Strain Virus Nipah di Indonesia dan India Berbeda, Apa Artinya?
Ilustrasi flu. Epidemiolog menjelaskan bagaimana virus Nipah berpindah dari hewan ke manusia dan apa yang perlu diwaspadai.(Freepik)
12:06
5 Februari 2026

Strain Virus Nipah di Indonesia dan India Berbeda, Apa Artinya?

- Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kasus dilaporkan terjadi di India dan Bangladesh. 

Meski hingga kini belum ada laporan penularan virus Nipah pada manusia di Indonesia, virus ini diketahui memiliki lebih dari satu strain. Pada tahap awal, infeksi virus Nipah dapat menunjukkan gejala yang menyerupai flu.

“Pada tahap awal, Nipah bisa terlihat seperti flu biasa, tetapi perjalanannya bisa memburuk dengan cepat,” ujar Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. Dominicus Husada, dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: Bagaimana Virus Nipah Bisa Menular ke Manusia? Ini Penjelasan Pakar

Walaupun memiliki kemiripan genetik lebih dari 90 persen, strain virus Nipah dapat menunjukkan perbedaan gejala, tingkat keparahan, dan pola penularan di berbagai wilayah.

Keberadaan virus Nipah secara alami pada kelelawar buah di Indonesia membuat pemantauan tetap dilakukan dalam konteks penyakit zoonosis. 

Strain yang Ditemukan di Indonesia dan Malaysia

Strain virus Nipah yang ditemukan di Indonesia dan Malaysia dikenal sebagai NiV-M. Strain ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan pada sistem saraf pusat. 

Pada kasus yang terinfeksi, gejala yang muncul umumnya berupa pusing, sakit kepala, disorientasi, hingga kejang akibat radang otak.

Meski dapat menyebabkan kondisi serius, strain NiV-M dilaporkan memiliki tingkat fatalitas yang lebih rendah dibandingkan strain yang beredar di India dan Bangladesh. 

Selain itu, penularan dari manusia ke manusia pada strain ini dinilai jarang terjadi sehingga penyebarannya relatif terbatas.

Baca juga: Gejala Nipah dan Flu Biasa Sekilas Mirip, IDAI Jelaskan Perbedaan Kritisnya

Ilustrasi virus Nipah. WHO melaporkan dua tenaga kesehatan muda terinfeksi virus nipah di Bengala Barat dengan sumber penularan yang masih ditelusuri.canva.com Ilustrasi virus Nipah. WHO melaporkan dua tenaga kesehatan muda terinfeksi virus nipah di Bengala Barat dengan sumber penularan yang masih ditelusuri.

Strain di India dan Bangladesh

Berbeda dengan NiV-M, strain virus Nipah yang beredar di India dan Bangladesh dikenal sebagai NiV-B. 

Strain ini lebih dominan menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, seperti batuk berat, sesak napas, hingga gangguan pernapasan akut. Pada beberapa kasus, infeksi juga dapat disertai gangguan kesadaran.

Strain NiV-B dilaporkan memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi dan lebih sering ditularkan dari manusia ke manusia. 

Kondisi inilah yang membuat setiap kemunculan kasus di wilayah tersebut menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan.

Baca juga: WHO Ungkap Temuan Virus Nipah di India, Dua Perawat Terinfeksi dan Satu Masih Kritis

Terlepas dari perbedaan strain, virus Nipah memiliki cara penularan yang relatif serupa. Virus ini berasal dari kelelawar buah sebagai reservoir alaminya, lalu dapat berpindah ke manusia maupun ke hewan vertebrata lain, seperti babi, kucing, anjing, kuda, dan kambing. 

Dalam kondisi tertentu, hewan-hewan tersebut juga dapat berperan sebagai perantara penularan ke manusia.

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. 

Selain itu, paparan tidak langsung terhadap cairan tubuh, seperti liur, urine, tinja, darah, atau droplet, juga menjadi salah satu jalur penularan yang perlu diperhatikan. 

Baca juga: Belum Ada Vaksin Virus Nipah, Pakar IDAI Ungkap Perkembangan Riset Global

Virus dapat bertahan pada benda atau lingkungan yang telah tercemar, misalnya tanah atau permukaan lain di sekitar area tempat hewan terinfeksi beraktivitas.

Selain kontak, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi buah atau sari pohon yang terkontaminasi cairan tubuh hewan pembawa virus. 

Dalam konteks yang lebih luas, perubahan lingkungan turut memengaruhi risiko penularan. Penggundulan hutan dan aktivitas manusia yang semakin mendekati habitat satwa liar dapat meningkatkan frekuensi interaksi antara manusia dan hewan pembawa virus. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pemantauan penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah.

Baca juga: Virus Nipah Masih Mengancam, Ini Cara Mengurangi Risiko Penularannya

Tag:  #strain #virus #nipah #indonesia #india #berbeda #artinya

KOMENTAR