Mencegah Risiko Demensia, Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Menjadi Prioritas Medis
Deteksi dan penanganan dini gangguan pendengaran kini dipandang sebagai langkah preventif penting dalam menjaga kesehatan kognitif.(Dok SOUNDLIFE)
19:36
9 Februari 2026

Mencegah Risiko Demensia, Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Menjadi Prioritas Medis


Gangguan pendengaran kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Banyak orang baru menyadarinya saat percakapan mulai terasa samar, suara terdengar kurang jelas, atau harus berulang kali meminta lawan bicara mengulangi ucapan.

Padahal, di balik penurunan kemampuan mendengar, terdapat dampak kesehatan yang jauh lebih luas, termasuk kaitannya dengan peningkatan risiko demensia.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas medis menyoroti hubungan antara kesehatan pendengaran dan fungsi kognitif. Pendengaran bukan sekadar soal menangkap suara, melainkan bagaimana otak memproses informasi auditif untuk memahami lingkungan sekitar.

Ketika kemampuan ini menurun, otak harus bekerja lebih keras untuk menafsirkan suara, yang dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi kognitif.

Baca juga: SOUNDLIFE Hadirkan Alat Bantu Dengar Berbasis AI Resmi di Indonesia, Sediakan Program Uji Coba

Selain itu, gangguan pendengaran sering memicu berkurangnya interaksi sosial. Seseorang cenderung menarik diri dari percakapan karena merasa kesulitan mengikuti dialog. Kondisi ini dapat meningkatkan rasa kesepian, stres emosional, hingga depresi—faktor-faktor yang juga dikaitkan dengan penurunan kesehatan otak.

Oleh karena itu, deteksi dan penanganan dini gangguan pendengaran kini dipandang sebagai langkah preventif penting dalam menjaga kesehatan kognitif.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan pendengaran tersebut mendorong berbagai upaya edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan SOUNDLIFE melalui acara bertajuk “Hear Well, Live Well” baru-baru ini di Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah inovasi alat bantu dengar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu pengguna menangkap suara secara lebih jernih dan alami diperkenalkan.

Baca juga: Gangguan Pendengaran pada Anak: Deteksi Dini Jadi Kunci Utama

Tenaga medis Prof Dr Suwandhi Widjaja yang memiliki pengalaman lebih dari lima dekade di dunia kedokteran, menegaskan bahwa menua adalah proses alami.

“Namun, kehilangan kualitas hidup seharusnya dapat dicegah,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (9/2/2026).

Ia menekankan bahwa kemampuan berkomunikasi dengan baik sangat berperan dalam menjaga kebahagiaan dan kemandirian di usia lanjut.

Tenaga medis lain yang juga hadir, Dr Pauline Suwandhi menambahkan bahwa dampak gangguan pendengaran sering berkembang secara perlahan tetapi signifikan.

Ketika komunikasi terganggu, hubungan sosial ikut terpengaruh dan dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fisik. Menurutnya, teknologi berbasis AI membantu menyaring suara dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, sehingga pengalaman mendengar menjadi lebih optimal.

Baca juga: Waspada! Suara Keras Dapat Rusak Pendengaran

Dari perspektif audiologi, Wesley Hsu, MSc Audiology menjelaskan bahwa teknologi pendengaran modern mengusung konsep organic hearing, yakni pengalaman mendengar yang terasa alami dan intuitif. Bagi pengguna baru, proses adaptasi membutuhkan waktu karena otak perlu belajar kembali mengenali suara yang sebelumnya teredam.

Dengan pendampingan profesional dan pemeriksaan pendengaran yang tepat, manfaat penggunaan alat bantu dengar dapat dirasakan secara maksimal.

CEO SOUNDLIFE, IM Chen menekankan pentingnya pemeriksaan pendengaran sebagai langkah awal sebelum memilih perangkat yang sesuai. Ia menyarankan agar setiap individu melakukan tes pendengaran dan mencoba perangkat dalam situasi nyata.

“Dengan begitu, solusi yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan. Pendekatan ini sejalan dengan temuan berbagai riset yang menunjukkan bahwa gangguan pendengaran berdampak multidimensi, mulai dari kelelahan mental akibat usaha mendengar yang lebih besar, penurunan kepercayaan diri sosial, hingga perubahan kondisi emosional,” jelasnya.

Tag:  #mencegah #risiko #demensia #deteksi #dini #gangguan #pendengaran #menjadi #prioritas #medis

KOMENTAR