Psikiater: Anak yang Bunuh Diri Sedang Putus Asa, Bukan Ingin Mengakhiri Hidup
Ilustrasi anak. Psikiater menjelaskan bahwa anak yang bunuh diri sebenarnya tidak ingin mati, tetapi tidak tahu lagi cara hidup dengan beban emosionalnya.(Freepik)
13:06
5 Februari 2026

Psikiater: Anak yang Bunuh Diri Sedang Putus Asa, Bukan Ingin Mengakhiri Hidup

Bunuh diri pada anak usia sekolah bukan sekadar peristiwa tragis, melainkan tanda adanya tekanan psikologis berat yang tidak tertangani.

Psikiater menegaskan, anak yang melakukan bunuh diri bukan karena ingin mati, melainkan karena tidak tahu lagi bagaimana cara hidup dengan beban yang ia rasakan.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyebut anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meski belum matang secara emosional dan kognitif.

Baca juga: Hal yang Harus Dilakukan Saat Pikiran Bunuh Diri Muncul

Dalam kondisi tertekan, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang dan cenderung berpikir hitam-putih.

“Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” ujar Lahargo dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Peka Tanda Kecenderungan Bunuh Diri Orang Sekitar Kita

Bunuh diri anak bukan kejadian tunggal

Menurut Lahargo, bunuh diri pada anak hampir selalu merupakan hasil dari akumulasi tekanan psikologis, bukan satu peristiwa yang berdiri sendiri.

Anak yang terus-menerus berada dalam situasi tertekan, tanpa dukungan emosional yang memadai, dapat sampai pada kesimpulan ekstrem bahwa kehadirannya justru menjadi masalah.

“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian,” katanya.

Ia menambahkan, cara berpikir anak yang masih konkret membuat mereka sulit melihat alternatif selain menghilangkan diri saat merasa terjebak.

Baca juga: 6 Komplikasi OCD, Bisa Picu Dermatitis Kontak sampai Bunuh Diri

Faktor risiko dari individu hingga lingkungan

Ilustrasi anak menangis. Psikiater menjelaskan bahwa anak yang bunuh diri sebenarnya tidak ingin mati, tetapi tidak tahu lagi cara hidup dengan beban emosionalnya.Unsplash/Lucas Metz Ilustrasi anak menangis. Psikiater menjelaskan bahwa anak yang bunuh diri sebenarnya tidak ingin mati, tetapi tidak tahu lagi cara hidup dengan beban emosionalnya.

Lahargo menjelaskan bahwa faktor risiko bunuh diri pada anak usia sekolah dasar datang dari berbagai lapisan.

Dari sisi individu, yang jadi pemicu utama, yakni:

  • Depresi
  • Kecemasan berat
  • Kesulitan mengatur emosi
  • Perasaan bersalah berlebihan

Dari sisi keluarga, yakni:

  • Tekanan ekonomi kronis
  • Konflik berkepanjangan
  • Kekerasan verbal maupun fisik

Sementara itu, faktor lingkungan seperti perundungan, isolasi sosial, serta paparan konten bunuh diri di media digital tanpa pendampingan juga meningkatkan risiko.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu orang dewasa, tetapi juga muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.

Baca juga: Bagaimana Cara Mencegah Bunuh Diri?

Perubahan perilaku jadi tanda peringatan dini

Psikiater menekankan bahwa perubahan perilaku anak merupakan alarm paling penting yang sering diabaikan.

Anak yang tiba-tiba menarik diri, menjadi sangat pendiam, mudah menangis atau marah, mengalami gangguan tidur, hingga mengucapkan kalimat bernada putus asa, sebenarnya sedang meminta pertolongan.

“Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong,” kata Lahargo.

WHO juga menegaskan bahwa mayoritas anak yang melakukan bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau dianggap sebagai fase biasa.

Baca juga: Hal yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Tindakan Bunuh Diri

Beban ekonomi ikut menekan mental anak

Lahargo menyebut tekanan ekonomi keluarga berdampak tidak langsung namun sangat dalam terhadap kesehatan mental anak.

Anak kerap menyerap stres orangtua meski tidak selalu memahaminya secara utuh, lalu merasa dirinya menjadi penyebab kesulitan keluarga.

“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,” ujarnya.

Ia menilai persoalan ini tidak bisa dilihat sebagai kegagalan individu semata, melainkan juga cerminan lemahnya sistem pendukung kesehatan jiwa anak.

Baca juga: Penting untuk Pencegahan, Pahami Tanda Orang yang Akan Bunuh Diri

Pencegahan harus dilakukan bersama

Menurut Lahargo, pencegahan bunuh diri pada anak harus dilakukan secara berlapis. Di keluarga, orangtua perlu membangun komunikasi emosional, memvalidasi perasaan anak, dan berani mencari bantuan.

Di sekolah, guru perlu dilatih mengenali tanda distres psikologis serta memberikan pertolongan pertama pada luka psikologis.

Di tingkat masyarakat dan negara, akses layanan kesehatan jiwa anak perlu diperluas, literasi kesehatan mental harus diperkuat, dan kebijakan perlu sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga.

WHO menegaskan bahwa bunuh diri dapat dicegah melalui intervensi dini, sistem dukungan yang kuat, dan lingkungan yang aman secara emosional.

“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya,” tutup Lahargo.

Baca juga: 6 Cara Mengatasi Pikiran Bunuh Diri

Tag:  #psikiater #anak #yang #bunuh #diri #sedang #putus #bukan #ingin #mengakhiri #hidup

KOMENTAR