bermotor
Dari sisi pelaku ekonomi, BI mencatat bahwa pada 2025 permintaan kredit didominasi korporasi besar. Ekspansi usaha korporasi masih bersifat “wait and see” dan lebih mengandalkan dana internal.
"Korporasi masih wait and see untuk ekspansi. Mereka masih coba lihat peluang-peluang apa yang bisa mereka coba lakukan, sehingga mereka lebih banyak gunakan dana internal," tutur Alexander.
Ilustrasi bisnis.
Sementara itu, daya beli rumah tangga, khususnya kelas menengah bawah, masih lemah sehingga menahan permintaan kredit konsumsi. Kinerja UMKM juga disebut masih belum pulih sepenuhnya.
"UMKM harus terus didorong. Setelah pandemi mereka masih terus berjuang memulihkan kinerja," ucap Alexander.
Baca juga: Perlindungan Konsumen di Tengah Jerat Kredit Macet
Meski demikian, terdapat peluang akselerasi kredit pada 2026, antara lain dalam era suku bunga rendah (low interest rate environment), realokasi aset melalui strategi portofolio perbankan, serta prospek permintaan yang ditopang program prioritas pemerintah termasuk hilirisasi dan perumahan.
Struktur pertumbuhan kredit 2025
Alexander memaparkan, pertumbuhan kredit 2025 sebesar 9,6 persen didukung kebijakan suku bunga rendah, likuiditas longgar termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), serta ekspansi keuangan pemerintah .
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi (KI) tumbuh 21,06 persen (yoy) pada Desember 2025, meningkat dibandingkan 13,62 persen pada Desember 2024.
Sementara itu, kredit modal kerja (KMK) tumbuh 6,58 persen (yoy) dan kredit konsumsi tumbuh 4,52 persen (yoy).
Baca juga: Suku Bunga Kredit Diprediksi Mulai Turun, BCA Targetkan Pertumbuhan Kredit 8-10 Persen
Berdasarkan segmen, pertumbuhan kredit didorong terutama oleh segmen korporasi yang tumbuh 18,33 persen (yoy) pada akhir 2025. Kredit komersial tumbuh 6,58 persen, kredit konsumsi 4,22 persen, sedangkan kredit UMKM terkontraksi 0,30 persen (yoy).
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) industri tumbuh 13,83 persen (yoy). Pertumbuhan DPK ditopang terutama oleh bank BUMN, dengan peningkatan pada seluruh jenis simpanan, khususnya deposito dan giro.
Ilustrasi Bank Indonesia
Dinamika permintaan: korporasi dan rumah tangga
Dari sisi permintaan (demand), kinerja korporasi dan rumah tangga masih perlu terus didorong untuk memanfaatkan fasilitas pinjaman bank.
Pertumbuhan penjualan dan belanja modal (capital expenditure/capex) korporasi meningkat pada semester II 2025. Secara agregat, sales korporasi tumbuh 5,36 persen yoy dan capex 5,92 persen (yoy) pada periode tersebut.
Baca juga: Ada Ramadhan dan Idul Fitri, OJK Optimistis Penyaluran Kredit Bakal Tumbuh Positif di Kuartal I 2026
Kredit investasi masih menjadi pendorong utama kredit korporasi, dengan pertumbuhan 22,93 persen (yoy), sementara kredit modal kerja tumbuh 3,89 persen.
Secara total, kredit sektor korporasi tumbuh 12,32 persen (yoy).
Di sisi rumah tangga, pertumbuhan kredit rumah tangga tercatat 6,73 persen, namun belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan konsumsi akhir tahun.
KPR rumah tangga segmen kelas menengah dan atas mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan KPR total 6,84 persen pada akhir 2025.
Baca juga: Calon Deputi Gubernur BI Ungkap Alasan Kebijakan Pemerintah dan BI Tak Ampuh Dorong Kredit
Ketahanan sistem keuangan terjaga
Menurut Alexander, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Permodalan perbankan kuat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) 26,05 persen pada akhir 2025.
