Sentil Upaya Pembungkaman, Hasto: Jangan Takut Suarakan Kebenaran Demi Kemanusiaan
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. (Suara.com/Bagaskara)
20:44
7 Februari 2026

Sentil Upaya Pembungkaman, Hasto: Jangan Takut Suarakan Kebenaran Demi Kemanusiaan

Baca 10 detik
  • Hasto Kristiyanto menekankan keteladanan Fatmawati sebagai "Ibu Bangsa" saat peluncuran Fatmawati Trophy 2026 di Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).
  • Fatmawati dianggap sebagai "Ibu Peradaban" yang melegitimasi peran perempuan dalam ranah politik dan publik Indonesia.
  • Hasto menyerukan kader PDI Perjuangan meneladani keberanian dan kepedulian Fatmawati terhadap rakyat kecil.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Ibu Negara pertama, Fatmawati Soekarno.

Menurutnya, Fatmawati bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan "Ibu Bangsa" yang menyemaikan kemanusiaan dalam perjuangan yang sunyi.

Hal tersebut disampaikan Hasto dalam acara peluncuran Fatmawati Trophy 2026 yang digelar di Museum Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).

Acara ini dihadiri secara daring dari Uni Emirat Arab oleh Megawati Soekarnoputri bersama M. Prananda Prabowo.

Di lokasi acara, hadir pula Guntur Soekarno, Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, serta jajaran DPP PDI Perjuangan seperti Bintang Puspayoga dan Yanti Sukamdani.

Hasto mengaku tersentuh dengan refleksi sejarah yang ditampilkan dalam acara tersebut, terutama mengenai proses pembuatan bendera Pusaka.

“Saya tergetar melihat apa yang ditampilkan mas Prananda Prabowo disini. Dalam seluruh kontemplasi bagaimana bendera Merah Putih dibuat, apa yang disampaikan Ibu Mega sangat relevan," kata Hasto.

"Bahwa Sang Dwi Warna bukan sekedar bendera kebangsaan, namun mengandung harapan, keberanian, simbol kedaulatan, dan tekad bagi Indonesia yang bebas dari segala bentuk penjajahan," katanya menambahkan.

Ia menegaskan, bahwa peran Ibu Fatmawati melampaui tugas domestik sebagai istri presiden.

Mengutip pemikiran Megawati Soekarnoputri, ia menyebut sosok Ibu Fatmawati sebagai "Ibu Peradaban" yang membuka jalan bagi kepemimpinan perempuan di Indonesia.

"Beliau tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi ibu peradaban politik perempuan Indonesia. Ibu Fat memberikan legitimasi kuat bagi kaum perempuan untuk bergerak di ranah publik dan politik, yang kemudian menginspirasi kursus kepemimpinan perempuan yang dilaksanakan di tengah-tengah revolusi fisik yang nampak dalam buku Sarinah karya Bung Karno," ujarnya.

Lebih lanjut, Hasto mengajak hadirin untuk memaknai mesin jahit yang ada di museum tersebut sebagai simbol kedaulatan bangsa. Menurutnya, di balik setiap jahitan bendera, terdapat keteguhan prinsip yang luar biasa.

"Di tengah tekanan penjajah dan kondisi mengandung, beliau menjahit harapan. Beliau merawat semangat kemerdekaan melalui kesederhanaan dan keteguhan pada prinsip," tambahnya.

Dalam konteks kekinian, Hasto mengingatkan pentingnya memiliki "Kesabaran Revolusioner" untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa, mulai dari isu kemiskinan hingga upaya pembungkaman suara kritis.

Ia berpesan agar rakyat tidak takut dalam menyuarakan kebenaran.

"Bangsa Indonesia saat ini memerlukan kesabaran revolusioner untuk melawan segala bentuk ketidakadilan, termasuk upaya-upaya pembungkaman suara kritis dan mahasiswa, civil society hingga jurnalis. Kita adalah bangsa merdeka; jangan takut menyuarakan kebenaran dan melawan ketidakadilan demi kemanusiaan," tegas Hasto.

Hasto memberikan instruksi khusus kepada seluruh kader PDI Perjuangan untuk selalu meneladani kasih sayang tulus Ibu Fatmawati kepada rakyat kecil atau Wong Cilik.

"Ini adalah panggilan bagi seluruh kader. Kita memerlukan kebangkitan etika dan keteladanan dari Ibu Fat. Kader harus memiliki keberanian berdiri di barisan depan membela rakyat yang tertindas, sebagaimana Ibu Fat yang selalu peduli pada rakyat kecil meski dalam kesunyian perjuangannya," pungkasnya.

Editor: Dwi Bowo Raharjo

Tag:  #sentil #upaya #pembungkaman #hasto #jangan #takut #suarakan #kebenaran #demi #kemanusiaan

KOMENTAR