Sorotan Mensesneg Atas Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT, Kepala Desa Diminta Lebih Sering Pantau Warga Rentan
Surat siswa SD di NTT dan artinya. (Instagram)
11:16
5 Februari 2026

Sorotan Mensesneg Atas Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT, Kepala Desa Diminta Lebih Sering Pantau Warga Rentan

- Peristiwa tragis di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Kasus itu mendapat sorotan dan keprihatinan dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.

Menyikapi kejadian itu, Prasetyo dengan tegas meminta kepala desa dan perangkat wilayah lebih berperan aktif dalam memantau kelompok masyarakat rentan.

Menurut Prasetyo, kepala desa dan kepala dusun harus secara proaktif mengawasi kondisi warganya, terutama mereka yang belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan tidak ada warga yang luput dari perhatian negara.

Dia menekankan pengawasan dan pelaporan aktif dari tingkat desa dan kelurahan akan sangat membantu pemerintah pusat dalam mempercepat upaya pengentasan kemiskinan serta memastikan kehadiran negara dirasakan hingga lapisan masyarakat paling bawah.

"Kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2).

Prasetyo berharap pemantauan yang konsisten di tingkat desa dapat mencegah terulangnya peristiwa-peristiwa memprihatinkan seperti yang baru saja terjadi di Kabupaten Ngada, NTT.

Sebab, publik belakangan ini dikejutkan oleh kabar seorang siswa SD di Kabupaten Ngada yang meninggal dunia diduga karena tekanan ekonomi. Anak tersebut disebut tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolahnya.

“Kami memastikan, kalaupun belum bisa kita berdayakan secara mandiri, tetapi kehadiran atau intervensi pemerintah harus kita pastikan untuk menyentuh ke seluruh lapisan, terutama yang paling bawah, sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tegas Prasetyo.

Dia menambahkan, peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah dalam menilai efektivitas kebijakan pengentasan kemiskinan yang selama ini dijalankan.

“Ini bagian dari yang harus kita evaluasi secara menyeluruh. Masalah pendataan, masalah laporan, termasuk kepedulian sosial kita,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, duka mendalam menyelimuti warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS, 10, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh.

Peristiwa pilu ini bermula dari permintaan sederhana. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun, karena keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak mampu memenuhi permintaan tersebut.

Ayah YBS diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.

Tragedi ini semakin memilukan setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut ditujukan kepada ibunya, berisi pesan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Di bagian akhir surat, terdapat gambar sederhana menyerupai emoji wajah menangis.

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #sorotan #mensesnegatas #kasus #anak #bunuh #diri #nttkepala #desa #dimintalebih #sering #pantau #warga #rentan

KOMENTAR