Pengguna di AS Hapus Akun TikTok Berjemaah, Ada Apa?
- Belakangan ini, muncul kabar yang cukup menghebohkan dari para pengguna TikTok di Amerika Serikat (AS). Mereka dilaporkan berbondong-bondong meninggalkan dan menghapus akun TikTok.
Seruan menghapus akun TikTok berjamaah ini bermunculan di media sosial, khususnya Threads. Sebagian besar dari mereka tampak kecewa dengan kebijakan baru dari aplikasi yang hampir diblokir di AS pada awal tahun lalu itu.
Baca juga: Viral Gambar “How I Treat ChatGPT” di TikTok, Begini Cara Bikinnya
Hapus akun TikTok berjemaah
Di platform Threads, beberapa pengguna di AS secara terbuka mengumumkan bahwa mereka telah menghapus akun TikTok karena tidak lagi merasa nyaman menggunakan aplikasi tersebut.
Pengguna Threads dengan akun @bookwormshayhudr, misalnya, menulis bahwa ia memutuskan menghapus akun TikTok karena masa tidak aman.
"Saya menghapus akun TikTok saya. Saya tidak merasa itu bijak, juga tidak aman untuk tetap menggunakannya. Itu perjalanan yang menyenangkan, tapi bukan seperti ini," tulisnya.
Pengguna lain, dengan handle nama @awesomelybrie, ikut menyuarakan sembari membagikan tangkapan layar pemberitahuan pembaruan ketentuan layanan dan kebijakan TikTok.
"Ini resmi. TikTok telah berpindah kepemilikan ke entitas korporasi AS. Jangan klik Setuju. Tutup aplikasinya. Ini akhir dari era itu," tuturnya.
Nada yang lebih keras ikut disampaikan oleh pengguna dengan akun @barrettpall, yang meminta pengguna lain agar segera meninggalkan platform TikTok.
"HAPUS TIKTOK. Kaki tangan Trump secara resmi telah membeli TikTok. Teman-teman, tidak sepadan untuk tetap berada di sana," tulisnya, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Newsweek.
Ketidaknyamanan para pengguna di AS di atas sehingga memutuskan meninggalkan dan menghapus akun TikTok dipicu karena kebijakan baru yang diterapkan aplikasi ini.
Bahkan menurut lembaga riset pasar Sensor Tower, rata-rata harian pengguna AS yang menghapus aplikasi TikTok meningkat hampir 150 persen selama lima hari sejak kebijakan baru berlaku, dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.
Kebijakan baru TikTok di AS
Dalam kebijakan baru, TikTok membentuk entitas anyar bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Entitas tersebut dibentuk dalam rangka mematuhi Perintah Eksekutif yang ditandatangani Donald Trump pada September 2025.
Baca juga: Babak Akhir Drama Pemblokiran TikTok, AS-China Teken Kesepakatan Divestasi
Dalam pembaruan yang diunggah pada 23 Januari lalu, TikTok menjelaskan bahwa entitas baru ini dibuat agar lebih dari 200 juta warga dan 7,5 juta pelaku bisnis di AS tetap dapat menggunakan aplikasi tersebut dengan pengamanan keamanan nasional yang diperketat.
TikTok menyebut bahwa mereka akan beroperasi di bawah pengamanan yang ditetapkan, mencakup perlindungan data pengguna, keamanan algoritma, moderasi konten, serta jaminan perangkat lunak bagi pengguna di Amerika.
"Mengamankan data pengguna AS, aplikasi, serta algoritma melalui langkah-langkah privasi data dan keamanan siber yang menyeluruh," tulis TikTok dalam pernyatan resminya.
Perusahaan patungan yang mayoritas dimiliki oleh pihak AS itu juga menegaskan komitmen mereka dalam menjaga ekosistem konten dengan kebijakan yang lebih kuat, praktik moderasi yang ditingkatkan, serta dan laporan transparansi platform.
Reaksi negatif dari pengguna
Meski kebijakan tersebut terlihat meyakinkan karena diklaim bisa memperkuat pengamanan data, pembaruan ini justru memicu reaksi negatif dari sebagian pengguna.
Menurut video laporan outlet media TIME, banyak pengguna TikTok di AS mengaku mendapati pembaruan terms of service dan kebijakan privasi baru saat membuka aplikasi pada Kamis pekan lalu.
Berdasarkan pengakuan mereka, pembaruan itu langsung berlaku tanpa ada opsi untuk menolak. Pengguna hanya diberi pilihan untuk menyetujui kebijakan baru atau berhenti menggunakan aplikasi.
Pilihan tersebut lantas mendorong sebagian pengguna untuk mengambil langkah ekstrem, yakni menghapus akun dan aplikasi TikTok sepenuhnya. Keputusan ini dianggap menjadi cara paling aman di tengah perubahan kebijakan yang dinilai kurang transparan.
Kekhawatiran pengguna semakin menguat setelah mencermati bagian rincian aturan (fine print) dalam kebijakan privasi terbaru TikTok. Pada bagian tersebut, TikTok menyatakan dapat mengumpulkan lebih banyak data penggunanya.
Adapun salah satu yang disebutkan yaitu terkait lokasi. TikTok mengeklaim, apabila pengguna mengaktifkan layanan lokasi di dalam aplikasi, mereka dapat mengakses informasi lokasi tersebut, baik berupa perkiraan maupun lokasi presisi.
Baca juga: TikTok Diam-diam Rilis Aplikasi Khusus Video Drama Pendek 90 Detik
Selain itu, kebijakan privasi terbaru TikTok juga menyebut kemungkinan pengolahan informasi sensitif lainnya, yang mencakup status kewarganegaraan, orientasi seksual, serta informasi terkait identitas gender pengguna.
Ketentuan ini disebut berbeda dari kebijakan TikTok sebelumnya. Pada aturan lama, TikTok secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak mengumpulkan informasi apapun, termasuk data lokasi hingga hal sensitif penggunanya.