Jumlah Kasus Kanker Meningkat, karena Gaya Hidup Modern?
- Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan data Globocan pada 2022, terdapat 408.661 kasus kanker di Indonesia dan total kematian 242.099.
Pola penyakit kanker di Indonesia pun mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dulu jenis kanker tertentu jarang ditemukan, kini kasusnya justru meningkat dan muncul pada usia yang lebih muda, ujar Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP.
“Kanker paru semakin lama semakin banyak, dan kanker usus,” ungkap dia dalam pembukaan pameran seni “Understanding Cancer through Art” yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia dan YKI, dalam merayakan Hari Kanker Sedunia 2026, di Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).
Menurut dr. Aru, perubahan gaya hidup masyarakat berperan besar dalam perubahan pola tersebut, terutama terkait kebiasaan merokok dan konsumsi makanan olahan modern.
Baca juga: WHO Sebut Hampir 40 Persen Kanker di Dunia Bisa Dicegah
Penggunaan rokok di usia dini
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP, dalam pembukaan pameran seni ?Understanding Cancer through Art? yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia dan YKI, dalam merayakan Hari Kanker Sedunia 2026, di Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, ada sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia.
Sebanyak 7,4 persen di antaranya adalah perokok berusia 10-18 tahun. Kelompok anak dan remaja adalah kelompok yang jumlahnya meningkat paling signifikan.
Kelompok usia 15-19 tahun adalah kelompok perokok terbanyak yaitu 56,5 persen, diikuti dengan kelompok usia 10-14 tahun yaitu 18,4 persen.
Menurut dr. Aru, tingginya angka perokok anak di Indonesia menjadi perhatian serius. Sebab, dampaknya tidak hanya jangka pendek, tetapi juga memengaruhi risiko penyakit kronis di masa depan.
Baca juga: Jangan Anggap Remeh Batuk Ringan pada Perokok, Ini Kata Dokter Paru
Ilustrasi rokok, cukai rokok.
“Untuk diketahui, Indonesia boleh ‘bangga’ karena (menjadi) nomor satu di dunia dalam jumlah perokok anak-anak dari 9-12 tahun. Jadi, sudah tahu arahnya ke mana kan? Kanker paru. Semakin lama semakin banyak,” ungkap dia.
Sebab, paparan rokok sejak usia sangat muda membuat tubuh terpapar zat berbahaya lebih lama. Kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker paru kelak.
Baca juga: Ibunda Raisa Meninggal karena Kanker Paru, Kenali 7 Gejala yang Sering Diabaikan
Pola makan kurang sehat
Selain kanker paru, dr. Aru juga menyoroti peningkatan kasus kanker usus besar yang menurutnya sangat berbeda dibandingkan kondisi beberapa dekade lalu.
Ia membandingkan situasi saat awal memulai karier sebagai seorang dokter, dengan kondisi sekarang.
“Kanker usus besar belum masuk hitungan. Sepuluh besar pun enggak. Sekarang sudah nomor tiga (kasus kanker paling sering terjadi di Indonesia),” tutur dr. Aru.
Ia mengaitkan lonjakan tersebut dengan perubahan pola hidup, khususnya pola makan masyarakat modern.
Konsumsi makanan tinggi lemak, rendah serat, serta cara pengolahan yang kurang sehat disebut turut berperan.
Baca juga: Tanda Lemak Tubuh Tinggi yang Perlu Diwaspadai
Kebiasaan mengonsumsi gorengan juga disinggung oleh dr. Aru sebagai salah satu contoh pola makan yang perlu diwaspadai, terutama yang digoreng menggunakan minyak yang sudah berulang kali dipakai.
“Gorengan sendiri bukan penyebab kanker, tapi gorengan dengan minyak yang rusak. Kalau gorengan sendiri di rumah sih enggak,” ucap dia.
Hati-hati dengan makanan ultra proses
Makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF) juga perlu diperhatikan. Sebab, tidak semua diproses secara sehat, lantaran memiliki berbagai bahan tambahan.
Konsumsi jangka panjang makanan jenis ini dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, termasuk kanker saluran cerna alias kanker usus besar.
Baca juga: Konsumsi Makanan Ultra-Proses Meningkat, Ahli Ingatkan Bahayanya
ilustrasi kanker
Usia pasien kanker yang semakin muda
Perubahan pola makan dan gaya hidup juga dinilai memengaruhi usia munculnya kanker, khususnya kanker usus. Pergeseran usia pasien menjadi salah satu hal yang mencolok.
“Banyak yang muda sekarang. Yang dulu sih enggak. Dulu kan selalu umur di atas 60 tahun. Sekarang tuh 40 tahunan sudah kanker. Kanker usus,” kata dr. Aru.
Kondisi ini merupakan dampak kumulatif dari pola hidup tidak sehat yang dijalani dalam waktu lama, mulai dari kebiasaan makan sampai paparan zat berbahaya dari lingkungan.
Perubahan tersebut juga menunjukkan bahwa risiko kanker tidak lagi identik dengan usia lanjut saja. Untuk itu, masyarakat usia produktif juga perlu memberi perhatian lebih terhadap pilihan gaya hidup sehari-hari, sekaligus melakukan pemeriksaan dini.
Baca juga: Makanan Ultra-Proses, Apa Itu dan Mengapa Perlu Dibatasi
Tag: #jumlah #kasus #kanker #meningkat #karena #gaya #hidup #modern