Likuiditas memadai, tercermin dari rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 28,57 persen. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat 2,05 persen.
Meski demikian, profitabilitas bank sedikit menurun, dengan ROA 2,44 persen dan NIM 4,56 persen pada November 2025, sebagai upaya menjaga intermediasi.
Dari sisi korporasi, kemampuan bayar tetap terjaga. Median interest coverage ratio (ICR) 12 bulan berada di kisaran 2,12 kali, sementara persentase debt at risk dan korporasi dengan ICR di bawah 1,0 tetap terkontrol.
Ilustrasi keuangan, sektor keuangan.
Baca juga: Kredit Baru Melonjak di Akhir 2025, Ditopang Modal Kerja dan Investasi
"Ketahanan perbankan sangat baik, didukung permodalan sangat tinggi dan likuiditas memadai. NPL bisa di-maintain," tutur Alexander.
Namun, BI mencermati risiko rumah tangga, khususnya pada segmen KPR nonsubsidi. Rasio NPL KPR nonsubsidi mencapai 3,61 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan KPR subsidi yang mencapai 1,84 persen.
Kredit UMKM dan program pemerintah
Bank sentral menyoroti bahwa pertumbuhan kredit UMKM masih perlu terus didukung. Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit terus menurun, dari 20,55 persen pada Desember 2023 menjadi 19,24 persen pada Desember 2024 dan 17,49 persen pada Desember 2025.
Secara tahunan, kredit UMKM tumbuh 6,81 persen pada awal 2025, namun segmen kecil dan menengah masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar 2,02 persen dan 0,30 persen, sementara mikro terkontraksi 4,68 persen.
Baca juga: Kenapa Kredit Nganggur di Perbankan Tinggi?
Perlambatan kredit UMKM terjadi seiring meningkatnya risiko, tercermin dari kenaikan NPL UMKM dan pengetatan lending appetite perbankan.
Alexander menyebut kredit program pemerintah, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), diharapkan menjadi penopang utama pembiayaan UMKM pada 2026.
Relaksasi kebijakan KUR meliputi penyaluran kepada pelaku usaha mikro, kecil, calon pekerja migran dan kelompok usaha, penyaluran sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor tanpa batasan akses dan akumulasi, suku bunga flat 6 persen, penggunaan kekayaan intelektual sebagai agunan tambahan, serta relaksasi bagi debitur terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang partisipasi bagi 300.000 UMKM, termasuk binaan BI pada klaster beras, daging ayam, dan telur.
Baca juga: Purbaya Tarik Penempatan Dana Rp 75 Triliun, Pengamat: Tak Pengaruhi Penyaluran Kredit
Ilustrasi kredit, fintech, pinjaman daring.
Proyeksi kredit 2026
Bank sentral memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 berada pada kisaran 8 sampai 12 persen (yoy).
Menurut Alexander, proyeksi tersebut didukung kebijakan makroprudensial pro-growth seperti KLM, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), Loan to Value (LTV) dan Uang Muka (UM), Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), serta Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) yang tetap longgar.
"Peluang di 2026, masih sangat tinggi peluang akselerasi kredit di tengah stance pro-growth dan kondisi low interest rate," sebut dia.
Pelajaran dari 2025 menunjukkan, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan longgar, penguatan sinergi diperlukan untuk mengatasi market imperfection, serta koordinasi kebijakan diperlukan untuk mendorong permintaan pembiayaan.
Baca juga: Bencana di Sumatera Ancam Potensi Kredit Rp 400 Triliun, OJK Beri Relaksasi hingga 2028
BI menempatkan 2026 sebagai periode lanjutan kebijakan pro-growth untuk mendorong intermediasi, dengan tetap mencermati risiko global dan domestik yang dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan.
Tag: #likuiditas #longgar #prediksi #kredit #2026 #tumbuh #hingga #persen