Pengobatan Obesitas, dari Suntikan Kini Hadir Versi Pil
Ilustrasi Hari Anti Obesitas 26 November: Sejarah, Makna, dan Peringatannya(canva.com)
13:50
5 Februari 2026

Pengobatan Obesitas, dari Suntikan Kini Hadir Versi Pil

Sejak kehadiran obat berbasis Glucagon-Like Peptide 1 atau Semaglutide, penanganan obesitas mengalami perubahan, dari sekedar diet dan olahraga, menjadi terapi medis terarah. 

Para pakar kesehatan sepakat, obesitas memang harus diatasi karena penyakit ini berkaitan erat sebagai faktor risiko dari penyakit tidak menular berbahaya, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker. 

Semaglutide disebut sebagai salah satu terobosan paling revolusioner dalam terapi obesitas dalam satu dekade terakhir. Obat ini dikenal mampu membantu penurunan berat badan secara signifikan melalui mekanisme pengaturan nafsu makan dan metabolisme. 

Baca juga: Mengenal Ozempic, Obat Diabetes yang Berubah Jadi Pelangsing Populer

Tersedia dalam bentuk pil

Selama ini, Semaglutide dipakai dalam bentuk suntikan mingguan dengan resep dokter. Kini, perkembangannya memasuki babak baru, semaglutide mulai tersedia dalam bentuk pil.

Pada 22 Desember 2025, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui versi oral obat Wegovy dari perusahaan farmasi Novo Nordisk, menjadikannya pil pertama dari obat GLP-1 populer yang mendapat lampu hijau untuk penurunan berat badan. 

Orang yang ingin menurunkan berat badan dan diresepkan Wegovy sekarang memiliki pilihan untuk mengonsumsi tablet setiap hari, dibandingkan dengan menyuntikkan obat tersebut sekali seminggu. 

Baca juga: Olahraga Tanpa Takut Dihakimi, Gendut Berlari Buka Ruang Aman bagi Obesitas

Penelitian juga menunjukkan, dalam bentuk injeksi atau oral, hasilnya sama-sama efektif. Penurunan berat badan berkisar antara 17 persen dari berat badan awal.

Sediaan pil juga membuka peluang akses yang lebih praktis dan nyaman bagi pasien yang membutuhkan terapi jangka panjang.

Kehadiran obat oral itu disambut baik oleh pasar. Data IQVIA yang dikutip Reuters pada 23 Januari 2026 mencatat bahwa obat tersebut memperoleh 18.410 resep dalam pekan pertama diluncurkan. 

Baca juga: Kurang Tidur Sebabkan Obesitas? Ini Penjelasan Pakar

Ilustrasi obat, produk farmasi.PIXABAY/MICHAL JARMOLUK Ilustrasi obat, produk farmasi.

Kasus obesitas di Indonesia

Tingkat kelebihan berat badan dan obesitas telah meningkat lebih dari dua kali lipat selama tiga dekade terakhir, dengan jumlah lebih dari 1 miliar orang, menjadikannya sebagai epidemi global. 

WHO memperkirakan angka obesitas terus meningkat hingga dua kali lipat pada 2030 jika tak ada intervensi kuat dan berkelanjutan.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 oleh Kementrian Kesehatan menunjukkan prevalensi berat badan berlebih sekitar 37,8 persen.

Baca juga: Kebijakan Visa AS Makin Ketat: Diabetes dan Obesitas Terancam Ditolak

Obesitas terjadi karena penumpukan lemak berlebihan dalam tubuh. Obesitas bukan cuma disebabkan konsumsi gula, garam, dan lemak tinggi, tetapi juga kurangnya konsumsi sayur dan buah serta aktivitas fisik. 

Perkembangan terapi obesitas menjadi referensi penting dalam merancang kebijakan pengelolaan obesitas yang lebih adaptif. 

Meski begitu, para pakar mengingatkan bahwa obat—dalam bentuk apa pun tidak bisa menjadi solusi tunggal. Upaya pencegahan lewat perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan edukasi kesehatan tetap menjadi fondasi utama. 

Inovasi pengobatan sebaiknya dilihat sebagai pelengkap dalam strategi kesehatan masyarakat yang menyeluruh, bukan pengganti perubahan gaya hidup.

Baca juga: 4 Tips Olahraga Aman bagi Penderita Obesitas, Dokter Sarankan Latihan Ritmik dan Terukur

Tag:  #pengobatan #obesitas #dari #suntikan #kini #hadir #versi

KOMENTAR