Makin Tegang! AS Desak Warganya Keluar dari Iran Sekarang: Tanda Bahaya Menjelang Pembicaraan Nuklir Penting di Oman
— Ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat tajam di awal Februari 2026, setelah pemerintah AS mengeluarkan peringatan darurat kepada warga negaranya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara itu tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.
Peringatan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum perundingan nuklir tingkat tinggi dijadwalkan berlangsung di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2), yang dipandang sebagai momen krusial dalam hubungan bilateral yang sangat tegang.
Peringatan resmi itu disampaikan oleh U.S. Virtual Embassy di Tehran—perwakilan diplomatik virtual Amerika Serikat karena tidak adanya kedutaan resmi AS di Iran—yang menegaskan bahwa kondisi keamanan di seluruh negeri telah memburuk secara signifikan.
Dalam peringatan tersebut, otoritas AS menyarankan warga negaranya merencanakan kepulangan tanpa bergantung pada bantuan pemerintah Amerika Serikat, karena kemampuan layanan konsuler terbatas dan infrastruktur publik semakin terganggu.
Dilansir dari The Sunday Guardian, Jumat (6/2/2026), peringatan tersebut mencatat beberapa faktor risiko yang luar biasa, termasuk pembatasan akses internet yang luas, pemadaman jaringan telepon seluler dan darat, serta gangguan dalam layanan transportasi umum yang membuat mobilitas masyarakat dan warga asing menjadi sangat sulit.
Dalam pernyataan resmi, pemerintah AS menegaskan, “Warga Amerika Serikat yang masih berada di Iran harus bersiap menghadapi gangguan internet yang berkelanjutan, menyiapkan sarana komunikasi alternatif, dan—apabila situasi memungkinkan—mempertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat menuju Armenia atau Turki.”
Peringatan itu juga memberikan panduan jelas bagi warga AS yang tidak dapat segera meninggalkan Iran. Mereka dianjurkan untuk tetap berada di lokasi yang aman, menyiapkan persediaan makanan, air, dan obat-obatan, serta menghindari kerumunan dan demonstrasi publik yang bisa berubah menjadi berbahaya tanpa peringatan. Selain itu, mereka diingatkan untuk tidak menarik perhatian, membatasi aktivitas di ruang publik, serta terus memantau perkembangan situasi melalui media yang terpercaya.
Selain itu, khusus untuk warga dengan kewarganegaraan ganda AS–Iran, peringatan tersebut menegaskan bahwa mereka wajib menggunakan paspor Iran saat keluar dari negara itu, karena pemerintah Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda. Dalam kondisi ini, pemegang paspor Amerika Serikat dapat diperlakukan sepenuhnya sebagai warga Iran, sehingga berisiko menghadapi penahanan atau pembatasan serius terhadap kebebasan bergerak mereka.
Peringatan keras ini muncul di tengah persiapan kedua negara untuk menggelar putaran pembicaraan nuklir yang sangat penting di Oman pada Jumat, yang dianggap oleh banyak analis sebagai salah satu momen diplomatik paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir.
Negosiasi ini sendiri bukan tanpa kontroversi. AS dikabarkan ingin memperluas agenda diskusi tidak hanya soal program nuklir Iran, tetapi juga program misil balistik serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, sementara Iran bersikeras agar perundingan dibatasi pada isu nuklir semata. Ketidaksepakatan ini mencerminkan perbedaan fundamental kedua belah pihak dalam menghadapi isu keamanan regional yang lebih luas.
Di tengah kebuntuan agenda tersebut, kedatangan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Muscat untuk menghadiri pembicaraan menunjukkan bahwa Teheran tetap memilih jalur diplomasi, meskipun situasi politik di dalam negeri terus menegang.
Situasi di lapangan juga mencerminkan kekhawatiran yang mendalam. AS secara signifikan telah memperkuat kehadiran militernya di wilayah Teluk Persia, termasuk penempatan kelompok kapal induk dan aset militer lainnya, sebagai sinyal kesiapan untuk merespons berbagai kemungkinan jika diplomasi gagal meredakan ketegangan.
Presiden AS Donald Trump sendiri telah memberikan peringatan keras terhadap pemimpin Iran, menyiratkan bahwa jika negosiasi gagal dan ancaman nuklir tidak ditangani, opsi serangan militer tetap berada di atas meja. Pernyataan semacam itu semakin memperuncing ketidakpastian di kawasan yang sudah sarat konflik.
Sementara itu, Iran tetap mempertahankan posisi bahwa program nuklirnya bersifat damai dan menolak pembicaraan mengenai misil balistik atau isu non-nuklir lainnya. Ketegangan ini mencerminkan sejarah panjang permusuhan antara Washington dan Tehran sejak Revolusi Islam 1979, yang telah menandai hubungan kedua negara dengan ketidakpercayaan mendalam.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, peringatan pemerintah AS kepada warganya untuk meninggalkan Iran bukan sekadar ancaman retoris, melainkan refleksi nyata risiko yang meningkat di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang kian kompleks.
Tag: #makin #tegang #desak #warganya #keluar #dari #iran #sekarang #tanda #bahaya #menjelang #pembicaraan #nuklir #penting #oman