Indonesia Muncul 902 Kali dalam Dokumen Epstein Files: Dari Foto Bali hingga Laporan Soal Pemilu, Begini Penjelasannya!
Kompilasi foto dari dokumen Epstein Files yang menampilkan Bali, memperlihatkan lanskap pantai, pura, dan penginapan. (X/@Fountain30)
10:03
5 Februari 2026

Indonesia Muncul 902 Kali dalam Dokumen Epstein Files: Dari Foto Bali hingga Laporan Soal Pemilu, Begini Penjelasannya!

 

Pengungkapan terbaru jutaan halaman dokumen Epstein Files oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (U.S. Department of Justice/DOJ) memicu gelombang pertanyaan global, terutama setelah terungkap bahwa kata ‘Indonesia’ muncul sedikitnya 902 kali dalam arsip tersebut. 

Angka ini spektakuler, tetapi maknanya jauh lebih rumit daripada sekadar tuduhan atau skandal karena menunjukkan posisi Indonesia dalam jejaring dokumen keuangan, politik, logistik, dan intelijen yang mengitari kasus Jeffrey Epstein.

Sebagai latar belakang, pembukaan jutaan halaman dokumen ini dimungkinkan oleh Epstein Files Transparency Act, yang mewajibkan DOJ merilis sebagian besar bukti yang sebelumnya tertutup bagi publik, termasuk email, memo internal perbankan, laporan FBI, kliping media, dan katalog foto perjalanan. 

Melansir berbagai sumber, penyebutan Indonesia tersebar di berbagai jenis dokumen dan tidak terpusat pada satu isu kriminal tertentu. Laporan tersebut menegaskan bahwa sebagian besar penyebutan itu berkaitan dengan arsip administratif serta analisis geopolitik, bukan bukti tindak pidana. Dengan demikian, angka 902 lebih mencerminkan keluasan cakupan dokumen Epstein Files daripada keterlibatan Indonesia dalam kejahatan Jeffrey Epstein.

Secara konkret, banyak penyebutan Indonesia muncul dalam dokumen perbankan global. Laporan Deutsche Bank (2014) yang bersumber dari Bloomberg mencantumkan Indonesia dalam tabel perbandingan pasar negara berkembang bersama Brasil, India, dan Turki. Dokumen ini menjadi bahan briefing internal yang kemudian terseret ke arsip penyidikan karena berada dalam korespondensi keuangan yang berkaitan dengan jaringan elite internasional.

Demikian pula, laporan JP Morgan (2014) membahas alokasi aset global dan situasi ekonomi Indonesia pascapemilu. Salah satu kutipan yang beredar dalam arsip berbunyi:

“Di pasar negara berkembang, peristiwa politik penting ialah pemilihan presiden di Indonesia; pekan ini KPU menetapkan Joko Widodo sebagai pemenang dengan selisih yang signifikan.” Laporan ini menunjukkan bahwa Indonesia hadir sebagai variabel analisis ekonomi global—bukan sebagai objek kriminal.

Selain ekonomi, Indonesia juga muncul dalam kliping berita internasional yang dilampirkan penyidik sebagai bahan kontekstual, termasuk laporan tentang pandemi Covid-19 dan dinamika politik Asia Tenggara. Namun banyak penyebutan Indonesia dalam dokumen bersifat teknis, seperti faktur pengiriman barang, catatan logistik, dan surat-menyurat administrasi antarnegara.

Dimensi lain yang paling memancing perhatian adalah jejak visual Bali dalam foto-foto yang ada dalam dokumen Epstein. Dalam berkas berlabel EFTA00004477 bertajuk Clinton Far East, terdapat puluhan foto bernama “Bali09.JPG” hingga “Bali50.JPG”. 

Gambar-gambar itu menampilkan pantai, pura, kolam renang resor, paviliun terbuka, dan interaksi dengan warga lokal—semuanya konsisten dengan dokumentasi perjalanan Asia Tenggara pada awal 2000-an.

Dalam berkas lain dengan label EFTA00129111, terdapat foto seorang perempuan dengan keterangan “Sebelum latihan kelompok di Bali.” Lokasi persisnya disensor, sehingga aktivitas yang dimaksud tidak dapat dipastikan maknanya. Hingga saat ini, otoritas AS juga belum mengaitkan gambar tersebut dengan kejahatan seksual Epstein, dan tidak ada bukti publik yang menunjukkan hubungan langsung antara foto ini dan kasusnya.

Nama Bali juga muncul berulang kali, menunjukkan bahwa pulau ini tercatat sebagai titik perjalanan dalam katalog visual, bukan pusat operasi kriminal. Fakta ini penting agar pembaca tidak menyederhanakan isu menjadi narasi konspirasi.

Di sisi tokoh, dokumen Epstein files juga memuat nama Hary Tanoesoedibjo dalam laporan FBI berstatus unclassified (Oktober 2020). Dokumen itu menyebutnya sebagai relasi bisnis Donald Trump yang mengembangkan properti hotel dan sebagai miliarder Indonesia. Namun, hingga kini tidak ada tuduhan kriminal terhadapnya dalam konteks kasus Epstein.

Selain itu, Reuters dalam liputannya menekankan kehati-hatian interpretasi: “Kehadiran nama seseorang dalam Epstein Files tidak otomatis berarti keterlibatan dalam kejahatan; arsip ini adalah mosaik hubungan sosial, bisnis, dan diplomasi global.”

Sementara itu, The Guardian menulis bahwa arsip ini “lebih menyerupai peta jejaring elit transnasional daripada berkas dakwaan tunggal,” dan memperingatkan risiko salah tafsir jika dokumen dibaca tanpa konteks.

Lalu, mengapa nama Indonesia muncul 902 kali? 

Karena arsip Epstein berfungsi seperti database raksasa lintas sektor: mencampur laporan bank, analisis politik, kliping media, korespondensi bisnis, dan katalog perjalanan. Negara-negara besar—termasuk Indonesia—tak terelakkan tercatat di dalamnya.

Namun, satu hal jelas: tidak ada bukti dalam rilis publik yang menuduh Indonesia terlibat dalam kejahatan Epstein. Penyebutan ratusan kali lebih mencerminkan posisi Indonesia dalam ekonomi global dan jejaring informasi internasional.

Meski demikian, temuan ini tetap penting. Hal ini menunjukkan bagaimana Indonesia dipandang sebagai pemain signifikan dalam pasar negara berkembang, sekaligus mengingatkan bahwa arsip global dapat menggabungkan data netral dan sensitif dalam satu wadah.

Di tengah sorotan global yang kian meluas, peneliti dan organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah AS merilis dokumen Epstein secara utuh tanpa sensor berlebihan terhadap pihak-pihak yang memiliki keterkaitan nyata dengan kejahatannya. 

Bagi para korban, keterbukaan penuh adalah syarat dasar keadilan, dan bagi publik dunia langkah ini krusial untuk membongkar cara kerja jaringan kekuasaan global sekaligus memastikan bahwa siapa pun yang terlibat tidak hanya terekspos, tetapi benar-benar menghadapi konsekuensi hukum yang nyata.

***

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #indonesia #muncul #kali #dalam #dokumen #epstein #files #dari #foto #bali #hingga #laporan #soal #pemilu #begini #penjelasannya

KOMENTAR